Masa dan Manusia
Setiap orang ada masanya
Mengembara dalam putaran waktu
Mencari cahaya, menantang gelap
Melangkah di lorong-lorong harapan yang rapuh
Tak selamanya mulus, tak selamanya teduh
Ada masa saat mereka berjaya,
Merangkai mimpi di atas langit tak berujung
Menggapai bintang dengan tangan terbuka
Menghias dunia dengan cita-cita yang agung
Tapi ada pula masa saat mereka runtuh
Tak berdaya di tengah badai yang mengoyak
Berjuang dengan luka yanng menganga
Menyusuri hari-hari yang kelam dan pekat
Setiap masa ada orangnya
Datang silih berganti seperti musim
Ada yang tiba dengan senyum penuh damai
Ada yang pergi membawa rahasia dalam hening
Di tiap sudut waktu yang bergulir
Manusia hadir, menjadi saksi dan pelaku
Menggoreskan sejarah dengan tinta pengalaman
Dan membiarkan jiwa mereka terbuka, lebur oleh debu-debu perjalanan
Siapapun orangnya, tiada yang sempurna
Tak ada manusia tanpa cela, tanpa duka
Semua membawa luka, impian, dan dosa
Belajar menerima, meski terkadang terluka
Sebab hidup bukan tentang kemurnian tak tercela
Tapi tentang keberanian berjalan meski rapuh
Menghadapi bayang-bayang di dalam hati
Dan bertahan meski langkah semakin jauh
Di setiap batas antara hari yang membentang
Ada cerita yang lahir, bertumbuh, dan pudar
Hingga waktu mengambil kembali yang diberi
Menyisakan kenangan dalam sunyi yang bergetar
Untuk mereka yang datang dan pergi
Untuk masa yang singkat namun berarti
Kita semua hanyalah titipan sementara
Seutas doa, seberkas sinar, jejak-jejak fana di dunia
Dan pada akhirnya
Sempurna tak lagi ada dalam kamus kita
Hanya cinta, pengabdian, dan mimpi yang pernah berpendar
Menyatu dalam abadi yang tenang, di ujung segala yang samar
Elegi Waktu
Di rimba waktu, terdapat insan melangkah
Jejak tercipta, tiada terarah
Detik demi detik berlalu, tak bisa dicegah
Membentuk cerita yang begitu penuh gairah
Perjalanan panjang liku membentang
Di setiap tapak tergores asa yang terpasang
Kadang sendiri, kadang berpasang
Menjemput takdir yang tak terbayang
Lalu tibalah sebuah pertemuan
Dua jiwa bersua dalam persatuan
Tawa dan cerita indah terjalin
Mengukir kenangan di hati terpilin
Namun tiba jua, masa berpisah
Hanya air mata membasahi wajah
Bekas yang tertinggal tak akan punah
Mengajarkan hati untuk pasrah
Di antara suka dan derita lara
Terpahatlah momentum takkan terdera
Sebuah titik penuh makna dan bara
Mengubah segalanya hingga fana
Manusia dan waktu tak terpisahkan
Berkisah di dunia yang fana ini
Bertemu dan berpisah silih berganti
Mencari makna di setiap henti
Lembar Waktu yang Terhampar
Manusia, pengelana abadi
Melangkah di bumi tanpa henti
Menyusuri jalan, sunyi dan ramai
Mencari arti di setiap damai
Lembaran waktu terbuka perlahan
Tiap helainya kisah terpatri
Duka dan tawa silih berganti
Menjadi saksi perjalanan
Di setiap tikungan, di setiap jeda
Terukir momentum yang takkan sirna
Saat mata terbuka jiwa menyala
Menangkap makna dalam seketika
Perjalanan ini bukan tanpa tujuan
Meskipun kabut, sering menghalangi
Manusia terus maju dengan harapan
Mewarnai lembar sebelum berganti
Keheningan Tak berpihak
Di ufuk fajar yang bergetar gelora
Suara- suara menggema tanpa makna
Hanya senandungan yang pecah
Terlontar, melayang,lalu hilang
Dalam kabut yang enggan menamai dirinya cahaya
Manusia katanya belajar
Katanya mencari hikmah dari perjalanan
Namun langkahnya sering tersesat
Di lorong-lorong ambisi
Yang menuntut korban
Yang menuntut ingatan terhapus
Seolah yang lain tak pernah ada
Mereka menatap langit
Dengan mata penuh angkuh
Lalu melupakan bumi
Yang retak oleh pijakan rakusnya
Mereka menepuk dada
Menyebut dirinya bijak
Padahal tangan mereka sibuk
Menghitung untung,menutup luka
Yang bukan miliknya untuk ditentukan
Lihatlah segerombolan itu
Caci maki menjadi kebiasaan
Mereka menertawakan jatuhnya orang lain
Seakan itu persembahan bagi kesenangan hati
Mereka menegakkan singgasana rapuh
Dari bata iri
Dari pasir tak sadar diri
Dan setiap kali tawa mereka pecah
Ada hati yang remuk
Ada jiwa yang makin sunyi
Namun keheningan berdiri tak berpihak
Ia tak mengenal nama, tak mengenal kuasa
Ia hanya tahu menjadi saksi
Bagi manusia yang lupa menjadi manusia
Di dalam diamnya
Ia menyimpan segala ratap yang terbuang
Segala bisik yang tak terdengar
Segala luka yang tak sempat disebut doa
Keheningan itu
Lirih namun dalam
Menunggu saat ketika manusia berhenti
Menyulut api dari sesamanya
Menunggu saat ketika fajar kembali bermakna
Bukan sekedar pertunjukan kosong
Yang memuja ambisi
Dan mengabaikan nurani
Kasih dalam Keheningan
Dan jika hari itu tak kunjung tiba
Keheningan tetap tak akan berpihak
Ia akan terus berdiri
Tak tergoyahkan
Sebagai pengingat abadi
Bahwa semua riuh pada akhinya akan tenggelam dalam sunyi
Maka tanyakanlah pada dirimu sendiri
Apa arti belajar bila hanya melupakan?
Apa arti kuasa bila hanya menyakiti?
Apa arti hidup bila ia dihabiskan
Untuk menjatuhkan sesama
Dan menyalakan api iri?
Sebab kelak
Ketika ambisi usai
Ketika mulut tak lagi bisa mencaci
Ketika tubuh kembali menjadi tanah
Yang tersisa hanyalah jejak-jejak kecil yang kau tingkalkan di hati orang lain
Apakah ia luka yang membekas
Atau sebaris cahaya
Yang membuat dunia tak sepenuhnya gelap?
Keheningan akan tetap di sana
Tak berpihak
Tak berbisik
Hanya menunggu
Sampai manusia benar-benar belajar
Bahwa hidup bukan untuk merampas
Malainkan untuk mengasuh
Bukan untuk meninggikan diri
Melainkan untuk merendahkan hati
Dan di ufuk fajar
Jika kau cukup jujur menatapnya
Mungkin kau akan sadar
Yang paling abadi
Bukanlah ambisi
Melainkan kasih yang tulus
Yang tak pernah meminta balasan






