Advertisement

apijiwa.id – Jawa Tengah, khususnya wilayah Semarang dan sekitarnya, bukan sekadar titik di atas peta, melainkan sebuah “laboratorium besar” yang terkubur di bawah tanah dan rimbunnya vegetasi. Jika kita menarik mundur garis waktu, kawasan ini adalah panggung utama bagi pergulatan peradaban besar Nusantara. Dari lereng gunung hingga lembah-lembah tersembunyi, jejak-jejak masa lalu bercerita tentang era ketika spiritualitas dan alam menyatu tanpa sekat. Salah satu warisan leluhur yang masih menyapa hingga hari ini dapat kita temukan di Desa Candirejo, Kecamatan Pringapus, Kabupaten Semarang.

Secara etimologi, nama Candirejo diduga merupakan perpaduan dua kata yang mencerminkan harmoni antara spiritualitas dan kesejahteraan. Kata “Candi” merujuk pada keberadaan bangunan suci kuno sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur, sementara “Rejo” dalam bahasa Jawa berarti ramai, makmur, atau sejahtera. Asumsi ini terasa kian hidup karena di desa tersebut, reruntuhan bangunan kuno yang diduga candi memang masih eksis hingga kini.

Masyarakat setempat mengenalnya sebagai Situs Candirejo atau Candi Punden. Namun, tak sedikit pula yang menyebutnya Candi Bubrah karena kondisinya yang sudah runtuh dan berserakan saat pertama kali ditemukan. Dalam perkembangannya, nama Candi Punden menjadi lebih populer karena erat kaitannya dengan tradisi ritual masyarakat. Terletak di area perbukitan yang sunyi, situs ini menjadi ruang kontemplasi yang menuntut ketenangan hati—sebuah tempat yang kurang cocok bagi mereka yang gemar mengeluh (gresula) dan maido (mencemooh).

Struktur batuan Candi Punden ini sebenarnya telah dipindahkan dari lokasi aslinya di sebuah tebing yang berjarak sekitar 100 meter dari situs saat ini. Meski telah bergeser, pemindahan ini justru memperkuat dugaan bahwa kawasan tersebut dulunya merupakan sebuah kompleks percandian.

Mari kita telusuri bukti-buktinya lebih lanjut. Pertama; terdapat bagian kemuncak (atas) candi yang saat ini diselimuti kain putih. Di situs ini, tersisa empat bagian puncak candi. Jika kain penutup tersebut dibuka, kita akan melihat pahatan relief yang masih sederhana berupa garis-garis tegak lurus yang mengerucut ke atas—sangat mirip dengan corak pada Candi ke-8 dan ke-9 di Kompleks Gedong Songo, Bandungan.

Foto yang diduga lingga sejati yang berpasangan dengan yoni di kompleks Candi Punden. (apijiwa.id/Ari Tri Winarno).

Berdasarkan corak tersebut, bagian atas ini merupakan elemen dari candi bernapas Hindu (Siwa), yang diduga kuat berfungsi sebagai tempat pemujaan. Hal ini sejalan dengan paparan Riza Istanto dalam Jurnal Imaji (2018), bahwa ornamen pada candi di Jawa merupakan perwujudan estetika Hindu yang berfungsi sebagai media pengabdian dan kebaktian kepada dewa atau roh leluhur. Dalam proses penciptaannya, para silpin (pahat batu) menggunakan pendekatan spiritual untuk menyatukan batin dengan objek pahatan, sehingga setiap karya memiliki “jiwa”.

Secara teknis, keindahan tersebut wajib memenuhi enam syarat utama (Sadangga), yaitu kejelasan bentuk (rupabheda), kesesuaian dengan ide (sadrsya), ketepatan proporsi (pramana), penggunaan warna (warnikabhangga), pancaran rasa (bhawa), dan daya pesona (lawanya). Ragam hias yang meliputi relief naratif, dekoratif, dan ikonik ini pada akhirnya menjadi simbol harmonisasi alam semesta yang mencerminkan nilai kebenaran, kebajikan, dan keindahan.

Bukti kedua adalah keberadaan reruntuhan bangunan kuno lainnya. Di situs ini, kita dapat melihat bagian yang diduga kuat sebagai lingga, yoni, serta sebaran batu-batu kuno di sekitarnya. Menariknya, tak jauh dari lokasi situs, terdapat sebuah sendang atau mata air. Keberadaan sumber air ini memunculkan asumsi bahwa dulunya sendang tersebut merupakan sebuah petirtaan yang berhubungan erat dengan aktivitas ritual candi. Bukan tidak mungkin, Desa Candirejo dulunya merupakan kawasan yang kaya akan kompleks percandian—sebuah hipotesis menarik yang tentu saja masih memerlukan kajian mendalam dari para ahli arkeologi.

Ketika memandangi Situs Candi Punden, sebuah pertanyaan tentu terlintas di benak kita: jika bangunan ini masih utuh, peninggalan dari era manakah ini? Berdasarkan gaya arsitekturnya, diduga kuat bangunan kuno ini sezaman dengan Kompleks Candi Gedong Songo, yaitu dari era Mataram Kuno, dan tentu saja berkaitan erat dengan aktivitas peribadahan.

Niken Wirasanti dalam Candi dan Lingkungan (2023) menjelaskan bahwa penempatan candi di atas bukit atau dataran tinggi bukan sekadar pilihan geografis, melainkan simbol kesucian. Masyarakat masa itu meyakini bahwa semakin tinggi posisi suatu tempat, semakin dekat pula jaraknya dengan dunia atas atau alam para dewa. Oleh karena itu, bukit dianggap sebagai ruang sakral yang melampaui wilayah sekitarnya. Dengan mendirikan candi di area perbukitan, bangunan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi jembatan spiritual yang menghubungkan dunia fana manusia dengan kekuatan surgawi.

Maka, Situs Candi Punden di Desa Candirejo bukan sekadar tumpukan batu kuno, melainkan bukti nyata bahwa leluhur kita di Jawa Tengah adalah para arsitek peradaban yang luar biasa. Meski kini kondisinya tak lagi utuh hingga kerap dijuluki “Candi Bubrah”, sisa-sisa kemuncak dan batuan yoni di sana tetap lantang bercerita tentang keagungan era Mataram Kuno.

Penempatan candi di atas bukit yang berdampingan dengan mata air menunjukkan betapa bijaksananya manusia masa lalu dalam menyelaraskan ritual spiritual dengan kelestarian alam. Setiap pahatannya digoreskan dengan kedalaman batin, menciptakan karya berjiwa yang keindahannya tak lekang oleh waktu.

Melalui kondisi artefak ini, kita diingatkan bahwa Indonesia sangat membutuhkan “narasi” yang kuat tentang jati dirinya. Indonesia bukan hanya negeri yang elok pemandangannya, melainkan tanah air yang memiliki kedalaman sejarah dan karakter yang kokoh. Jika kita mampu menyuarakan sejarah Candi Punden ini dengan bangga kepada dunia, kita sedang membuktikan bahwa bangsa ini telah hidup beradab sejak ribuan tahun silam.

Kita tidak perlu merasa inferior; justru melalui warisan budaya inilah kita dapat membangun citra (branding) Indonesia sebagai bagian dari lini masa peradaban dunia yang mampu menyeimbangkan hubungan antara manusia, Pencipta, dan alam. Narasi yang kuat akan menyadarkan kita untuk berhenti mengeluh, lalu mulai menghargai bahwa setiap jengkal tanah Nusantara adalah laboratorium sejarah yang sangat berharga bagi masa depan.

Facebook Comments Box

Penulis: Ari Tri WinarnoEditor: Badiatul Muchlisin Asti

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.