apijiwa.id – SMA Pasundan 7 Bandung menggelar In House Training (IHT) di kampus sekolah pada Rabu hingga Kamis (24-25/6/2026). Mengusung tema “Penerimaan Pendidikan Karakter Pancawaluya”, kegiatan ini diikuti oleh para guru, peserta didik, komite sekolah, hingga orang tua siswa. Program ini merupakan sosialisasi dari kebijakan Gubernur melalui Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat yang menekankan pada lima elemen utama: Cageur (Sehat), Bageur (Baik), Bener (Benar), Pinter (Pintar), dan Singer (Kreatif).
Kegiatan ini resmi dibuka oleh Kepala SMA Pasundan 7 Bandung, Surahman. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa IHT ini sangat penting untuk memperluas wawasan para pendidik dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Harapannya, hasil kegiatan ini dapat diimplementasikan untuk membentuk karakter siswa yang lebih baik, baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
Senada dengan hal tersebut, Pengawas KCD Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, Sunengsih, menjelaskan alasan pentingnya sosialisasi ini. Menurutnya, program ini fokus pada pembentukan karakter anak didik, khususnya di Jawa Barat. Ia menegaskan bahwa pembentukan karakter yang baik sama pentingnya dengan transfer ilmu akademis.
“Dibutuhkan keseimbangan antara penguatan intelektual dan karakter agar anak didik siap menjalani kehidupannya, baik di sekolah maupun di tengah masyarakat,” ujar Sunengsih.
Acara yang dipandu oleh Novi Susilowati dan dimoderatori oleh Tiani Agustin ini menghadirkan dua pembicara yang kompeten di bidangnya. Mereka adalah Sandi Budi Irawan (Dosen Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia Bandung) dan Khaerudin Saleh (praktisi pendidikan sekaligus akademisi). Kedua narasumber secara bergantian memaparkan materi terkait Pendidikan Karakter Pancawaluya.
Sandi Budi Irawan menjelaskan bahwa setiap siswa memiliki keunikan tersendiri dan berbeda satu sama lain. Oleh karena itu, pendekatan pendidikan yang diterapkan harus setara. Pendidikan Karakter Pancawaluya hadir sebagai konsep berbasis kearifan lokal yang didesain khusus untuk membentuk karakter siswa di Jawa Barat.
“Konsep dasarnya adalah membentuk manusia waluya, yaitu manusia seutuhnya. Ketika seseorang memiliki karakter yang baik, ia tidak hanya bermanfaat bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi orang lain,” tegas Sandi.
Pembicara lainnya, Khaerudin Saleh, menambahkan bahwa konsep Pendidikan Karakter Pancawaluya sangat selaras dengan nilai-nilai “Kepasundanan” yang diusung SMA Pasundan 7 Bandung. Muara dari konsep pendidikan ini adalah perubahan tingkah laku. Oleh karena itu, internalisasi nilai Cageur, Bageur, Bener, Pinter, dan Singer sangat krusial untuk diterapkan di lingkungan sekolah.
Khaerudin menilai sekolah dan pendidik sebagai elemen paling penting dalam menanamkan nilai-nilai tersebut. “Setelah melalui proses ini, kita bisa mengevaluasi bagaimana perkembangan karakter anak. Jika sudah baik, kita syukuri. Namun jika masih kurang, di situlah tugas kita untuk melakukan perbaikan,” tambahnya.
IHT ini tidak berjalan satu arah. Acara diisi dengan sesi diskusi, tanya jawab, pemaparan tugas kelompok yang diselingi dengan yel-yel, serta evaluasi dan monitoring selama dua hari pelaksanaan. Di akhir sesi, seluruh peserta juga mengikuti tes pemahaman terkait Pendidikan Karakter Pancawaluya.
Pada prosesi penutupan, panitia menyerahkan sertifikat penghargaan kepada para pembicara. Selain itu, penghargaan khusus sebagai peserta terbaik diberikan kepada Intan Putri Ayu Kencana Ungu, yang berhasil meraih nilai tertinggi dalam tes pemahaman Pendidikan Karakter Pancawaluya.












