apijiwa.id – Aura intelektual dan semangat pelestarian budaya menyelimuti Gedung Grhadika Bina Praja, Demak, Jawa Tengah, saat Museum Masjid Agung Demak menggelar bedah buku bertajuk “Sejarah Kasultanan Demak Bintoro” karya Anasom yang digelar Rabu (8/6/2026). Acara strategis ini tidak hanya menjadi panggung diskusi ilmiah, tetapi juga dirangkaikan dengan pertemuan rutin antar-museum daerah se-eks Keresidenan Pati, yang mencakup wilayah Pati, Kudus, Demak, Jepara, Rembang, dan Grobogan.
Bupati Demak, dr. Hj. Eisti’anah, S.E., yang membuka secara resmi agenda kebudayaan ini, menegaskan bahwa pemahaman sejarah merupakan fondasi penting dalam menavigasi arah pembangunan peradaban. Dalam pandangannya, catatan masa lalu tidak boleh sekadar menjadi pajangan usang atau ruang nostalgia yang pasif.
Sebaliknya, sejarah harus diposisikan sebagai pijakan kokoh yang memberi arah dan energi bagi bangsa untuk melangkah menuju masa depan yang lebih kokoh, sehingga menjaga serta merawat warisan tersebut merupakan tanggung jawab kolektif seluruh elemen masyarakat.
Sebagai narasumber utama sekaligus penulis buku, Anasom mengupas tuntas berbagai babak penting dan kompleksitas di balik sejarah Kasultanan Demak Bintoro dengan menyodorkan perspektif baru yang menyegarkan. Salah satu poin yang paling menyita perhatian publik dalam diskusi tersebut adalah perdebatan akademis mengenai letak pasti keraton Kesultanan Demak, sebuah misteri historis yang hingga kini masih terus memicu perdebatan hangat di kalangan sejarawan, arkeolog, dan pemerhati budaya.
Lebih jauh, Anasom juga membedah dinamika proses islamisasi di Nusantara melalui komparasi mendalam dari berbagai sumber sejarah dan literatur mutakhir. Paparan ilmiah ini berhasil membuka cakrawala baru mengenai bagaimana nilai-nilai Islam menyebar secara damai, beradaptasi, sekaligus berakulturasi secara harmonis dengan kebudayaan lokal pada masa keemasan panggung politik Demak di masa lampau.
Pertemuan lintas wilayah ini terbukti mampu melampaui sekat-sekat formalitas birokrasi museum dengan bertransformasi menjadi ruang meleburnya berbagai lapisan masyarakat. Lebih dari 80 peserta memadati ruangan, memperlihatkan sinergi yang kuat antara birokrat, akademisi, dan akar rumput. Antusiasme tinggi terpancar dari kehadiran aktif komunitas dan forum pegiat sejarah-budaya, seperti Masyarakat Peduli Sejarah Demak (MPSD), Komunitas Penjelajah Situs Sejarah (KOMPASS), dan Sanggar Padma Baswara Demak, hingga perwakilan pemuda dari gerakan remaja masjid serta dunia pendidikan.
Melalui inisiasi yang digerakkan oleh Museum Masjid Agung Demak ini, kegiatan tersebut diharapkan mampu mempererat tali silaturahmi serta konsolidasi antar-museum di wilayah Muria Raya. Di sisi lain, agenda ini juga ditargetkan menjadi pemantik utama dalam mendongkrak kesadaran masyarakat luas, terutama generasi muda, agar lebih mencintai dan mendalami sejarah lokal.
Sinergi yang solid antara pengelola museum dan komunitas-komunitas daerah ini diharapkan memastikan warisan adiluhung Kesultanan Demak tetap lestari, hidup di tengah zaman, dan senantiasa menjadi sumber inspirasi bagi kemajuan daerah di masa depan.














