Advertisement

apijiwa.id – Ratusan warga Kampung Sombro yang meliputi wilayah RW 4 dan 5 Desa Tlogomulyo, Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan, tumpah ruah di area pemakaman Mbah Sombro pada Kamis (16/07/2026). Dengan penuh khidmat, masyarakat setempat melaksanakan tradisi nyadran, sebuah ritual tahunan yang rutin digelar sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus wujud syukur mendalam kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Meski lokasi makam atau punden Mbah Sombro terletak tepat di tengah area persawahan yang jauh dari permukiman utama, hal tersebut tidak sedikit pun menyurutkan langkah warga untuk hadir. Mbah Sombro sendiri diyakini sebagai salah satu sesepuh agung yang memiliki peran penting dalam sejarah berdirinya Kampung Sombro dan Desa Tlogomulyo. Kehadiran ratusan warga di tengah sawah ini menjadi bukti nyata bahwa ikatan emosional dan sejarah desa masih terjaga dengan sangat kuat.

Acara sakral ini dibuka dengan pembacaan doa yang dipimpin langsung oleh Kyai Kasipan, pemuka agama Desa Tlogomulyo. Suasana seketika berubah penuh kekhusyukan saat lantunan ayat-ayat suci dan doa dipanjatkan, memohon keselamatan, kedamaian, serta keberkahan bagi seluruh warga desa.

Selanjutnya, Kepala Desa Tlogomulyo, Sarmo, memberikan sambutan sekaligus membuka acara secara resmi. Dalam arahannya, Sarmo menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas antusiasme masyarakat yang luar biasa dalam melestarikan tradisi turun-temurun ini.

Puncak kegiatan kemudian diisi dengan siraman rohani oleh Kyai Nurhadi. Dalam ceramahnya, beliau menekankan urgensi menjaga kerukunan hidup bermasyarakat. Kyai Nurhadi juga mengingatkan pentingnya saling menghargai antarsesama serta selalu mengharap berkah dan perlindungan dari Yang Maha Kuasa dalam setiap sendi kehidupan.

Tradisi nyadran ini berlangsung dalam suasana yang akrab dan penuh kehangatan. Interaksi antarwarga yang begitu cair sepanjang kegiatan mencerminkan semangat gotong royong yang menjadi ciri khas warga Tlogomulyo.

Sebagai agenda tahunan, Nyadran Mbah Sombro sukses menjadi simbol identitas sekaligus perekat sosial yang menyatukan masyarakat. Acara kemudian ditutup dengan doa bersama, membawa harapan agar ke depan masyarakat senantiasa diberikan keberkahan, kemakmuran, dan kerukunan yang terus terjaga hingga generasi mendatang.

Facebook Comments Box

Penulis: Ari Tri WinarnoEditor: Badiatul Muchlisin Asti

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.