apijiwa.id – Selain Candi Ngempon dan Candi Gedong Songo, di Kabupaten Semarang terdapat sebuah candi beraliran Siwa yang cukup unik, yaitu Candi Dukuh. Candi Dukuh terletak di daerah Kabupaten Semarang, tepatnya di Desa Rowoboni, Kecamatan Banyubiru.
Saya penasaran, karena menurut infomrasi yang saya peroleh, candi ini merupakan candi yang sangat misterius dengan tradisi lisan yang cukup melekat di benak masyarakat sekitar.
Candi Dukuh ini memang jarang dikunjungi karena nyaris tak pernah dibahas dan sedikit yang mampir ke candi ini, dibandingkan candi-candi wisata yang lain seperti Gedong songo, Ngempon, atau bahkan Borobudur.
Akhir Desember 2025 lalu, saya mencoba memberanikan diri menelusuri candi yang katanya “sakral” ini. Mengendarai sepeda motor dari rumah, saya butuh waktu sekitar 90 menit hingga tiba di candi ini.
Untuk akses ke Candi Dukuh, saya harus menaiki anak tangga yang sangat banyak. Seolah saya menuju ke negeri kayangan, bertemu dengan para dewa dan belajar kesaktikan. Tempat ini cocok untuk mereka yang gemar berpetualang..
Akses yang menantang jiwa pengelana berpetualang menyapa mahakarya para leluhur yang sangat kultural.
Candi ini terletak di atas perbukitan, tepat di atas danau Rawa Pening. Menurut Niken Wirasanti dalam Candi & Lingkungan (2023), candi memiliki makna yang sepaket dengan lingkungan candi itu didirikan seperti tanah, batuan, sumber air, dan tanaman.
Nah melihat hal itu, saya percaya bahwa Candi Dukuh yang dibangun di perbukitan tentu memiliki pemaknaan yang mendalam terkait kepercayaan masyarakat kala itu. Seolah saya memasuki dunia lain, Candi Dukuh nyempil di antara dedaunan.

Dalam hati saya pun bergumam, “Emmmm, candinya sudah gak ada atapnya ya, tapi masih unik .. mungkin ini dulunya candi perwara kali ya? Dan mungkin di sini dulu banyak bangunan candinya”.
Dalam berbagai sumber yang saya baca, diduga kuat candi ini runtuh karena faktor alam.
Tempat Pelarian Prabu Brawijaya V?
Dalam tradisi lisan, Candi Dukuh sering dikaitkan dengan tempat pelarian Prabu Brawijaya V, Raja Majapahit yang ingin menghindari serangan Demak. Tradisi lisan ini dijabarkan dengan legenda Prabu Brawijaya yang ditulis dalam Babad Tanah Jawi dan Darmagandhul sebagai raja terakhir Majapahit.
Namun, hal itu kiranya perlu dicek kembali dengan sumber-sumber lain seperti prasasti, karya tulis dan berita asing sezaman, serta berbagai penelitan yang relevan.
Kita perlu cek lagi tentang kritik sumber, tanpa mengurangi rasa hormat dengan mereka yang mengagumi dan percaya eksistensi Prabu Brawijaya V. Berikut adalah peringkat sumber sejarah yang disederhanakan dari buku Rahasia Nusantara karya Asisi Suhariyanto (2024) :
- Prasasti
- Peninggalan arkeologis sezaman
- Karya sastra sezaman
- Berita asing sezaman
- Karya sastra zaman kemudian
- Babad dan legenda (termasuk tradisi lisan)
- Interpretasi para ahli
Peringkat 1 sampai 4 disebut sebagai sumber primer, sedangkan peringkat 5 -7 disebut sebagai sumber sekunder.
Dalam kritik sumber sejarah, semakin jauh rentang waktu penulisan sebuah sumber terulis terhadap peristiwanya, berarti sumber tersebut dikatakan sumber yang lemah. Maka dari itu, apakah benar Candi Dukuh merupakan jejak pelarian Prabu Brawijaya V, harus dicek kembali ke sumber primer yang ada, tanpa mengurangi rasa hormat kepada mereka yang mengagumi atau mempercayai eksistensi prabu Brawijaya V.
Kita bisa cek kembali apakah Babad Tanah Jawi dan Darmagandhul ditulis berdekatan dengan peristiwa sejarah atau tidak? Hal ini mungkin bisa jadi bahan pertimbangan lagi, tentunya tetap harus menghormati satu sama lain.
Candi Era Mataram Kuno
Terlepas dari hal tersebut, para ahli menduga candi ini merupakan candi era Mataram kuno jika melihat arsitekturnya yang khas. Diperkirakan, candi ini eksis pada abad 8 atau 9.
Saya pribadi berpandangan Candi Dukuh ini kalau utuh sedikit mirip dengan Candi Gedung Songo atau Candi Ngempon.
Jika kita mengitari candi ini, seolah kita memasuki masa lalu di tengah rindangnya dadaunan. Di atas Danau Rawa Pening yang sejuk, kita bisa melihat betapa hebatnya mahakarya yang terus eksis dari waktu ke waktu.
Candi Dukuh memang unik, candi yang menyapa kita di tengah Danau Rawa Pening yang identik dengan Legenda Baru Klinting. Edy Sedyawati dkk dalam Candi Indonesia Seri Jawa (2013) menjelaskan, candi ini berlatar belakang agama Hindu, karena selain di ruang utama terdapat yoni (seharusnya berpasangan dengan lingga), ditemukan beberapa buah lingga patok.
Maka, karena candi Hindu (Siwa), jika candi ini masih utuh, di relung-relung candinya biasanya kita bisa melihat Agastya, Ganesha, dan Durga Mahesasuramardini.
Candi ini, seolah memberitahu kita, betapa hebatnya leluhur kita dalam membuat mahakarya. Berkaca dari itu, sebagai generasi penerus, kita bisa berkarya dengan potensi diri kita masing-masing, agar senantiasa mewariskan hal-hal baik, dari generasi ke generasi.
















