apijiwa.id – Candi Pawon terletak di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, tepatnya di Dusun Brojonalan, Kelurahan Wanurejo, Kecamatan Borobudur. Candi Pawon terletak di antara Candi Borobudur dan Candi Mendut.
Menurut Edy Sedyawati, dkk dalam Candi Indonesia Seri Jawa (2013), dengan melihat garis lurus antara ketiga candi tersebut, terdapat kemungkinan adanya keterkaitan satu sama lain dalam konsep agama Buddha. Nama Candi ini sering dikaitkan dengan Pawon dari asal kata “perawuan atau perabuan”.
Candi Pawon menghadap barat laut. Dilihat dari bentuknya yang memiliki stupa, candi ini bercorak Buddha. Candi Pawon memiliki tiga bagian: kaki-tubuh-atap, dengan hiasan perbingkaian yang unik. Dalam Relief Dekoratif Simbolik, kita bisa melihat Bodhisatva yang digambarkan seorang tokoh dengan lingkaran cahaya (Siras Chakra). Hal ini menunjukkan tokoh tersebut memiliki tingkat yang tinggi.
Selain itu, kita bisa juga melihat relief unik lainnya, yaitu relief Kalpataru yang dikelilingi makhluk Kinara dan Kinari. Pohon Kalpataru ini sering dimaknai sebagai pohon kesejahteraan dan perlindungan.

Menurut Herliyana Rosalinda, dkk dalam Jurnal Sejarah Citra Lekha (2024), pohon hayat diekspresikan menjadi Kalpataru atau Kalpawerksa di Jawa Tengah yang menjadi salah satu dari lima pohon suci dalam agama Hindu.
Empat pohon lainnya adalah Parijatha, Mandara, Samtana, dan Haricandana. Kelima pohon tersebut dikenal dengan nama Pancawreksa. Dari sekian banyak penyebutan nama tersebut, yang populer adalah Kalpataru. Masih dalam sumber yang sama, pohon Kalpataru dalam agama Buddha merupakan simbol dari pohon Bodhi.
Di ambang pintu, di bawah hiasan kala, ada relief laki-laki gendut yang membawa pundi-pundi dengan berbagai perhiasan. Dalam penyebutan populer sering disebut sebagai Kuwera atau Jambala yang menyimbolkan kekayaan dan kesejahteraan.
Candi Pawon ini diperkiraan didirikan pada pertengahan abad ke-8. Hampir bersamaan dengan Candi Mendut dan Borobudur. Menurut epiraf de Casparis, Candi Pawon diduga sebagai tempat menyimpan abu Raja Indra, ayah dari Raja Samaratungga dari Wangsa Syailendra.
Hal itu didasarkan pada prasasti Karangtengah (824M). Namun menurut filolog dan ilmuwan Perbatjaraka, dengan melihat arsitektur yang mirip dengan Borobudur, Candi Pawon diduga sebagai bagian dari Candi Borobudur yang masih berkaitan fungsinya dalam peribadahan umat Buddha saat itu.
“Teruslah mekar tanpa menjadi layu…”
Meski candi ini berada di tengah perkampungan dan tergolong kecil, namun dari sinilah warisan-warisan megah berjalan dari waktu ke waktu dalam timeline negeri kita.













