Advertisement

apijiwa.id – Ratusan warga Dusun Klatak, Desa Tlogomulyo, Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan, berkumpul dengan penuh khidmat di kompleks pemakaman RW 04 dan RW 05—atau yang dikenal sebagai Makam Dusun Klatak Lor—pada Ahad (28/6/2026). Kedatangan warga dari berbagai rukun tetangga ini bertujuan untuk melaksanakan tradisi Nyadran Suro, sebuah ritual pengiriman doa kepada para leluhur yang diselenggarakan bertepatan dengan datangnya bulan Muharam (Suro) dalam kalender Jawa.

Acara yang berlangsung ramai namun tetap sakral ini diawali dengan pembukaan oleh pemuka agama setempat, Muh. Darto. Setelah pembukaan, suasana seketika hening saat seluruh warga yang hadir—mulai dari orang tua, pemuda, hingga anak-anak—bersama-sama melantunkan doa bagi para leluhur yang telah mendahului mereka.

Setelah doa bersama selesai, Kepala Desa Tlogomulyo, Sarmo, memberikan sambutannya. Dalam pidatonya, ia mengapresiasi kekompakan warga RW 04 dan RW 05 serta menitipkan pesan mendalam mengenai pentingnya menjaga keharmonisan bertetangga.

“Tradisi ini bukan sekadar rutinitas, melainkan momen penting untuk mempererat silaturahmi. Saya berpesan agar seluruh warga desa selalu menjaga kerukunan, gotong royong, dan persatuan antar-sesama,” ujar Sarmo di hadapan seluruh warga.

Kegiatan Nyadran Suro ini rutin digelar setiap bulan Muharam di seluruh area makam yang ada di wilayah Desa Tlogomulyo. Selain di pemakaman Dusun Klatak Lor, area pemakaman lain di Desa Tlogomulyo juga menggelar kegiatan serupa dengan jadwal pelaksanaan pada hari yang berbeda.

Bagi masyarakat Dusun Klatak, Nyadran Suro bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan sebuah jembatan budaya yang menghubungkan generasi masa lalu, masa kini, dan masa depan. Tradisi ini menjadi pengingat akan asal-usul, sekaligus perekat sosial untuk menjaga stabilitas dan kedamaian desa di tengah derasnya arus modernisasi.

Facebook Comments Box

Penulis: Ari Tri WinarnoEditor: Badiatul Muchlisin Asti

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.