Advertisement

apijiwa.id – Minimnya jumlah petani muda di Kabupaten Semarang kini menjadi tantangan serius bagi masa depan sektor pertanian. Berdasarkan Sensus Pertanian 2023, proporsi petani milenial di wilayah ini baru menyentuh angka 11,8 persen, sementara 77,8 persen sisanya telah memasuki usia lanjut.

Kondisi tersebut disampaikan oleh Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Pangan (Dispertanikap) Kabupaten Semarang, Moh. Edy Sukarno, di sela-sela Peluncuran Program Pangan Berdikari sekaligus Pembukaan Sekolah Tani Milenial di aula Kantor Kecamatan Sumowono.

“Kondisi ini harus segera direspons melalui langkah konkret agar regenerasi petani dapat berjalan. Ini bukan hanya isu lokal, melainkan tantangan nasional yang membutuhkan solusi nyata,” ujar Moh. Edy Sukarno.

Ia menambahkan, program ini juga menjadi Aksi Perubahan dalam Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat II yang diresmikan langsung oleh Bupati Semarang, H. Ngesti Nugraha.

Selain minimnya partisipasi generasi muda, data menunjukkan bahwa jumlah Rumah Tangga Usaha Pertanian (RTP) di Kabupaten Semarang merosot hingga 10,27 persen dalam dekade terakhir, di tengah laju pertumbuhan penduduk yang terus meningkat.

Sebagai strategi menarik minat generasi muda, Pemerintah Kabupaten Semarang kembali menggelar Sekolah Tani Milenial. Program yang bergulir sejak 2024 ini, pada 2026 diikuti oleh 240 peserta dari enam kecamatan sentra tembakau—meliputi Sumowono, Tengaran, Bancak, Kaliwungu, Bandungan, dan satu kecamatan pendamping lainnya.

Guna mendukung keberlangsungan program, Pemkab Semarang mengalokasikan anggaran sebesar Rp240 juta yang bersumber dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT).

“Para peserta tidak hanya dibekali pelatihan teknis budidaya tanaman dan pengembangan pertanian organik, tetapi juga mendapat materi kewirausahaan, manajemen usaha, hingga pemasaran digital dari para praktisi,” jelas Edy.

Sementara itu, Bupati Semarang H. Ngesti Nugraha menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk mengikis stigma lama tentang profesi petani. Menurutnya, pertanian modern saat ini telah bertransformasi berbasis teknologi dan inovasi, bukan lagi sekadar mengandalkan kekuatan fisik.

“Sekolah Tani Milenial memberikan pembelajaran komprehensif, mulai dari tanaman pangan, hortikultura seperti cabai dan bunga, hingga sektor peternakan serta kewirausahaan. Kami juga terus mendorong pergeseran dari penggunaan pupuk kimia ke pertanian organik demi mengembalikan kesuburan tanah,” pungkas Ngesti.

Facebook Comments Box

Penulis: Heru SantosoEditor: Badiatul Muchlisin Asti

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.