apijiwa.id – Kabar membanggakan datang dari dunia sejarah Indonesia. Setelah hampir dua abad “merantau” di Belanda, Prasasti Damalung akhirnya resmi kembali ke tanah air. Perjalanan panjang artefak ini bermula ketika ditemukan oleh Residen Semarang, Hendrik Jacobus Domis, pada tahun 1824. Namun, jejaknya sempat menjadi misteri dan tidak tercatat lagi setelah tahun 1825 karena diboyong ke Belanda. Penantian panjang tersebut berakhir melalui kesepakatan resmi di Den Haag pada 31 Maret 2026, yang menandai kepulangan kepingan sejarah berharga ini.
Prasasti Damalung bukan sekadar batu pahatan biasa; ia adalah bukti nyata bahwa bangsa kita telah memiliki peradaban intelektual yang maju. Melalui goresan aksaranya, prasasti ini menyimpan catatan tentang pusat pendidikan kuno serta kearifan lokal masa lalu.
Pusat Intelektual di Kaki Gunung Merbabu
Mengenai isi dan maknanya, Prasasti Damalung mencatat bahwa dahulu Gunung Merbabu merupakan salah satu pusat pendidikan dan keagamaan Hindu-Buddha yang sangat penting di Jawa Tengah. Aktif sekitar abad ke-14 hingga ke-15 menjelang akhir masa Majapahit (berangka tahun Saka 1371 atau 1449/1450 Masehi), kawasan tersebut menjadi rumah bagi pusat-pusat studi yang tersebar dari kaki hingga puncak gunung.
Di sinilah para cendekiawan masa lalu mendalami bahasa, aksara, dan etika. Keberadaan pusat intelektual ini bahkan sempat diabadikan oleh penjelajah legendaris Bujangga Manik dalam laporan perjalanannya. Salah satu bukti fisik terkuat dari aktivitas literasi tersebut adalah Prasasti Damalung yang ditemukan di Dusun Ngadoman, Salatiga ini.
Berdasarkan interpretasi para ahli, isi prasasti ini memuat ajaran moral dan keagamaan yang mendalam. Pesan utamanya menekankan pentingnya integritas: bertindak benar dengan niat tulus, bukan sekadar berpura-pura demi mengejar pujian. Prasasti ini mengajak manusia menjalankan kewajiban spiritual dengan sungguh-sungguh serta menjauhi pikiran buruk.
Selain itu, terdapat peringatan keras bagi mereka yang memiliki kedudukan tinggi untuk senantiasa mematuhi perintah Tuhan; pelanggaran terhadap nilai ketuhanan dipercaya akan membawa kehancuran. Pesan universal lainnya adalah larangan saling memfitnah serta pentingnya menjaga keseimbangan antara kebahagiaan duniawi dan kewajiban spiritual. Hal ini menunjukkan betapa tingginya standar etika yang dijunjung oleh masyarakat kita pada masa itu.
Mandala Merbabu: Simpul Pendidikan di Luar Istana
Dari sudut pandang keilmuan, para ahli menempatkan Prasasti Damalung pada posisi vital dalam kajian bahasa dan sejarah. Temuan ini memotret dengan jelas perkembangan budaya serta sistem nilai masyarakat yang telah terstruktur secara sosial maupun religius.
Hal ini memperkuat penelitian Deny Yudo Wahyudi, dkk dalam Jurnal Studi Sosial (2014) yang menjelaskan bahwa pada era Majapahit, pusat pendidikan keagamaan—yang dikenal sebagai mandala atau kadewaguruan—kerap didirikan jauh dari hiruk-pikuk istana. Lokasi-lokasi sunyi seperti lereng gunung atau hutan dipilih secara sengaja untuk mendukung kedalaman spiritual dan aktivitas intelektual.
Lereng Gunung Merbabu, sebagaimana Situs Gua Pasir, berfungsi sebagai laboratorium literasi tempat karya sastra, prasasti, hingga ajaran luhur dituliskan. Keberadaan pusat pendidikan di wilayah pinggiran ini menjadi bukti otentik bahwa Majapahit memiliki sistem pendidikan yang inklusif dan toleransi beragama yang merata melampaui tembok keraton.
Pulangnya Prasasti Damalung ke Indonesia ibarat menemukan kembali “buku panduan” hidup nenek moyang yang sempat hilang. Pesan yang paling relevan untuk kita pelajari hari ini adalah konsep keadilan pendidikan. Jika dahulu akses intelektual bisa menjangkau pelosok gunung dengan kearifan lokalnya, maka saat ini, sekolah yang layak dan internet cepat seharusnya menjadi hak setiap anak bangsa tanpa sekat geografis.
Selain soal edukasi, prasasti ini menyimpan nasihat yang sangat “menyentil” generasi digital. Di tengah riuhnya media sosial, Damalung mengingatkan kita untuk menjauhi fitnah. Ia menegaskan bahwa kebaikan sejati lahir dari ketulusan hati, bukan sekadar etalase untuk memanen likes, pamer, atau pencitraan demi validasi publik.
Tak hanya bagi masyarakat umum, prasasti ini memberikan peringatan keras bagi para pemegang kekuasaan. Pesannya singkat namun tajam: kepemimpinan tidak boleh disertai kesombongan atau penyalahgunaan wewenang. Barang siapa melanggar aturan Tuhan dan norma moral, niscaya akan menghadapi kehancuran. Pesan ini menjadi cermin retak bagi kondisi kita saat ini yang masih berjuang melawan korupsi dan ketidakadilan.
Sebagai penutup, Prasasti Damalung mengajak kita menjadi pribadi yang seimbang. Kita diingatkan untuk tidak serakah mengejar dunia hingga melupakan ketenangan batin dan kewajiban spiritual. Intinya, kita diajak menjadi bangsa yang maju secara peradaban, namun tetap memiliki adab, kejujuran, dan rendah hati. Kembalinya prasasti ini adalah undangan bagi kita semua untuk memeluk kembali jati diri di tengah dunia yang makin bising dan serba cepat.














