apijiwa.id – Dalam labirin kehidupan, rencana-rencana yang kita susun dengan rapi seringkali harus tunduk pada skenario takdir yang lebih besar. Bagi Supardi, remaja asal Sambak, Purwodadi, Grobogan, cita-citanya telah terpaku mati: ia ingin menjadi dokter. Namun, sebuah peristiwa usai kemping SMA memutarbalikkan segalanya. Serangan tifus yang hebat melumpuhkan tubuhnya, menyisakan raga yang ringkih dan tak berdaya.
Di ambang masa kritis, Supardi tidak sekadar bertarung melawan rasa sakit, tetapi juga menyaksikan sebuah pemandangan yang menggetarkan batin: ketulusan sang ibu yang merawatnya tanpa batas. Dalam dekapan kasih itulah, ia tersentak oleh sebuah kesadaran. Di atas tempat tidur, ia melangitkan janji suci kepada Sang Pencipta: jika ia diberi kesempatan untuk sembuh dari sakit, ia tak akan lagi hidup demi ambisi pribadi, melainkan demi menjadi “pelayan” bagi sesama manusia.
Putar Haluan Cita-Cita
Bagi banyak orang, beralih dari impian menjadi dokter ke profesi polisi mungkin tampak seperti putar haluan yang drastis. Namun, Supardi memiliki sudut pandang lain yang lebih dalam. Saat merantau ke Sulawesi Selatan dan melihat peluang seleksi kepolisian, ia menyadari bahwa meski instrumen pengabdiannya berubah, “simfoni pelayanan” yang ingin ia perankan tetaplah sama.
Niat tulus untuk membantu sesama—yang awalnya menjadi motivasi utama menjadi dokter—kini menemukan wadah baru dalam seragam cokelat. Ia meyakini bahwa jika dokter melayani melalui aspek kesehatan, maka polisi melayani melalui keamanan dan pengayoman. Baginya, kedua profesi ini memiliki esensi yang identik: menjadi jalan bagi kemaslahatan umat. Di titik inilah, doa yang ia langitkan saat sakit kembali bergema,
“Ya Allah, hamba mohon kesembuhan. Jadikanlah hamba pribadi yang berguna bagi masyarakat luas.”

Saat kembali ke tanah Jawa dan bertugas di Demak pada 2002, Iptu Supardi menyaksikan tantangan klasik: citra polisi yang kerap dianggap “angker” oleh masyarakat. Alih-alih melawan stigma tersebut dengan pendekatan kaku, ia memilih pendekatan yang hangat melalui “diplomasi meja makan”.
Iptu Supardi menghidupkan kembali pos-pos polisi yang sepi dengan menyajikan Sega Pecel Gambringan gratis setiap hari Jumat. Strategi ini bukan sekadar bagi-bagi makanan, melainkan upaya sadar untuk meruntuhkan tembok pembatas antara aparat dan rakyat.
Di balik aroma bumbu kacang dan obrolan santai, ia membumikan konsep “Polisi Presisi”. Pos polisi yang tadinya dihindari kini bertransformasi menjadi ruang silaturahmi yang akrab, membuktikan bahwa polisi benar-benar “balane dhewe” (teman sendiri).
Sebagai inisiator gerakan Jumat Bersedekah (JB) Indonesia yang resmi terorganisir sejak 5 Maret 2018, Iptu Supardi membentuk unit unik bernama “Cyber JB”. Meski namanya terdengar seperti unit peretas, pasukan ini justru bertugas “meretas” kekotoran di rumah ibadah.
Ada logika mulia di balik unit ini. Para relawan yang direkrutnya melakukan aksi bersih-bersih masjid pada Malam Kamis. Pilihan waktu ini sangat spesifik: agar tidak mengganggu kekhusyukan jemaah pada puncak ibadah Malam Jumat maupun salat Jumat. Dengan demikian, saat fajar Jumat menyapa, masjid sudah dalam keadaan harum dan bersih, siap menyambut para tamu Allah.
Polisi Nyah Nyoh
Kini, gerakan JB telah berkembang pesat melampaui sekadar berbagi nasi bungkus di masjid-masjid setiap hari Jumat, namun juga melalui berbagai pilar pengabdian, seperti penyaluran sembako gratis dan santunan anak asuh secara konsisten, pembagian makanan saat terjadi bencana banjir, juga pendirian Rumah Al-Qur’an, masjid dan musala Bhayangkara sebagai pusat ibadah dan pembelajaran agama tanpa biaya.
Kini, publik mengenal Iptu Supardi dengan julukan hangat “Ndan JB” atau “Polisi Nyah Nyoh“—sebuah istilah Jawa untuk sosok yang sangat dermawan dan gemar berbagi. Julukan ini bukanlah sekadar label, melainkan cerminan nyata dari caranya berdakwah.
Di sela-sela ceramahnya yang santai dan penuh humor, ia seringkali secara spontan membagikan sedekah kepada jemaah, terutama anak-anak, sebagai bentuk nyata dari pesan kebaikan yang ia sampaikan.
Ia membuktikan bahwa dakwah tidak melulu soal podium, melainkan soal integritas dan aksi nyata. Melalui dukungan mentor dan penasihatnya, Irjen Pol. (Purn) Prof. Dr. Eko Indra Heri, S.I.K., M.M., Iptu Supardi konsisten menyebarkan pesan keagamaan dengan pendekatan yang merangkul, bukan memukul.
“Aja leren dadi wong apik, polisi balane dhewe.”
Slogan ini menjadi warisan batin bagi siapa pun yang mendengarnya. “Aja leren dadi wong apik” (Jangan berhenti menjadi orang baik) adalah pengingat bahwa kita tidak pernah tahu amal mana yang akan mengantarkan kita ke surga. Sementara “polisi balane dhewe” adalah komitmen pribadinya untuk terus menghadirkan wajah kepolisian yang religius dan bermanfaat nyata bagi rakyat.
Kisah Iptu Supardi mengajarkan kita bahwa profesi hanyalah kendaraan, namun pengabdian adalah tujuannya. Dari seorang remaja yang pernah terbaring lemas karena tipes hingga menjadi penggerak sosial, kunci utamanya adalah istikamah—konsistensi untuk terus memberi dan berbagi.
Memulai kebaikan tidak memerlukan kedudukan yang tinggi, melainkan ketulusan hati untuk berbagi kepada sesama. Di tengah kepadatan rutinitas profesi, setiap individu sejatinya memiliki kesempatan untuk menemukan cara uniknya masing-masing dalam memberikan pelayanan dan manfaat bagi orang lain.
Sebagaimana pesan Iptu Supardi: Teruslah menebar manfaat, dan jangan pernah lelah menjadi orang baik.













