Advertisement

apijiwa.id – Bayangkan kota Semarang bukan sekadar deretan bangunan tua yang membisu, melainkan sebuah teka-teki besar yang potongan-potongannya terserak di berbagai sudut zaman. Untuk menyusun teka-teki itu menjadi sebuah narasi identitas yang utuh, dibutuhkan ketekunan luar biasa dari seseorang yang benar-benar mencintai tanah kelahirannya.

Nama itu adalah Amen Budiman. Ia bukan sekadar penulis; ia adalah sosok di balik julukan “native writer” sejarah Semarang yang mendedikasikan hidupnya untuk memburu masa lalu demi masa depan kotanya.

Sejarawan Autodidak dengan Jangkauan Global

Lahir di Kampung Jeruk Kingkit, Kota Semarang, pada 24 Mei 1948, Amen Budiman membuktikan bahwa gairah intelektual tidak selalu lahir dari bangku akademis formal. Sebagai putra asli daerah, ia menyelami sejarah Semarang secara autodidak dengan kedalaman yang mengejutkan.

Julukan “native writer” yang disematkan budayawan Djawahir Muhammad kepadanya bukanlah tanpa alasan. Kedekatan Amen dengan geografi kampungnya dan perannya sebagai edukator publik melalui kolom mingguan di Suara Merdeka selama bertahun-tahun menjadikan risetnya terasa “organik”—sebuah narasi yang ditulis dari dalam, oleh orang yang menghirup udara yang sama dengan sejarah yang ia tulis.

Buku “Semarang Riwayatmu Dulu” (1978) karya Amen Budiman yang merupakan kompilasi tulisannya di Suara Merdeka periode 1975-1977. (Badiatul Muchlisin Asti)

Dedikasinya pun melampaui batas nasional. Pada tahun 1977, demi mengejar akurasi sumber primer, ia bertolak ke mancanegara untuk menelusuri arsip-arsip yang tersimpan di luar negeri. Baginya, sejarah Semarang adalah warisan dunia yang harus digali dengan standar global.

Kontroversi Tanggal Lahir Semarang: Politik vs Sejarah

Salah satu sumbangsih Amen Budiman yang paling berani—dan terus ia pertahankan hingga akhir hayatnya—adalah polemik mengenai hari jadi kota kelahirannya. Di tengah arus utama yang merayakan ulang tahun Semarang setiap 2 Mei, Amen berdiri teguh pada kebenaran data sejarah di atas kepentingan seremonial.

Ia menilai penetapan tanggal 2 Mei 1547 (saat pelantikan Pandanaran II) adalah produk politik kekuasaan, bukan titik mula keberadaan sebuah masyarakat. Amen berpegang pada tahun 1476 sebagai tahun berdirinya Semarang, saat Made Pandan (Ki Pandanaran I) pertama kali menata pemerintahan di wilayah perbukitan Mugas dan Bergota.

Argumennya diperkuat oleh bukti tak terbantahkan: buku Suma Oriental karya Tomi Pires yang ditulis antara tahun 1512-1515. Secara logika, jika pada 1512 Semarang sudah tercatat dalam dokumen internasional, maka menjadikannya “lahir” pada 1547 adalah anomali sejarah yang nyata.

Ada celah waktu sekitar 35 tahun yang diabaikan demi kepentingan politik saat itu. Bagi Amen Budiman, “Hari jadi kota Semarang tanggal 2 Mei 1547 bukanlah produk sejarah, melainkan produk politik.”

Menjadikan Pernikahan Sendiri sebagai Aksi Budaya

Komitmen Amen terhadap “kebenaran sejarah” tidak berhenti di atas kertas; ia menghidupinya dalam laku personal. Transisi dari seorang peneliti yang kritis menuju praktisi budaya yang hangat terlihat jelas saat ia meminang Eko Setowati, pujaan hatinya asal Pati.

Amen menjadikan upacara pernikahannya sendiri sebagai panggung pelestarian dengan mengadopsi adat “Manten Kaji”—sebuah tradisi pernikahan khas Semarang yang saat itu sudah mulai tergerus zaman.

Langkah ini adalah bentuk pernyataan bahwa budaya harus dipraktikkan, bukan hanya didiskusikan. Melalui paguyuban Kembang Goyang yang didirikannya, Amen juga berperan sebagai impresario kesenian Gambang Semarang.

Ia menciptakan wadah di mana peragaan busana pengantin kuno, pameran foto, dan diskusi sejarah bisa berpadu harmonis, memastikan ruh Semarang tetap berdenyut dalam keseharian masyarakatnya.

Pelopor Festival Kuliner “Kampung” Pertama di Semarang

Amen Budiman adalah orang pertama yang memiliki visi membawa aroma sedap dari gang-gang sempit perkampungan ke dalam aula megah hotel berbintang. Melalui “Pameran Masakan Khas Semarang Tempo Doeloe” tahun 1978 dan festival besar tahun 1991, ia mengangkat derajat kuliner tradisional yang tadinya hanya dianggap “makanan warung” menjadi aset pariwisata yang prestisius.

Bersama sahabatnya, Jongkie Tio, Amen melakukan riset mendalam dengan memburu para ahli masak kuno demi menyelamatkan resep-resep autentik. Berkat jasanya, lidah masyarakat modern kembali mengenal cita rasa legendaris yang sempat hampir punah.

Beberapa kuliner ikonik yang ia populerkan kembali antara lain: Rondo royal, loro gudik, ganjelrel, mento, cemplung, bolang-baling, kue mangkok, bir Semarang, wedang tahu, lunpia, dawet, dan tahu pong.

Akhir Perjalanan di Tempat Sejarah Dimulai

Sang pemburu masa lalu ini akhirnya beristirahat selamanya pada tahun 1996. Secara simbolis, Amen Budiman dimakamkan di TPU Bergota—sebuah lokasi yang sangat puitis mengingat di bukit itulah ia meyakini sejarah permukiman Semarang bermula. Ia kembali ke tanah yang ia bela habis-habisan identitasnya.

Ia meninggalkan warisan intelektual yang masif. Bukunya, Semarang Riwayatmu Dulu (1978), yang merupakan kompilasi tulisannya di Suara Merdeka periode 1975-1977, tetap menjadi rujukan wajib hingga kini. Begitu pula dengan Semarang Juwita (1979), yang tercatat sebagai buku foto pertama tentang Kota Semarang, memberikan kita jendela visual untuk melongok wajah kota di masa silam.

Amen Budiman telah meletakkan batu fondasi bagi pencarian identitas Semarang melalui keteguhan prinsip dan kerja budaya yang nyata. Ia mengajarkan bahwa mencintai kota berarti berani membela sejarahnya, merawat tradisinya, hingga menghargai setiap suapan makanan khasnya.

Kini, di tengah deru modernitas dan pembangunan yang kian masif, sebuah pertanyaan reflektif muncul bagi kita: sejauh mana kita bersedia meluangkan waktu untuk mengenali dan menjaga jejak-jejak sejarah lokal yang telah diwariskan dengan penuh peluh oleh para pendahulu kita? Karena tanpa sejarah, sebuah kota hanyalah tumpukan semen dan beton yang tak punya jiwa.

Facebook Comments Box

Penulis: Badiatul Muchlisin AstiEditor: Badiatul Muchlisin Asti

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.