Advertisement

apijiwa.id – Kendati usianya sudah hampir 60 tahun, Sri Agustini Djoekanan masih aktif memperjuangkan kehidupan kaum disabilitas yang ada di negeri ini. Perannya tidak bisa dipandang remeh. Berkat perjuangannya, atas izin-Nya, banyak kaum disabilitas yang mendapatkan haknya, serta bisa mencari nafkah dengan bekerja dan berwiraswasta.

“Hakikatnya, kesempatan itu sama diberikan oleh Tuhan, hingga kaum disabilitas itu harus mandiri dan tak boleh minder,” kata Sri Agustini Djoekanan, Ketua Aliansi Perempuan Disabilitas dan Lansia (APDL), membuka obrolan dengan apijiwa.id, dalam sebuah kesempatan usai acara yang digelar APDL baru-baru ini.

Vonis Polio Kaki

Sri Agustini Djoekanan lahir di Kota Bandung, Agustus 1964. Ia terlahir sebagai anak yang normal, bukan disabilitas. Namun, saat usianya menginjak 7 tahun, ia terserang demam tinggi. Orangtuanya membawanya ke sebuah klinik, disuntik, kemudian kejang.

Setelah kejadian itu, ia divonis menyandang disabilitas polio kaki. Sedih tentu saja, tetapi orangtuanya menguatkan hatinya agar ia bisa menerima kenyataan itu. “Saya 7 orang bersaudara, tetapi orangtua tak membeda-bedakan. Saya sendiri disekolahkan di sekolah umum, bukan di SLB,” ujarnya kemudian.

Sekolah SD dan SMP ditamatkannya di Kota Bandung, yaitu di SDN Gambir 4 dan SMP Muslimin Kota Bandung. Sementara SMA-nya ditempuh di dua sekolah, yaitu di SMA Sadange, Kabupaten Purwakarta; lalu pindah dan diselesaikan di SMAN Cicalengka, Kabupaten Bandung.

Sri memutuskan tidak melanjutkan kuliah karena ayahnya meninggal dunia. Sebenarnya, uwaknya menawarkan agar Sri melanjutkan kuliah, tetapi Sri menolak.

“Saya banyak belajar dengan uwak yang bekerja sebagai wartawan, seperti apa kinerja dan sepak terjangnya. Saya juga mendapatkan ilmu dari saudara sepupu saya yang kuliah di UNINUS. Jadi, (meski tidak kuliah) saya tahu seperti apa kuliah itu,” tutur ibu empat anak ini.

Setelah divonis menyandang polio kaki, kehidupan Sri pun berubah. Ia tak bisa lagi leluasa bermain dengan teman sebayanya seperti ketika kakinya masih normal

Sri Agustini Djoekanan berfoto pada sebuah event UMKM bersama BAZNAS.

Oleh kedua orangtuanya, Sri diperkenalkan dengan Prof. Dr. Hermawan Nagar Rasyid, guru besar orthopedi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (UNPAD) Bandung. Saat melihat kaki milik Sri yang mengecil, dokter yang meninggal pada Maret 2023 lalu itu menyarankan agar dioperasi, mengingat Prof. Hermawan juga seorang dokter spesialis bedah orthopedi dan traumatologi di Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung.

“Saat itu kalau tidak salah tahun 1972. Sang dokter saat itu menjadi Ketua Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) yang terus-menerus memotivasi saya untuk bangkit dan tak perlu memikirkan kata cacat yang disematkan kepada saya (dulu belum ada UU Disabilitas—red). Saya juga semakin bersemangat dan bisa terus bangkit karena dorongan dari kedua orangtua yang ingin anaknya tetap bisa meraih cita-citanya,” kenang Sri.

Belajar dari Sosok Ibu

Saat ditanya siapa orang yang bisa membuatnya tegar di dalam menjalani hidup, Sri mengaku banyak belajar dari ibu kandungnya sendiri. Bagi Sri, ibu kandungnya adalah wanita hebat karena bisa mengurus 7 orang anak setelah sang suami meninggal dunia. “Apalagi uang pensiun pegawai negeri Departemen Keuangan saat itu masih terbilang kecil,” jelasnya.

Sri masih ingat kata-kata yang selalu disampaikan ibunya. Apapun keadaan kamu, kamu itu harus kuat dan tak boleh selalu bergantung kepada orang lain. Begitu kalimat yang sering disampaikan ibunya.

Selain ibu kandungnya, sosok lainnya yang berpengaruh baginya adalah dokter yang pernah menanganinya, yaitu Dr. Hermawan Nagar Rasyid, yang selalu memotivasinya agar ia bisa memberikan sebanyak-banyaknya manfaat untuk orang.

Selain kedua sosok itu, seorang Pak Dhe-nya yang tinggal di Jakarta dan salah seorang kakaknya, juga mempengaruhinya. Saat itu Pak Dhe-nya bilang kepadanya, bahwa ia kelak akan menjadi motivator bagi banyak orang pada usia 35 tahun.

“Saat itu saya tak mengerti dengan apa yang dikatakan Pak Dhe. Saat ini saya sadar, kata-kata itu adalah bentuk motivasi bagi saya agar saya berjuang bagi banyak orang,” tegasnya.

Namun Sri mengaku, apa yang dilakukannya selama ini melalui APDL belum bisa dikatakan membantu banyak orang. Ia menganggapnya bukan bantuan, melainkan hanya menjembatani saja.

Membentuk APDL

Sri kemudian menceritakan kisahnya mendirikan komunitas APDL. Menurutnya, ia merupakan tipe orang yang tidak bisa diam. Saat kakak sepupunya kuliah di UNINUS, ia juga turut belajar kepadanya. Sri sendiri termasuk orang yang sangat suka membaca buku, terutama buku biografi tokoh-tokoh sukses dan negarawan ternama seperti Soekarno, Muhammad Ali Khan Buttho, dan Nelson Mandela.

“Saya ingin memberikan yang terbaik kepada kaum disabilitas,” tegas Sri yang mantan atlet disabilitas.

Sebagai mantan atlet disabilitas, Sri Agustini pernah meraih medali emas untuk olahraga Tenis Meja dan Bulu Tangkis di bawah naungan YPOC (Yayasan Pembinaan Olahraga Cacat) pada tahun 1984. Terakhir, tahun 2010, Sri pernah menjadi atlet untuk Kota Bandung yang saat itu berada di bawah BPOC (Badan Pembinaan Olahraga Cacat).

Tidak itu saja, Sri pun aktif pula di YPAC. Sri turut merumuskan tentang Pemilu yang ramah kaum disabilitas pada tahun 2002. Sri juga aktif memimpin HWDI (Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia) Provinsi Jawa Barat selama dua periode, juga di HWPCI (Himpunan Wanita Penyandang Cacat Indonesia).

Sri Agustini Djoekanan mendapatkan penghargaan No. 1 The Best Professional Wowen 2024-2025.

Namun karena Sri merasa, ada perjuangan yang belum bisa dilakukannya untuk kaum disabilitas, maka Sri pun membentuk APDL, kepanjangan dari Aliansi Perempuan Disabilitas dan Lansia. Kaum disabilitas butuh pekerjaan, maka ia memperjuangkan kuota bagi mereka agar bisa bekerja di berbagai instansi dan perusahaan.

“Saya juga melakukan advokasi kesehatan bagi penyandang disabilitas dan berjuang untuk terciptanya perumahan yang ramah terhadap kaum disabilitas,” ungkap isteri seorang dosen yang bertugas di Papua ini.

Sejumlah Penghargaan

Mengenai penghargaan yang telah didapatkannya, sebenarnya Sri tak terlalu berharap, namun Sri mengaku telah sering mendapatkan penghargaan sejak dulu dan sudah tak terhitung lagi.

Sri sendiri tak berharap soal penghargaan, tetapi kalau ada, ia terima. Satu hal yang lebih Sri inginkan adalah memberikan kemanfaatan sebanyak-banyaknya kepada sebanyak mungkin orang tanpa terbatas ruang dan waktu.

“Saya ingin berjuang bagi kaum disabilitas, karena saya sendiri merasakan bagaimana perihnya berjuang untuk kehidupan saya,” imbuh Sri mengenang kisah hidupnya.

Kesibukan Sri Agustini Djoekanan, di antaranya mengabdi kepada kaum disabilitas melalui APDL, mendapatkan dukungan penuh dari suaminya yang kini bertugas sebagai dosen di Universitas Sains dan Teknologi Jayapura (USTJ)—sebelumnya bertugas di Universitas Hasanuddin, Makassar.

Sri sendiri tak bisa menemani sang suami menjalankan tugas di Papua karena satu dan lain hal. Menurut Sri, suaminya juga seorang penyandang disabilitas juga, karena sewaktu kerja di Ambon, ia terkena percikan bom.

Sebagai seorang ibu dan nenek, Sri termasuk ibu dan nenek yang baik di mata anak dan cucunya. Anak dan cucunya memahami apa yang tengah dilakukannya. Mereka juga mulai peka dan sadar, tidak boleh menghina orang dalam keadaan apapun.

Anak-anaknya sudah menikah dan anak pertamanya ia percaya mengelola PT Anugerah Jaya Disabilitas yang memproduksi alat kesehatan. Mereka semua mendukung aktivias Sri dan selalu mengingatkan agar ia selalu menjaga kesehatan karena aktivitasnya yang begitu padat.

Pesan Sri Bagi Kaum Disabilitas

Terhadap para penyandang disabilitas, Sri sangat berharap jangan pernah mengeluh, tapi harus mampu memperkuat kapasitas diri, agar bisa berjuang secara mandiri. “Pokoknya kaum disabilitas harus bisa bekerja, belajar, dan beribadah, sama seperti yang lain,” tegas nenek tujuh cucu ini.

Terus terang, masih kata Sri, kaum disabilitas itu semakin dewasa semakin berat tantangannya, namun jangan ingin selalu dibantu, justru harus bisa membantu yang lain juga. Sri pun mendorong kaum disabilitas agar terus meningkatkan life skill agar bermanfaat dalam kehidupannya.

Sri meminta kaum disabilitas mesti sabar, kuat, dan tidak menjadi beban orang lain, serta harus menjalankan hak dan kewajibannya sebagai seorang Muslim dan juga sebagai warga negara.

“Cita-cita saya yang belum tercapai adalah ingin bisa bersama-sama umrah atau haji bersama kaum disabilitas. Semoga ada rezekinya,” harap Sri yang selalu berdoa untuk cita-citanya ini.

Terkait adanya Hari Disabilitas Nasional atau Internasional, menurutnya, hal itu adalah pengingat bagi segenap stakeholder, pemerintah, dan lembaga yang ada, agar bisa peduli terhadap kaum disabilitas.

Sebenarnya, menurut Sri, tak harus selalu hanya diberi bantuan, akan tetapi dibutuhkan juga pemberdayaan dalam segala hal agar para penyandang disabilitas bisa mandiiri. Jadi, bagi kaum disabilitas sendiri,  tak perlu minder, karena mereka sama di mata Allah, kecuali yang membedakannya adalah iman dan ketakwaannya.

“Tak ada yang ingin menjadi disabilitas, tetapi jika hal itu terjadi, hadapi dengan kesabaran, karena Allah tentu akan selalu memberikan jalan hidup bagi siapa saja yang mau berikhtiar, berdoa, dan bertawakal,” pungkasnya menutup obrolan.

Facebook Comments Box

Penulis: Deffy RuspiyandyEditor: Badiatul Muchlisin Asti

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.