apijiwa.id – Medium kultural merupakan alat atau cara kebudayaan yang digunakan manusia untuk berpikir dan belajar. Aplikasinya mewujud dalam upaya menelisik kearifan lokal sebagai bahan belajar langsung di lapangan, yang kemudian diterapkan sesuai kebutuhan zaman.
Di era informasi saat ini, muncul anggapan keliru bahwa masyarakat kita minim literasi karena faktor historis. Leluhur Nusantara sering dituding lebih menyukai hal-hal mistis, terjebak dalam tradisi tutur yang kabur, dan dianggap terbelakang. Iklim belajar domestik bahkan kerap dibanding-bandingkan dengan Universitas Oxford di Inggris yang sudah berdiri sejak tahun 1096, seolah Nusantara tidak memiliki peradaban maju pada kurun waktu yang sama.
Keraguan ini memicu pertanyaan; mampukah masyarakat dengan warisan budaya yang dianggap minim ini membentuk generasi yang melek literasi dan menjadi pembelajar? Untuk menjawabnya, kita perlu menengok kembali nilai-nilai luhur Nusantara melalui kacamata medium kultural. Esensi dari rekam jejak tersebut dapat kita adopsi untuk membentuk generasi pembelajar masa kini.
Pusat Belajar Dunia di Era Klasik
Keraguan bahwa masyarakat kita tidak melek edukasi sejak dari akarnya jelas keliru. Jika melacak jauh ke periode klasik Nusantara—seperti era Sriwijaya dan Jawa Kuno—kita akan menemukan bukti kuat yang menepis anggapan tersebut.
Jauh sebelum Universitas Oxford berkembang, Nusantara telah menjadi pusat pendidikan yang disegani. Tepatnya sejak abad ke-7, Kedatuan Sriwijaya menjadi pusat belajar agama Buddha terkemuka yang kualitasnya menyamai Nalanda di India.
Kehebatan Sriwijaya ini disaksikan langsung oleh biksu asal Tiongkok, I-Tsing. Ia mencatat bahwa Sriwijaya memiliki pusat belajar yang besar dan terbuka bagi dunia luar, bahkan diperkuat oleh guru-guru besar dari India. I-Tsing bahkan berpesan, jika ada biksu Tiongkok yang hendak belajar ke Nalanda, alangkah baiknya mereka singgah dan belajar terlebih dahulu di Sriwijaya.
Hubungan bilateral ini dipertegas oleh Prasasti Nalanda. Atas izin Raja Dewapaladewa, Raja Balaputradewa dari Sriwijaya membangun sebuah asrama di Kompleks Wihara Nalanda. Balaputradewa juga mengajukan agar tanah di beberapa desa di Nalanda dijadikan Sima (daerah bebas pajak) untuk pemeliharaan asrama tersebut. Di Nalanda, para biksu utusan Sriwijaya tidak hanya mendalami teologi, tetapi juga mempelajari arsitektur, seni pahat, dan ilmu terapan lainnya untuk diimplementasikan saat kembali ke tanah air.
Tradisi Intelektual Jawa Kuno
Ketertarikan masyarakat Jawa Kuno terhadap ilmu pengetahuan melahirkan para silpin (arsitek/pembuat candi) andal. Kompetensi mereka diasah melalui pendidikan di Nalanda (India Utara) dan Nagapattinam (India Selatan).
Tingginya rasa ingin tahu ini membuahkan arsitektur percandian Nusantara yang jauh lebih variatif ketimbang kuil-kuil di India. Para silpin zaman Jawa Kuno bahkan menulis buku panduan arsitektur yang dikenal sebagai Kitab Manasara Silpasastra. Hal ini membuktikan bahwa masyarakat masa itu memiliki semangat tinggi untuk berinovasi melalui budaya belajar yang terstruktur.
Selain itu, Situs Ratu Boko—yang dalam tradisi populer dianggap sebagai istana raja—diduga kuat merupakan pusat belajar agama Buddha bernama Abhayagiri Wihara. Berdasarkan Prasasti Abhayagiri Wihara (792 M), situs ini dibangun oleh Rakai Panangkaran, raja kedua Mataram Kuno, dan berfungsi sebagai pusat pendidikan yang juga menarik minat para pembelajar mancanegara.
Budaya literasi juga terekam jelas dalam inskripsi atau prasasti yang dipahat pada batu, logam, maupun daun lontar. Inskripsi tersebut memuat titimangsa (penanggalan), penetapan sima, hukum kerajaan, hingga kutukan bagi pelanggar aturan. Keberadaan dokumen-dokumen ini menegaskan bahwa kalangan bangsawan, rohaniawan, hingga masyarakat umum sangat memperhatikan budaya baca-tulis.
Khazanah sastra Jawa Kuno seperti Gatotkacasraya dan Sutasoma menjadi bukti sahih kegemaran belajar masyarakat. Jika mencermati relief di candi-candi Jawa, seperti kisah Ari Dharma di Candi Jago hingga Durga Ruwat di Candi Sukuh, kita dapat melihat corak literasi unik yang berfungsi sebagai media edukasi publik pada masanya. Pola pembelajaran kontekstual berbasis visual ini merupakan ciri khas Nusantara, yang secara detail berbeda di setiap wilayah.
Akar Kuat Sistem Kadewaguruan
Masyarakat era Jawa Kuno terbukti tidak buta huruf. Jejak pembelajaran yang mengakar kuat dapat diidentifikasi melalui kisah Raja Airlangga dan Ken Arok. Bukti tertulis mengenai institusi pendidikan tradisional bernama kadewaguruan terlacak dalam Prasasti Pucangan (1041 M).
Dikisahkan bahwa saat terjadi peristiwa mahapralaya—serangan Haji Wurawari yang menghancurkan Kerajaan Dharmmawangsa Teguh—Airlangga bersama pengiringnya, Mpu Narottama, melarikan diri ke hutan. Di sana, Airlangga hidup bersama para resi, belajar agama serta ilmu pengetahuan, hingga akhirnya mampu bangkit mendirikan Kerajaan Kahuripan. Sementara itu, Kitab Pararaton mengisahkan Ken Arok, seorang anak dari kalangan rakyat jelata, yang mendapatkan akses pendidikan dari seorang guru bersama anak-anak pejabat masa itu.
Budaya belajar di Nusantara pada hakikatnya melampaui batasan modern tentang baca-tulis konvensional maupun sarana meraih jabatan formal. Tradisi ini adalah sebuah gerakan membentuk “manusia pembelajar” yang aktif dari segala golongan.
Di tanah Jawa, sistem pendidikan ini berakar dari kadewaguruan, sebuah perguruan di tengah hutan yang dipimpin oleh seorang Dewaguru (Maharesi) serta dibantu oleh murid senior (ubwan dan manguyu). Eksistensi tradisi intelektual ini tercatat kuat dalam berbagai naskah sastra Jawa Kuno seperti Bhomakawya, Sutasoma, Tantu Panggelaran, hingga Pararaton.
Seiring masuknya pengaruh Islam, lembaga pendidikan kuno ini tidak runtuh, melainkan mengalami akulturasi yang dinamis. Arkeolog Agus Aris Munandar mencatat bahwa sistem kadewaguruan ini bertransformasi menjadi pondok pesantren, sebuah wadah pendidikan khas Nusantara yang esensi dan semangat belajarnya masih lestari hingga hari ini.
Kontinuitas Literasi dan Tantangan Modernitas
Setelah masa Hindu-Buddha runtuh, tradisi literasi Islam melahirkan karya-karya monumental seperti Serat Centhini dan Babad Demak. Pada abad ke-19, lahir pula pujangga besar Ranggawarsita.
Salah satu contoh dokumentasi pengetahuan lokal yang unik adalah naskah Warni-Warni (salinan tahun 1918 M) yang tersimpan di perpustakaan Demak. Naskah tersebut memuat panduan pengobatan herbal alami, teknik arsitektur bangunan, hingga ilmu tata tanah pekarangan. Hal ini menunjukkan bahwa perekaman ilmu pengetahuan sekuler dan praktis telah berjalan lama.
Dalam konteks pendidikan karakter, A.T. Winarno dan M.A. Muslim melalui buku Sekolah Membunuhmu (2019) menyebutkan bahwa jauh sebelum konseptualisasi modern diperkenalkan, masyarakat Nusantara telah mengenal konsep Moh Limo sebagai instrumen edukasi moral. Digagas pada era penyebaran Islam sekitar abad ke-14 hingga ke-15, Moh Limo memuat lima larangan utama: Moh Main (tidak berjudi), Moh Ngombe (tidak mabuk), Moh Maling (tidak mencuri), Moh Madat (tidak mengonsumsi candu), dan Moh Madon (tidak berzina).
Namun, dunia modern saat ini cenderung menggerus medium kultural lokal akibat standarisasi dan linearitas yang menyamaratakan kebutuhan belajar antar-daerah. Padahal, setiap wilayah memiliki iklim lingkungan dan pengalaman empiris yang berbeda.
Standarisasi memang memiliki sisi positif, tetapi tidak semua aspek pembelajaran dapat dipaksa masuk ke dalam jalur yang sama. Sebagai analogi; kendaraan balap tidak semestinya dipaksa mengikuti regulasi balapan sepeda, dan kendaraan taktis tempur tidak perlu tunduk pada aturan main truk gandeng.
Pembelajaran kontekstual di lapangan terbukti menghasilkan corak kompetensi dan kepekaan literasi alam yang unik pada setiap individu. Semangat inilah yang sejalan dengan konsep kadewaguruan sebagai simbol masyarakat pembelajar yang dinamis. Menelisik akar sejarah ini bukan berarti terjebak pada romantisme masa lalu, melainkan upaya menghidupkan kembali spirit belajar yang transformatif agar generasi baru mampu menjawab tantangan zaman melalui medium kultural yang nyata.















