| Informasi Buku | Detail Spesifikasi |
| Judul | Jawa yang Monumental |
| Penulis | J.F. Scheltema |
| Penerbit | IRCiSoD |
| Tahun Terbit | 2025 |
| Jumlah Halaman | 310 hlmn |
| ISBN | 978-634-7157-03-04 |
apijiwa.id – Di tengah situasi sosial-politik negeri yang kian dinamis dan kerap memicu kejenuhan, media sosial seringkali dipenuhi oleh diskursus serta janji-janji politik dari para figur publik. Namun, di antara riuhnya lini masa tersebut, sebuah iklan buku bertema kultural garapan J.F. Scheltema berjudul Jawa yang Monumental berhasil mencuri perhatian.
Bagi sebagian pencinta literasi, buku ini terasa terlalu berharga untuk dilewatkan. Bahkan, keterbatasan finansial—sebuah realitas yang jamak dihadapi masyarakat bawah yang kontras dengan potret politik transaksional berbiaya tinggi—tidak menjadi penghalang untuk segera mengapresiasi karya berbobot ini.
Keindahan yang Hidup: Dari Jawa Barat hingga Borobudur
Ketika berbicara tentang candi-candi di Pulau Jawa, ingatan kita seringkali tertuju pada barisan angka tahun, nama raja, atau tumpukan batu mati yang kaku. Namun, lewat mahakaryanya yang berjudul Jawa yang Monumental, Scheltema mengajak kita melihat warisan leluhur ini dengan cara yang sepenuhnya berbeda.
Ia tidak memosisikan diri sebagai pengamat kaku yang hanya sibuk mengukur dimensi batu. Sebaliknya, Scheltema bertindak bagai seorang seniman sekaligus saksi sejarah. Ia mengagumi keindahan estetika bangunan suci purbakala, sembari meratapi nasib buruk yang menimpa situs-situs tersebut akibat keserakahan manusia.
Meskipun versi asli buku ini terbit pada tahun 1912, versi terjemahannya dikemas dengan sangat apik dan enak dibaca oleh semua kalangan.
Dalam catatannya, Scheltema memulai perjalanan dari Jawa Barat dan mengisahkan berbagai hal menarik. Mulai dari Prasasti Batutulis di dekat Bogor, sejarah islamisasi oleh Sunan Gunung Jati, hingga perkembangan wilayah tersebut dan sekitarnya.
Setelah itu, Scheltema menceritakan kisah tempat yang tinggi, yakni Dataran Tinggi Dieng. Di kawasan yang sunyi dan berkabut ini, ia merasakan hubungan erat antara alam Jawa yang mistis dan arsitektur Hindu kuno. Baginya, candi-candi di Dieng adalah perwujudan dari kesederhanaan yang jujur. Bangunan batu di sana berdiri bukan untuk memamerkan kemewahan, melainkan sebagai sarana manusia untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta di tempat yang paling sunyi.
Keindahan ini mencapai puncaknya saat Scheltema menginjakkan kaki di Candi Borobudur dan Candi Mendut. Ia terpaku melihat ribuan panel relief yang terpahat rapi di dinding Borobudur. Dalam ulasannya yang sangat menyentuh, Scheltema menyebut bahwa relief Borobudur bukanlah sekadar hiasan dinding biasa. Pahatannya memuat cerita kehidupan, filsafat mendalam, serta perjalanan spiritual manusia menuju Yang Maha Kuasa.
Ia memandang relief tersebut sebagai sebuah “kitab suci yang dipahat di atas batu”, di mana setiap lekukan pahatannya memancarkan kehangatan jiwa para leluhur Jawa kuno.
Kemegahan Candi Prambanan dan Dinamika Jawa Timur
Tidak kalah dari Borobudur, Candi Prambanan—atau yang sering disebut masyarakat lokal sebagai kompleks Roro Jonggrang—juga mendapat porsi ulasan yang mendalam. Scheltema sangat mengagumi gaya arsitektur Prambanan yang menjulang tinggi, melambangkan semangat spiritual yang dinamis dan penuh energi.
Ia memadukan pengamatan visualnya dengan ingatan kultural yang berkembang di masyarakat. Menurutnya, cerita rakyat mengenai Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang bukanlah sekadar bualan, melainkan bentuk ikatan batin yang kuat antara masyarakat modern dan warisan leluhur mereka. Scheltema bahkan menceritakan tradisi lisan tentang Candi Roro Jonggrang ini secara detail.
Petualangan Scheltema kemudian berlanjut ke wilayah Jawa Timur, menjelajahi sisa-sisa peninggalan Kerajaan Singhasari dan Majapahit, yang salah satunya terekam melalui keanggunan Gapura Bajang Ratu. Di kawasan ini, ia menangkap adanya pergeseran gaya visual yang sangat menarik dan kontras dengan wilayah sebelumnya.
Jika candi-candi di Jawa Tengah cenderung dibangun dengan struktur simetris, megah, dan anggun, maka arsitektur purbakala di Jawa Timur tampil jauh lebih ekspresif, bebas, serta kental dengan sentuhan nuansa lokal. Perubahan karakter bangunan ini dinilai Scheltema sebagai bukti nyata dari kecerdasan sekaligus keberanian para seniman Jawa kala itu dalam mengembangkan ciri khas baru tanpa sedikit pun kehilangan jati diri asli mereka. Pergeseran gaya ini dinilai sebagai bukti kecerdasan seniman Jawa yang mampu mengembangkan ciri khas baru tanpa kehilangan jati diri asli mereka.
Kritik Tajam Terhadap Vandalisme dan Kelalaian Kolonial
Hal yang membuat buku ini begitu berharga dan dihormati hingga hari ini adalah keberanian Scheltema dalam menyampaikan kritik sosial. Di balik kekagumannya yang besar, tersimpan kritik mendalam terhadap pemerintah kolonial Hindia Belanda dan para pengusaha Eropa pada masa itu.
Ia menyaksikan sendiri bagaimana situs-situs suci tersebut diperlakukan dengan sangat tidak terhormat. Scheltema mengecam keras praktik pemenggalan kepala arca yang marak terjadi hanya untuk dijadikan hadiah bagi tamu-tamu agung dari luar negeri, atau menjadi hiasan di rumah pejabat kolonial.
Lebih parah lagi, ia juga mengkritik bagaimana batu-batu candi kuno dihancurkan oleh pabrik-pabrik tebu dan masyarakat untuk dijadikan fondasi bangunan, serta berbagai tindakan vandalisme lainnya. Nilai sejarah dan spiritual yang tidak ternilai harganya sengaja dikorbankan demi keuntungan ekonomi sesaat.
Melalui bahasa yang mudah dipahami, buku Jawa yang Monumental berhasil menyampaikan pesan bahwa candi bukanlah sekadar tumpukan batu purba yang bisu. Candi adalah cermin dari sebuah peradaban tinggi yang pernah berjaya.
Scheltema mengingatkan kita semua bahwa merawat warisan sejarah bukan hanya tugas para ahli purbakala, melainkan tanggung jawab moral seluruh umat manusia. Meskipun ditulis lebih dari satu abad yang lalu, kritik dan pandangan Scheltema masih sangat relevan dengan kondisi kita saat ini. Buku ini mendesak kita untuk tidak mengulangi kesalahan masa lalu, serta mengajak kita untuk selalu menjaga, menghormati, dan melestarikan setiap jengkal warisan budaya Nusantara agar jiwanya tetap hidup dan dapat terus menginspirasi generasi yang akan datang.
Lebih dari itu, refleksi dari buku ini juga menjadi tamparan keras bagi kita untuk menjaga negeri ini dari para “pembusuk dari dalam”—mereka yang rela menggadaikan kesejahteraan rakyat, sejarah, dan kekayaan bangsa demi nafsu politik atau keuntungan pribadi sesaat. Menjaga Ibu Pertiwi tidak harus selalu menunggu gerakan besar. Perjuangan itu bisa kita mulai dari hal-hal terkecil: dengan merawat ingatan kolektif kita, menolak abai terhadap sekitar, menjaga warisan tradisi di tanah kelahiran kita sendiri, serta tetap kritis dan tidak membiarkan nilai-nilai luhur Nusantara digerus oleh keserakahan zamannya.















