apijiwa.id – Bagi telinga awam, kata “Becek” mungkin membangkitkan citra visual yang kurang sedap: jalanan yang berair, berlumpur, dan kotor usai diguyur hujan. Namun, di Kabupaten Grobogan, kata ini adalah undangan bagi indra perasa untuk berpesta.
Becek bukan sekadar nama, melainkan sebuah identitas kuliner yang kembali menemukan panggung utamanya pada Festival Kuliner Grobogan tahun 2015. Acara yang diinisiasi oleh Komunitas Pelestari Budaya Grobogan (KPBG) di Alun-alun Purwodadi tersebut menjadi tonggak sejarah penting—bertepatan dengan hari jadi Kabupaten Grobogan ke-289—yang memopulerkan kembali hidangan ini dari meja-meja perdesaan ke tengah hiruk-pikuk masyarakat modern.
Simbol Kemewahan
Jauh sebelum ia menghiasi buku menu warung dan rumah makan, Becek adalah representasi kemewahan bagi masyarakat Grobogan tempo dulu, terutama yang tinggal di perdesaan. Hidup dalam rumah-rumah berdinding papan atau gedhek (anyaman bambu) dengan pekarangan luas, masyarakat desa menjalani hidup yang bersahaja.
Protein hewani bukanlah menu harian; hewan ternak seperti sapi, kerbau, atau kambing yang ada di kandang belakang rumah dianggap sebagai “tabungan hidup” yang hanya akan disembelih untuk peristiwa sakral.
Becek muncul sebagai wujud syukur dalam acara hajatan—seperti mantenan (pernikahan) dan sunatan (khitanan)—maupun dalam tradisi agraris. Di Desa Cingkrong, Kecamatan Purwodadi, Becek menjadi menu istimewa saat panen padi, kontras dengan menu harian tanpa daging saat fase ndaut (mencabut bibit), tandur (menanam), atau matun (menyiangi rumput).
Semangat gotong royong ini tercermin dalam budaya rewang (membantu tetangga yang punya hajat) dan sambatan (gotong royong membangun rumah). Kesederhanaan gaya hidup seperti itulah yang menjadikan orang desa tempo dulu hidup dalam kedamaian karena selalu menyukuri hidup. Nrima ing pandum.
Etimologi yang Tak Terduga
Secara sosiologis, penamaan “Becek” berkaitan erat dengan fungsi hidangan ini sebagai jamuan masal. Dalam sebuah hajatan, tamu datang silih berganti bak arus lalu lintas yang tak putus. Agar semua tamu kebagian, juru masak secara praktis memperbanyak porsi kuah. Nasi yang disajikan pun menjadi tergenang atau “becek” oleh kuah yang melimpah.
Konsep masakan Becek sendiri dirancang simpel agar mudah dibuat dalam waktu singkat. Hal ini penting untuk menghindari kondisi kompal (persediaan makanan habis sementara tamu masih banyak), sehingga dapur bisa segera memproduksi ulang tanpa membuat tamu menunggu lama.
Karakteristik utama Becek adalah kuahnya yang bening, segar, gurih, dan memiliki sentuhan asam yang tajam. Rahasia rasa asam ini tidak berasal dari asam jawa atau cuka, melainkan dari penggunaan daun kedondong dan daun dayakan.
Sayangnya, seiring perubahan lingkungan, pohon dayakan yang dulu tumbuh subur di hutan Gunung Kendeng kini mulai sulit ditemukan, sehingga masyarakat modern lebih banyak mengandalkan daun kedondong.
Keistimewaan Becek terletak pada penggunaan balungan atau iga sapi (terkadang kerbau atau kambing) yang dimasak dengan bumbu-bumbu dasar berikut:
- Bawang merah dan Bawang putih
- Kemiri dan Ketumbar
- Cabai (untuk sensasi pedas)
Untuk mendapatkan pengalaman rasa yang autentik, Becek tidak boleh dinikmati sendirian. Ia biasa didampingi oleh trio kondimen khas: kering tempe, oseng cabe hijau, dan kacang tolo. Perpaduan kuah segar dengan lauk pauk ini menciptakan simfoni rasa yang tak terlupakan.
Becek Grobogan vs Nganjuk
Seringkali terjadi kerancuan bagi pelancong kuliner dalam membedakan Becek Grobogan dengan Sega Becek dari Nganjuk, Jawa Timur. Padahal, keduanya adalah dua entitas yang berbeda secara diametral, mencerminkan kearifan lokal masing-masing daerah.
| Komponen | Becek khas Grobogan | Sega Becek khas Nganjuk |
| Kuah | Bening/Tanpa santan (dominan segar) | Bersantan kental (mirip kari/gulai) |
| Protein Utama | Iga (Balungan) Sapi, Kerbau, atau Kambing | Daging Kambing (seringkali dari sate) |
| Rasa Dominan | Segar, Gurih, dan Asam (Daun Kedondong) | Gurih Berempah Pekat |
| Pelengkap | Kering Tempe, Oseng Cabe, Kacang Tolo | Soto Babat dan Potongan Bawang Merah |
Seiring masuknya budaya kota ke perdesaan, jasa katering dan menu prasmanan modern sempat menggeser posisi Becek dalam pesta-pesta warga. Namun, pasca tahun 2000-an, Becek mengalami renaisans. Ia keluar dari dapur-dapur tradisi desa—seperti tradisi Barikan di Desa Godan—menuju etalase rumah makan di pusat kota.
Gempita media sosial, khususnya Facebook, berperan besar dalam transformasi ini. Unggahan foto dan testimoni para penikmat kuliner menghidupkan kembali memori kolektif warga Grobogan di perantauan maupun di kampung halaman. Becek kini bukan lagi sekadar menu sisa tradisi, melainkan primadona yang diburu oleh wisatawan dan pecinta kuliner Nusantara.
Becek adalah rekam jejak sosiologis masyarakat Grobogan tentang rasa syukur dan hubungan harmonis dengan alam. Ia adalah bukti bahwa kesederhanaan bahan lokal, jika diolah dengan nilai-nilai tradisi, mampu melampaui zaman. Namun, sebuah tantangan besar tetap membentang di depan mata kita.
Di tengah gempuran menu katering modern yang serba seragam, mampukah hidangan tradisional seperti Becek tetap menjadi “tuan rumah” di tanah kelahirannya sendiri, ataukah ia hanya akan berakhir sebagai konten nostalgia di layar gawai kita? Wallahu a’lam.












