Kesepian Setelah Kita Pergi
Selepas langkahmu menjauh tanpa suara
sunyi menjadi bahasa yang paling fasih
Rumah tak lagi mengenal tawa
hanya gema kenangan yang pulang sendiri
Aku duduk bersama waktu yang enggan berlalu
menyesap rindu yang tak pernah benar-benar dingin
Nama kita masih tinggal di udara
meski kau telah memilih langit yang lain
Malam merangkulku tanpa janji
bintang pun belajar berpaling
Di antara doa yang tak lagi berjawab
aku mengerti: kehilangan adalah guru paling setia
Kini kesepian bukan sekadar ketiadaanmu
ia adalah aku yang sedang belajar utuh kembali—
menjahit hati dengan sisa-sisa cahaya
dan berjalan, meski tanpa tanganmu
Belajar Bernapas Tanpamu
Pagi datang tanpa mengetuk pintu
membawa terang yang terasa asing
Aku menata hari dengan tangan gemetar
seolah hidup harus dihafal ulang
Bayangmu masih setia di sudut mata
namun tak lagi menuntut untuk dimiliki
Aku belajar melepaskan pelan-pelan
seperti daun yang ikhlas jatuh ke tanah
Jika dulu namamu adalah arah
kini ia hanya penanda yang pernah ada
Aku melangkah dengan luka yang jujur
menjadikannya peta menuju dewasa
Dan bila suatu saat kita saling sapa
biarlah senyum yang lebih dulu bicara
bahwa cinta pernah tinggal di sini
dan kesepian telah mengajarkanku hidup
Retak yang Tak Terucap
Aku pulang membawa letih
dan doa-doa yang kupeluk di dada
namun pintu hatimu terbuka
pada sunyi yang tak menyebut namaku
Di meja makan, kata-kata dingin
menjadi piring yang tak pernah terisi
senyummu singkat, matamu jauh—
aku tinggal di rumah, tapi tak lagi pulang
Janji kita menggantung di udara
seperti debu yang enggan jatuh
kau berkata “baik-baik saja”
namun jarak tumbuh di antara napas kita
Aku sang mantan yang belajar sabar
menjahit kecewa dengan benang setia
tapi setiap malam, jarum itu patah
oleh rindu yang tak kau dengar
Bukan marah yang kutitipkan
hanya luka yang ingin diakui
bahwa cinta butuh hadir—
bukan sekadar nama di buku nikah
Jika kau mau menoleh
aku masih di sini,
menunggu retak itu diajak bicara
sebelum ia menjadi dinding yang abadi
Senja yang Terluka
Di ufuk yang memudar, kita berdiri
Bayangan panjang jatuh, memeluk sepi
Janji-janji bisu yang takkan terucap
Kisah kita kini hanya remah yang terkapar
Angin malam membawa rindu yang pedih
Mencabik-cabik hati yang tak lagi utuh
Di matamu, ada genangan air yang surut
Mencerminkan akhir dari segala yang pernah kita rajut
Langkahmu menjauh, meninggalkan jejak kosong
Di mana dulu tawa dan cinta pernah bernaung
Aku berdiri di sini, terperangkap waktu
Menyaksikan duniaku runtuh bersamamu
Ini bukan perpisahan yang mudah
Ini adalah pisau dingin yang menusuk perlahan
Setiap napas terasa seperti desahan terakhir
Karena separuh jiwaku telah pergi bersamamu
Kini, hanya ada ruang hampa yang menggema
Dan kenangan manis yang berubah jadi racun
Hati ini, kini hanya puing-puing yang berduka
Menunggu senja yang takkan pernah kembali cerah






