apijiwa.id – Semarak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia di halaman Musala Thoriqul Ikhlas, Desa Bugel, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, pada Minggu (16/8/2026) terasa begitu istimewa, dengan kehadiran pendongeng nasional Kak Kempho Antaka. Kehadiran Ketua Umum Persaudaraan Pencerita Muslim Indonesia (PPMI) Pusat itu menjadi bagian dari rangkaian Festival Kemerdekaan Anak Saleh ke-1 yang digelar secara sederhana namun meriah.
Acara yang diprakarsai oleh Dewan Kemakmuran Musholla (DKM) Thoriqul Ikhlas ini memadukan aneka perlombaan anak dengan pesan-pesan nilai kejuangan. Ketua DKM Thoriqul Ikhlas, Badiatul Muchlisin Asti, menegaskan bahwa festival ini merupakan wahana untuk mengajak anak-anak mensyukuri nikmat kemerdekaan serta meneladani semangat para pahlawan.
“Anak-anak perlu diajak mengenang perjuangan para pahlawan agar mereka mampu menghargai sekaligus menyerap nilai-nilai kejuangan yang diwariskan kepada generasi berikutnya,” tutur Badiatul.
Ia menekankan pentingnya pengenalan sosok pahlawan sejak dini agar anak-anak tidak kehilangan jati diri. Menurutnya, sejarah perjuangan bangsa tidak lepas dari peran ulama, santri, serta tokoh-tokoh seperti Pangeran Diponegoro hingga R.A. Kartini yang memberi teladan sesuai zamannya.
“Apa jadinya bila anak-anak tidak mengenal mereka? Mereka bisa menjadi generasi yang terputus dari sejarah bangsanya sendiri,” jelasnya.
Sebelum sesi dongeng dimulai, anak-anak tampak antusias mengikuti berbagai kompetisi, seperti lomba menata piring dengan mata tertutup yang penuh keceriaan, hingga lomba Rangking 1 yang menguji wawasan kebangsaan dan keislaman.
Suasana semakin hidup saat Kak Kempho bersiap membawakan dongeng. Menggunakan teknik visual storytelling yang ekspresif dan komunikatif, Kak Kempho membawa para peserta membayangkan ketegangan Agresi Militer Belanda II di Yogyakarta. Melalui tutur katanya, ia mengenalkan sosok Panglima Besar Jenderal Soedirman yang pantang menyerah memimpin perang gerilya dalam kondisi sakit.
Pesan heroik tersebut kemudian ditarik ke dalam konteks kehidupan sehari-hari anak-anak melalui karakter rekaan bernama Mulia. Melalui tokoh Mulia, Kak Kempho menanamkan pemahaman bahwa sikap pahlawan masa kini bisa diwujudkan dengan hal-hal sederhana, seperti suka menolong, peduli, dan berani berbuat baik. Nilai tersebut dicontohkan secara konkret saat tokoh Mulia menolong seekor kucing yang terjebak di dalam sebuah lubang.
Melihat respons dan antusiasme peserta, Badiatul Muchlisin Asti berharap kegiatan ini dapat rutin diselenggarakan setiap tahun. “Harapannya, tahun depan festival ini bisa kembali digelar dengan lebih semarak, lebih banyak kegiatan, dan semakin banyak anak yang ikut serta,” pungkas Badiatul.











