Advertisement
Atribut Informasi
Judul Perjalanan Diksi: Sehimpun Puisi 2013-2018
Penulis Sri Penny AH
Penerbit CV. Hanum Publisher
Cetakan Pertama April 2019
ISBN 978-623-9039-6-0-8
Tebal 516 hlm

 

apijiwa.id – Dalam diskursus sastra Indonesia kontemporer, kehadiran sebuah antologi puisi seringkali terjebak dalam dikotomi antara estetika visual dan kedangkalan makna. Namun, Perjalanan Diksi karya Sri Penny AH hadir sebagai antitesis yang menegaskan bahwa puisi bukanlah sekadar ornamen linguistik. Karya ini merupakan sebuah manifestasi estetika ontologis, sebuah perjuangan batin yang gigih untuk mentransformasikan realitas profan menjadi keindahan rohaniah yang transenden.

Penulis secara sadar memosisikan diksi sebagai instrumen untuk menyelaraskan gagasan dengan ekspresi, memilih kata-kata yang “paling berisi” demi menangkap esensi keilahian dalam keseharian. Visi Sri Penny AH dalam karya ini adalah mendokumentasikan spektrum pengalaman manusia—apa yang dirasa, dilihat, didengar, dan dilakukan—sebagai bentuk sakramen puitis atas kasih Tuhan.

Tulisan ini menjadi muara bagi tumpah ruahnya makna yang paling mengena bagi pembaca dan semesta. Ketebalan buku antologi ini sejalan dengan kedalaman babakan kehidupan yang akan dibedah secara tematik pada bagian selanjutnya.

Dialektika Antara Waktu, Alam, dan Rasa

Penyusunan sebuah antologi setebal 516 halaman menuntut strategi naratif yang mumpuni agar tidak terfragmentasi menjadi sekadar kumpulan kata tanpa ruh. Sri Penny AH secara cerdas mengaplikasikan pengelompokan subtema (Bait Alam, Bait Waktu, Bait Syukur, Bait Pasrah, dan seterusnya) untuk menciptakan kesatuan makna atau tema mayor. Strategi ini bukan sekadar kategorisasi teknis, melainkan upaya membangun sebuah ekosistem pemikiran yang utuh.

Drs. Heru Marwata, M.Hum., secara tajam menganalogikan buku ini sebagai “kamera antologi” sang penyair yang membidik esensi isi dunia. Namun, lebih jauh lagi, sinergi antar-subtema ini dapat dipahami melalui metafora pohon kehidupan: jika pengalaman hidup adalah batangnya, maka syukur dan pasrah adalah dahan, ranting, dan dedaunan yang rimbun.

Spektrum emosi yang diabadikan—mulai dari resah yang paling kelam hingga syukur yang paling benderang—menggiring pembaca pada pengalaman katarsis. Dari pengamatan fenomena alam yang objektif, penyair beralih ke kedalaman batin, sebuah transisi yang menandai kematangan teknis kepenyairan yang akan kita ulas dalam dimensi stilistikanya.

Stilistika dan Metodologi Pembacaan Semiotik

Untuk mengapresiasi Perjalanan Diksi tanpa terjebak pada pemahaman superfisial, diperlukan pendekatan metodologis yang disiplin. Prof. Dr. Teguh Supriyanto, M.Hum., menyarankan penggunaan teori Riffaterre melalui pembacaan heuristik (tingkat pertama) dan hermeneutik (tingkat kedua). Melalui kacamata ini, kita dapat melihat bagaimana Sri Penny AH membangun “gramatika baru” yang melampaui konvensi bahasa sehari-hari.

Salah satu kekuatan stilistika yang dominan adalah penggunaan repetisi kata dan paralelisme yang menciptakan ritme kontemplatif. Sebagai contoh konkret, penyair menuliskan sekuens: “…lewat kata / lewat kata / lewat kata / kukabarkan rinduku…” Teknik ini tidak sekadar berfungsi sebagai permainan bunyi, tetapi sebagai jangkar ritmis yang memandu pembaca menuju kedalaman makna.

Secara fenomenologis, kepatuhan penyair terhadap rima, asonansi, dan aliterasi menunjukkan disiplin kepenyairan yang ketat. Dalam puisi “KuIngin” (yang ditulis pada 15 Maret 2010), penggunaan konsonan ‘k’ yang tajam menegaskan harapan yang kuat, sementara huruf desis ‘s’ menggambarkan keberlangsungan yang terus-menerus.

Posisi Sri Penny AH dalam tradisi sastra pun sangat menarik; ia dapat disejajarkan dengan para pujangga kuno seperti Monaguna dari zaman Kediri dalam hal penggunaan manggala atau pembukaan yang mengekspresikan ketidakberdayaan manusia di hadapan kata-kata—sebuah kerendahhatian intelektual yang juga jamak ditemukan dalam karya penyair kelas dunia seperti T.S. Eliot.

Filosofi “Ngrekasa” dan Representasi Identitas Jawa

Puisi-puisi dalam antologi ini berakar kuat pada identitas budaya Jawa, namun diproses melalui filter intelektual yang modern. Latar belakang pendidikan penyair di “Kampus Biru” (Bulak Sumur/UGM) yang berbasis akademik ketat bersinergi dengan pengaruh spiritual dari lingkungan tempat tinggalnya di sekitar situs kuno Purwodadi—titik historis dinasti Mataram Islam. Sinergi ini menciptakan diksi yang unik: jembatan antara ketajaman analisis akademis dan kedalaman mistisisme leluhur.

Konsep filosofis yang menjadi jantung karya ini adalah “Ngrekasa”. Penting untuk membedakan secara tajam antara rekasa (kemiskinan finansial/kekurangan) dengan ngrekasa—sebuah laku prihatin atau sikap pasrah aktif demi mencapai tujuan mulia. Filosofi ini menemukan poros emosionalnya pada sosok “Ibu”. Bagi Sri Penny AH, Ibu bukan sekadar figur biologis, melainkan “sumber energi dari rahim” dan sosok guru cahaya yang menghidupkan setiap bait.

Representasi “Ibu” dalam karyanya menjadi sumber semangat yang mentransformasikan penderitaan menjadi kekuatan kreatif, sebuah nilai yang sangat relevan bagi pengembangan literasi berbasis karakter.

Signifikansi Karakter dan Rekomendasi Kritik

Secara strategis, Perjalanan Diksi bukan hanya sebuah pencapaian personal, tetapi instrumen krusial bagi dunia pendidikan. Sebagaimana ditegaskan oleh Fazil Abdullah, buku ini sangat otoritatif sebagai buku pengayaan Bahasa Indonesia (SMA/MA) karena kemampuannya membantu peserta didik mengenali dinamika internal mereka melalui perjalanan rasa. Hal ini sejalan dengan pandangan budayawan Emha Ainun Nadjib tentang pentingnya mengasah “sensor rohaniah terhadap keindahan” agar manusia mampu menghayati puncak prestasi kehidupan.

Buku ini hadir sebagai sebuah eksplorasi psiko-spiritual yang berfungsi sebagai sarana navigasi emosional secara sehat dan kontemplatif dalam menghadapi rindu, luka, hingga rasa syukur. Tidak hanya itu, karya ini juga berperan sebagai laboratorium stilistika yang menjadi referensi autentik mengenai efektivitas teknik repetisi, paralelisme, dan aliterasi dalam membangun daya evokasi sebuah puisi.

Melalui perpaduan tersebut, buku ini turut menyuarakan resiliensi budaya dengan mengajarkan filosofi ngrekasa sebagai bentuk ketabahan aktif dalam menghadapi berbagai diskontinuitas hidup. Sebagai simpulan, antologi ini membuktikan bahwa di tengah percepatan zaman, puisi tetap menjadi jangkar bagi kemanusiaan kita.

Sebagaimana pesan dari Dr. Novi Siti Kussuji Indrastuti, M.Hum., “Hidup adalah pilihan, dan hidup tak akan bermakna tanpa kata-kata”. Sri Penny AH telah memilih jalannya: sebuah perjalanan diksi yang penuh dedikasi bagi Tuhan, alam, dan sesama manusia.

Facebook Comments Box

Penulis: Badiatul Muchlisin AstiEditor: Redaksi Apijiwa.id

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.