| Komponen | Informasi Buku |
| Judul | Sejarah Garam Madura: Rivalitas Pengangkutan Garam Madura 1912–1981 |
| Penulis | Imam Syafi’i |
| Penerbit | LIPI Press (kini diakuisisi dalam Program Akuisisi Pengetahuan Lokal, BRIN) |
| Tahun Terbit | Desember 2021 |
| Tebal | xxv hlm. + 186 hlm |
| ISBN | 978-602-496-296-8 |
apijiwa.id – Dalam melihat catatan sejarah laut kita, perhatian kita seringkali didominasi oleh apa yang disebut “narsisme rempah”—sebuah obsesi penulisan yang melulu memuja cengkih dan pala sebagai poros tunggal penjelajahan samudra. Padahal, ada satu komoditas sederhana namun sangat penting yang secara sunyi menentukan urat nadi pemerintahan dan ekonomi: garam.
Buku karya Imam Syafi’i ini hadir untuk mendekonstruksi pengabaian tersebut. Ia mengisi celah kosong dalam sejarah kelautan kita dengan menempatkan “emas putih” Madura sebagai fokus utama yang membentuk wajah sosial-politik kawasan.
Penetapan batas temporal 1912 hingga 1981 dalam studi ini bukan sekadar pembagian administratif yang kaku. Tahun 1912 memanifestasikan ambisi modernisasi kolonial melalui standarisasi industrial pengangkutan oleh perusahaan garam kerajaan. Sebaliknya, 1981 menjadi titik nadir sekaligus transformasi penting ketika perusahaan negara sepenuhnya membirokratisasi tradisi maritim organik ini menjadi perusahaan umum (Perum).
Rentang tujuh dekade ini merekam pasang-surut transisi dari hegemoni Zoutregie kolonial menuju konsolidasi negara yang, secara ironis, seringkali menyegel nasib para pengangkut tradisional dalam jeruji regulasi. Pemahaman atas evolusi ini menjadi pintu masuk yang penting untuk mengenal latar belakang intelektual penulis yang membidani narasi ini.
Karya ini dikembangkan dari tesis magister penulis di Universitas Diponegoro. Namun, di tangan Syafi’i, kekakuan yang umum dijumpai pada naskah akademik bertransformasi menjadi narasi sejarah yang mengalir tanpa kehilangan kedalaman analitisnya. Kekuatan buku ini terletak pada kemampuannya menavigasi sumber-sumber yang kontradiktif namun saling melengkapi.
Dalam menyusun buku ini, penulis menerapkan metodologi pencarian jejak yang komprehensif dengan memadukan dua rumpun data utama. Penulis melakukan eksplorasi mendalam terhadap arsip formal sebagai data primer—khususnya dari Kantor Arsip Daerah Provinsi Jawa Timur dan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI)—untuk menyediakan kerangka statistik serta kebijakan makro.
Data kolonial yang dingin tersebut kemudian dihidupkan melalui pendekatan sejarah lisan, di mana penulis mewawancarai para informan kunci seperti nakhoda dan anak buah kapal tradisional guna memberikan denyut nadi kemanusiaan pada narasi sejarah yang dibangun.
Sinergi antara arsip dingin Zoutregie dengan memori hangat para pelaut menciptakan dimensi kemanusiaan yang langka. Kita tidak hanya disuguhi angka tonase produksi, tetapi juga heroisme manusia yang bertaruh nyawa di lambung kapal. Kredibilitas ini menegaskan bahwa kekuatan buku ini melampaui data statistik; ia adalah pemahaman mendalam tentang ekologi unik Pulau Madura yang menjadi panggung utama narasi ini.
Sinergi Geografis dan Kebijakan Kolonial
Madura tidak tumbuh menjadi episentrum pergaraman secara aksidental, melainkan sebuah laboratorium alam yang terbentuk oleh keselarasan kontur geografisnya. Karakteristik unik ini berhasil menjadikan Madura sebagai pusat produksi utama di era Hindia Belanda. Keunggulan tersebut ditopang oleh kombinasi faktor klimatologis dan geofisika yang sangat mendukung, terutama curah hujan yang rendah di kawasan tersebut. Kondisi iklim yang kering ini menjamin stabilitas proses penguapan air laut secara alami dalam jangka waktu yang optimal.
Selain faktor cuaca, keunggulan alam Madura juga ditentukan oleh aspek hidrologi dan meteorologi yang spesifik. Air di sepanjang Selat Madura memiliki tingkat salinitas tinggi dengan kadar keasinan yang melampaui rata-rata wilayah lain, sehingga sangat ideal sebagai bahan baku garam.
Proses ini kemudian disempurnakan oleh kehadiran Angin Gending, yaitu angin spesifik yang bertiup dari Pegunungan Gending, Probolinggo. Hembusan angin kering ini secara alami mempercepat proses kristalisasi, sekaligus menghasilkan kualitas kristal garam yang superior dan khas.
Namun, industrialisasi oleh Belanda atas potensi ekologis ini bukan semata-mata soal efisiensi ekonomi. Ia adalah manifestasi ekstensifikasi kekuasaan kolonial yang mendalam. Dengan memberlakukan manajemen industri yang tersentralisasi, otoritas kolonial mereduksi kekuatan politik tradisional Madura menjadi sekadar instrumen pendukung birokrasi.
Transisi dari kedaulatan lokal menuju monopoli negara ini menunjukkan bahwa kemerdekaan ekonomi seringkali dikorbankan demi pundi-pundi kas penguasa. Geografi yang menciptakan kelimpahan garam inilah yang pada akhirnya memicu kerumitan logistik dan persaingan sengit di jalur distribusi.
Persilangan Antara Tradisi, Korporasi, dan Negara
Intrik utama dalam buku ini terfokus pada konflik kepentingan dalam pengangkutan “emas putih”. Imam Syafi’i dengan jeli membedah rivalitas antara entitas raksasa dan pelayaran rakyat yang telah ada jauh sebelum monopoli mengakar.
Dinamika maritim ini mempertemukan perbandingan yang kontras antara kekuatan korporasi besar dan ketangguhan transportasi tradisional. Di satu sisi, industri ini digerakkan oleh para raksasa uap milik korporasi dan negara seperti Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM), Madoera Strootram Maatschappij (MSM), dan Oost-Java Zeevervoer (OJZ)—yang di kemudian hari dinasionalisasi menjadi Pengangkutan Laut Djawa Timur (PLDT). Di sisi lain, urat nadi distribusi ini juga ditopang oleh armada pelayaran tradisional yang ikonik, seperti perahu Janggolan dari Sampang yang telah tangguh melintasi samudra sejak abad ke-19, serta perahu Lete-lete yang berbasis di Sumenep dan Pulau Talango.
Analisis yang paling menarik adalah mengenai kebijakan “tender terbuka”. Belanda terpaksa membuka peluang bagi pelayaran rakyat bukan karena niat baik, melainkan karena inefisiensi biaya dan keterbatasan teknis kapal uap besar di perairan dangkal Nusantara. Di sinilah pelaut Madura, bersama para pedagang garam Tionghoa yang awalnya menyewa perahu lokal, kembali mengambil peran vital. Efisiensi biaya perahu kayu menjadi antitesis bagi birokrasi uap yang lamban. Rivalitas ini tidak hanya soal penguasaan pasar, tetapi juga pembentukan identitas sosial masyarakat pesisir yang tangguh di bawah tekanan.
Dampak Sosial-Budaya
Industri garam telah mengonstruksi sebuah ekologi sosial yang membedakan masyarakat pesisir Madura dari masyarakat agraris di pedalaman. Jalur distribusi garam bukan sekadar rute dagang, melainkan arteri migrasi yang membentuk komunitas diaspora Madura di berbagai wilayah Nusantara, dari pantai utara Jawa hingga Palembang.
Karakteristik ini terepresentasi dalam filosofi “Abantal ombak asapo’ angen” (berbantalkan ombak, berselimutkan angin). Dalam konteks kebudayaan, kita harus melihat filosofi ini sebagai sebuah pernyataan kedaulatan maritim. Ini adalah antithesis dari pola pikir kolonial yang terikat pada daratan dan administrasi yang kaku. Bagi pelaut Madura, laut bukanlah pemisah, melainkan rumah dan sumber penghidupan yang mereka navigasi dengan keberanian yang tak tergoyahkan oleh pasang-surut kebijakan ekonomi.
Buku Sejarah Garam Madura (1912–1981) adalah karya monumental yang berhasil memanusiakan sejarah komoditas. Ia menawarkan perspektif “Jalur Garam” sebagai komplemen esensial bagi narasi “Jalur Rempah” yang selama ini mendominasi diskursus sejarah kita.
Buku ini memiliki keunggulan utama dalam kemampuannya melakukan redefinisi terhadap narasi nasional, yaitu dengan mengangkat derajat garam dari sekadar bumbu dapur menjadi instrumen vital dalam pembentukan identitas maritim NKRI. Kekuatan narasi ini ditopang oleh rigiditas data, di mana kedalaman sumber arsip kolonial dipadukan secara apik dengan penghormatan tulus terhadap sejarah lisan serta tradisi lokal para pelaut tradisional.
Selain kaya secara metodologi dan sejarah, buku ini juga menawarkan urgensi kebijakan yang sangat kuat bagi masa kini. Karya Imam Syafi’i ini berhasil memberikan landasan historis yang kokoh bagi para pemangku kepentingan untuk melihat kembali, merefleksikan, dan memperkuat kedaulatan distribusi logistik nasional di wilayah kepulauan kita.
Buku ini adalah bacaan wajib untuk memahami bahwa identitas maritim kita tidak hanya terpahat pada megahnya kapal perang, tetapi juga tersimpan dalam kristal-kristal putih yang dibawa oleh lambung-lambung perahu tradisional. Imam Syafi’i mengajak kita merefleksikan kembali sejarah dari meja makan kita sendiri; bahwa setiap butir garam adalah artefak sejarah yang menyimpan keringat para buruh dan keberanian para pelaut yang pernah berselimutkan angin demi menyatukan Nusantara.














