apijiwa.id – Masyarakat modern hari ini terjebak dalam kontradiksi yang memilukan. Kita merayakan kedigdayaan teknologi yang mampu menaklukkan ruang angkasa, namun di saat yang sama, kita menyaksikan dekadensi moral dan krisis lingkungan yang mengancam eksistensi kemanusiaan.
Kemajuan material ini rupanya dibayar mahal dengan “kematian jiwa”; sebuah kondisi di mana alam semesta dianggap sebagai benda otonom yang kehilangan kesakralannya, dan manusia merasa tidak lagi memerlukan campur tangan Tuhan.
Pendidikan, yang seharusnya menjadi kompas moral, kini terasa hampa. Ia terjebak dalam pragmatisme dangkal yang hanya memuja angka, sertifikat, dan efisiensi industri. Di tengah gersangnya visi intelektual ini, pemikiran Syed Muhammad Naquib Al-Attas hadir bukan sekadar sebagai alternatif, melainkan sebagai oase radikal. Cendekiawan dan filsuf Muslim besar yang wafat pada usia 94 tahun di Kuala Lumpur, Malaysia, Ahad, 8 Maret 2026, ini menawarkan rekonstruksi mendalam untuk mengembalikan ruh pendidikan yang telah lama hilang dari pangkuan peradaban.
Ta’dib
Kritik paling fundamental Al-Attas bermula dari bahasa. Bagi beliau, bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan cerminan ontologi atau hakikat keberadaan. Menggunakan istilah yang salah berarti merusak cara berpikir seseorang. Al-Attas mengkritik keras penggunaan istilah Tarbiyah yang sangat populer di dunia Islam saat ini.
Secara semantik, Tarbiyah memiliki cakupan yang terlalu luas karena bisa merujuk pada pertumbuhan tanaman atau pemeliharaan hewan. Sementara itu, manusia memiliki keunikan spiritual yang memerlukan “Adab”. Al-Attas berargumen bahwa kegagalan banyak universitas Islam saat ini—yang beliau sebut hanya sebagai “fotokopi universitas Barat”—berakar dari hilangnya presisi semantik ini. Tanpa Ta’dib, pendidikan hanya akan menjadi proses pengasuhan fisik tanpa arah intelektual yang benar.
Beliau mendefinisikan Ta’dib secara monumental sebagai “Pengenalan dan pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan ke dalam manusia tentang tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan sedemikian rupa, sehingga hal ini membimbing ke arah pengenalan tempat Tuhan yang tepat di dalam tatanan wujud dan keberadaan.”
Ketepatan bahasa adalah kunci untuk memperbaiki sistem. Jika kita gagal membedakan antara mendidik manusia dan memelihara ternak, maka kita sedang meruntuhkan fondasi peradaban itu sendiri.
Data dan Ilmu
Di era banjir informasi, kita sering tertukar antara “data” dan “ilmu”. Al-Attas menegaskan bahwa ilmu bersifat spiritual dan tidak bisa dipisahkan dari peran Tuhan sebagai sumber cahaya. Beliau membedakan proses ini dalam dua dimensi: Hushul (datangnya makna sesuatu ke dalam jiwa) dan Wushul (sampainya jiwa pada makna). Namun, sintesis intelektual Al-Attas melampaui itu. Beliau menjelaskan bahwa ilmu terikat pada Enam Tingkatan Eksistensi:
- Haqiqi: Eksistensi nyata pada dataran objektif (dunia eksternal).
- Hissi: Eksistensi indrawi (mimpi, visi, ilusi).
- Khayali: Eksistensi imajinasi dalam pikiran.
- ‘Aqli: Eksistensi intelektual berupa konsep abstrak.
- Syibhi: Eksistensi analogi yang berhubungan dengan daya kognitif.
- Suprarasional: Eksistensi transenden yang dialami para nabi dan wali, di mana segala sesuatu terlihat sebagaimana adanya.
Pendidikan Barat seringkali memenjara siswa hanya pada level ‘Aqli (Intelektual) atau Haqiqi (Empiris), sambil mengabaikan level Suprarasional. Al-Attas menegaskan pentingnya Ma’rifah (Pengenalan) di samping ‘Ilm (Sains). Baginya, ‘Ilm tanpa Ma’rifah adalah sesuatu yang sofistik dan menyesatkan; sebuah pengetahuan yang kehilangan jangkar kebenarannya.
Sistem pendidikan sekuler modern memiliki tujuan yang sangat sempit: menciptakan tenaga kerja produktif atau “warga negara yang patuh” demi mesin ekonomi. Al-Attas melihat ini sebagai pengkhianatan terhadap hakikat manusia. Tujuan pendidikan Islam bukanlah mencetak “sekrup” industri, melainkan menciptakan Insan Kamil atau Manusia Baik.
Beliau mengecam fenomena “penyakit diploma” (diploma disease), di mana orang mengejar gelar bukan demi ilmu, melainkan demi status sosial dan ekonomi. Ini adalah bentuk penyimpangan adab. Seorang Manusia Baik, menurut Al-Attas, secara otomatis akan menjadi warga negara yang baik. Namun, seorang warga negara yang dianggap “baik” oleh negara sekuler belum tentu merupakan manusia yang beradab di hadapan Tuhannya. Pendidikan harus memprioritaskan kualitas jiwa individu sebelum tuntutan kolektif masyarakat.
Islamisasi Ilmu
Gagasan “Islamisasi Ilmu Pengetahuan” sering disalahpahami sebagai pelabelan ayat suci pada sains Barat. Bagi Al-Attas, ini adalah proses dekonstruksi epistemologis yang radikal. Ilmu pengetahuan modern saat ini dianggap tidak netral karena mengandung “racun” pandangan hidup Barat yang harus diisolasi.
Beliau secara spesifik menyebutkan empat unsur asing yang merusak:
- Dualisme: Pemisahan antara realitas material dan spiritual.
- Humanism: Menjadikan manusia sebagai pusat dan ukuran segala sesuatu.
- Ideologi Sekuler: Penafian peran Tuhan dalam kehidupan publik dan ilmu.
- Konsep Tragedi: Keyakinan bahwa keberadaan manusia penuh dengan pertentangan yang berakhir pahit. Dalam Islam, konsep tragedi adalah “racun” karena bertentangan dengan pandangan bahwa dunia adalah tempat pengabdian yang bertujuan akhir pada kebahagiaan ilahi.
Proses Islamisasi menuntut kita untuk membuang elemen-elemen ini dan merekonstruksinya dengan konsep kunci Islam: Manusia, Din, ‘Ilm, dan Adab.
Al-Attas menolak dikotomi antara “ilmu agama” dan “ilmu umum”. Beliau menawarkan integrasi kurikulum yang kokoh, di mana setiap ilmuwan—baik dokter maupun insinyur—wajib memiliki landasan Fardhu ‘Ain sebelum mengejar Fardhu Kifayah.
Kurikulum Fardhu ‘Ain yang radikal menurut Al-Attas harus mencakup:
- Al-Qur’an: Pembelajaran Tafsir dan Ta’wil.
- Sunnah: Sejarah dan risalah kenabian.
- Syariah: Fiqih dan prinsip Ihsan.
- Theology: Ilmu Kalam (mengenal sifat-sifat Tuhan).
- Metafisika Islam: Tasawwuf (psikologi dan ontologi spiritual).
- Linguistic Sciences: Bahasa Arab sebagai kunci memahami wahyu.
Tanpa fondasi ini, keahlian teknis dalam bidang kedokteran atau teknologi (Fardhu Kifayah) hanya akan menjadi alat yang membahayakan karena tidak dipandu oleh nilai-nilai ketuhanan yang absolut.
Kembali ke Adab
Tantangan terbesar kita hari ini bukanlah kekurangan teknologi atau rendahnya GDP, melainkan apa yang disebut Al-Attas sebagai loss of adab (hilangnya adab). Hilangnya adab menyebabkan kerancuan ilmu, yang pada gilirannya akan memicu bangkitnya pemimpin-pemimpin yang tidak layak (the rise of illegitimate leaders); mereka yang memiliki jabatan namun tidak memiliki standar moral, intelektual, maupun spiritual.
Masa depan pendidikan kita bergantung pada keberanian untuk kembali menjadikan Nabi Muhammad Saw sebagai titik pusat—sebagai Manusia Universal yang harus diteladani seluruh dimensinya. Pendidikan harus kembali pada tugas asalnya: memanusiakan manusia melalui penanaman adab.
Penting bagi kita untuk merenungkan apakah sistem pendidikan saat ini benar-benar berfungsi mengembangkan sisi kemanusiaan atau justru hanya mencetak individu sebagai komponen penggerak industri yang kehilangan jati dirinya.













