apijiwa.id – Judul buku Diawali Setengah Hati, Setelahnya Sepenuh Hati seolah menjadi pengakuan jujur sekaligus pengantar emosional atas dunia pendidikan anak usia dini (PAUD) yang selama ini kerap dipandang sebelah mata.
Buku yang diterbitkan oleh CV. Hanum Publisher tahun 2025 ini bukan sekadar kumpulan cerita, melainkan sebuah mozaik kehidupan yang disusun dari potongan-potongan pengalaman nyata para guru PAUD di berbagai kecamatan di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah.
Dengan ketebalan 142 halaman, buku ini memuat 22 kisah inspiratif dari 22 penulis yang semuanya berbicara dari ruang sunyi pengabdian, ruang kelas kecil, halaman bermain sederhana, dan hati yang mula-mula ragu, namun perlahan mantap.
Pengalaman Batin
Sebagaimana judulnya, buku ini merekam perjalanan batin yang tidak selalu heroik sejak awal. Tidak semua guru PAUD hadir ke dunia pendidikan dengan panggilan jiwa yang lantang. Ada yang datang karena keadaan, keterpaksaan, kekosongan pilihan, bahkan penolakan dari orang-orang terdekat.
Namun justru dari “setengah hati” itulah tumbuh cinta yang utuh, kesadaran yang matang, dan pengabdian yang sepenuh jiwa. Inilah kekuatan utama buku ini berupa kejujurannya. Ia tidak memoles realitas menjadi kisah motivasi instan, melainkan menghadirkan proses panjang, berliku, dan manusiawi.
Sebagai himpunan kisah inspiratif perjuangan guru PAUD bagian pertama, buku ini terasa seperti pembuka pintu menuju ruang-ruang pengalaman yang selama ini jarang terdokumentasikan. Pada halaman-halaman awal (hlm. 7), pembaca langsung diajak menyelami kisah jalan hidup seorang guru PAUD yang awalnya tidak pernah membayangkan dirinya berdiri di hadapan anak-anak usia dini.
Cerita tersebut menjadi semacam fondasi emosional buku ini, bahwa menjadi guru PAUD seringkali bukan pilihan pertama, tetapi bisa menjadi pilihan terbaik setelah dijalani dengan kesadaran dan ketulusan.
Menariknya, buku ini tidak terjebak pada satu jenis narasi. Setiap penulis menghadirkan sudut pandang yang berbeda, sehingga pembaca tidak merasa membaca kisah yang itu-itu saja. Pada halaman 18, misalnya, tersaji kisah tentang perjalanan sebuah lembaga PAUD nonformal yang bertransformasi menjadi sekolah penggerak.
Di sini, perjuangan tidak hanya bersifat personal, tetapi juga struktural dan kolektif. Ada dinamika kebijakan, tantangan administrasi, keterbatasan sumber daya, serta perjuangan membangun kepercayaan masyarakat. Kisah ini memperlihatkan bahwa guru PAUD bukan hanya pendidik di kelas, tetapi juga agen perubahan di lingkungan sosialnya.
Kisah lain yang tak kalah menggugah terdapat pada halaman 60, tentang penolakan orang-orang di sekitar yang justru berubah menjadi panggilan jiwa. Narasi ini menampilkan konflik batin yang kerap dialami guru PAUD: dipandang rendah, dianggap “hanya bermain dengan anak-anak”, atau dinilai tidak memiliki masa depan finansial yang menjanjikan.
Namun, dari tekanan sosial itulah, lahir keteguhan. Penolakan berubah menjadi refleksi, dan refleksi melahirkan kesadaran bahwa mendidik anak usia dini adalah kerja peradaban yang sunyi, tetapi fundamental.
Gerbang Pertama Pendidikan
Sementara itu, pada halaman 124, pembaca disuguhi kisah tentang manisnya buah sabar. Kisah ini menekankan satu nilai yang hampir selalu menjadi napas profesi guru PAUD berupa kesabaran tanpa pamrih.
Menghadapi anak-anak dengan beragam karakter, orangtua dengan ekspektasi tinggi, serta sistem yang belum sepenuhnya berpihak, kesabaran menjadi modal utama yang sering kali tidak tercatat dalam laporan kinerja, tetapi nyata dalam dampaknya. Cerita ini terasa menenangkan sekaligus menyentil, mengingatkan pembaca bahwa hasil pendidikan tidak selalu bisa dipanen secara instan.
Dari keseluruhan kisah yang disajikan, tampak jelas bahwa buku ini ingin menegaskan satu hal penting, yaitu guru PAUD adalah penjaga gerbang pertama pendidikan manusia. Mereka bekerja pada fase paling krusial dalam tumbuh kembang anak, tetapi sering kali dengan penghargaan yang paling minim.
Melalui kisah-kisah personal ini, buku Diawali Setengah Hati, Setelahnya Sepenuh Hati berfungsi sebagai ruang pengakuan, bahwa jerih payah guru PAUD layak untuk dilihat, didengar, dan diapresiasi.
Peran editor, Badiatul Muchlisin Asti, patut diapresiasi karena berhasil menjaga alur dan kohesi buku ini. Meski ditulis oleh banyak penulis dengan latar belakang dan gaya bahasa yang berbeda, buku ini tetap terasa utuh sebagai satu kesatuan tema.
Setiap kisah berdiri sendiri, namun saling menguatkan pesan besar tentang dedikasi, ketulusan, dan transformasi batin. Editing yang rapi membantu pembaca berpindah dari satu cerita ke cerita lain tanpa kehilangan benang merah.
Lemah di Perwajahan, Kuat di Isi
Sasaran utama buku ini memang jelas: guru PAUD seluruh Indonesia. Namun demikian, buku ini sejatinya juga relevan bagi calon guru, pemerhati pendidikan, pengambil kebijakan, bahkan orangtua.
Membaca buku ini membantu pembaca memahami bahwa pendidikan anak usia dini bukan sekadar aktivitas bermain dan bernyanyi, melainkan proses kompleks yang membutuhkan kompetensi, empati, dan ketahanan emosional yang tinggi.
Sebagai sebuah karya, buku ini tidak luput dari catatan kritis. Salah satu kekurangan yang cukup terasa adalah perwajahan buku. Visualisasi buku yang ditampilkan melalui foto-foto kegiatan PAUD cenderung apa adanya dan kurang digarap secara artistik.
Tata letak dan desain sampul terkesan fungsional, belum menyentuh sisi estetik yang dapat memperkuat daya tarik visual. Bagi pembaca yang memperhatikan aspek desain, hal ini mungkin menimbulkan kesan kurang “nyeni” dan kurang representatif terhadap kekayaan emosi yang terkandung di dalam teks.
Namun, kekurangan tersebut pada akhirnya terasa minor jika dibandingkan dengan kekuatan isinya. Justru kesederhanaan visual itu secara tidak langsung mencerminkan realitas dunia PAUD itu sendiri: sederhana, bersahaja, jauh dari gemerlap, tetapi penuh makna.
Buku ini tidak menjual keindahan dalam bentuk visual, melainkan dalam bentuk pengalaman hidup yang jujur dan menggerakkan.
Suara-suara yang Autentik
Dari sisi bahasa, sebagian kisah ditulis dengan gaya reflektif yang kuat, sementara sebagian lain lebih naratif dan lugas. Variasi ini mungkin terasa tidak seragam, tetapi justru memperkaya pengalaman membaca.
Pembaca dapat merasakan suara autentik masing-masing penulis, lengkap dengan emosi, keraguan, dan keyakinan mereka. Buku ini tidak berpretensi menjadi karya sastra tinggi, tetapi kekuatannya terletak pada kejujuran dan kedekatannya dengan realitas.
Secara keseluruhan, Diawali Setengah Hati, Setelahnya Sepenuh Hati adalah buku yang layak dibaca, direnungkan, dan dibagikan. Ia bukan hanya buku motivasi, melainkan dokumentasi sosial tentang perjuangan guru PAUD di Indonesia.
Buku ini mengajarkan bahwa pengabdian sejati seringkali lahir dari keraguan, tumbuh melalui kesabaran, dan menemukan maknanya dalam cinta yang sepenuh hati.
Bagi Anda para guru PAUD, buku ini seperti cermin: di dalamnya mungkin Anda menemukan potongan kisah diri sendiri. Bagi Anda yang belum memahami dunia PAUD, buku ini adalah jendela yang membuka kesadaran baru tentang pentingnya peran guru di usia emas anak.
Dan bagi dunia pendidikan Indonesia secara umum, buku ini adalah pengingat bahwa fondasi bangsa dibangun dari ruang-ruang kecil bernama PAUD, oleh tangan-tangan sederhana yang bekerja dengan hati yang luar biasa.
Data buku:
Judul buku: Diawali Setengah Hati, Setelahnya Sepenuh Hati
Penulis: Siti Istiqomah, dkk
Editor: Badiul Muchlisin Asti
Penerbit: CV. Hanum Publisher, Grobogan
Tahun terbit: cet. 1, 2025
Tebal halaman: viii + 142 hlm
QRSBN: 620280 02703 9













