apijiwa.id – Sebagai kota multikultural, Semarang memiliki budaya pesisiran yang unik karena terbentuk dari perpaduan berbagai etnis. Contoh nyatanya adalah Gambang Semarang, sebuah akulturasi seni Betawi, Jawa, dan Cina, serta motif batik lokal yang kental dengan sentuhan Tionghoa.
Tak hanya dikenal sebagai Kota Lunpia dan Kota Atlas, Semarang juga menyimpan berbagai tradisi menarik yang menjadi ciri khasnya, di antaranya adalah Warak Ngendhog yang ikonik.
Naga Unik dari Semarang
Warak Ngendhog memiliki arti warak bertelur. Warak berarti suci, sedangkan ngendhog berarti bertelur. Hewan ikon Semarang ini memiliki makna nafsu yang harus ditaklukkan dengan berpuasa, sedangkan telur diartikan sebagai hasil dari berpuasa.
Fita Nurotul Faizah dalam Academic Journal of Islamic Principles and Philosophy “Prinsip-Prinsip Ekonomi Islam Dalam Simbol Warak Negndhog Perpektif Hermeneutika Dilthey” menyebut Warak Ngendhog sebagai tradisi yang berupa simbol.
Simbol-simbol tersebut memiliki arti atau interpretasi tersendiri. Untuk itu, diperlukan adanya pendekatan interpretatif yang mampu menggali makna di balik ekspresi budaya tersebut.
Simbolisasi Warak Ngendhog secara visual memiliki perpaduan “3 hewan budaya”. Kepala naga mewakili budaya Cina, kaki kambing mewakili budaya Jawa, dan badan unta mewakili budaya Arab—ada juga yang menyebut badan Warak Ngendhog merupakan badan burqa yang masih mewakili budaya Arab.
Hal ini dapat dikatakan, Warak Ngendhog merupakan simbol akulturasi yang mencerminkan keberagaman etnis di Semarang dan menjadi identitas budaya yang unik dan simbol toleransi antaragama dan antarbudaya sebagai ikon yang menyatukan berbagai elemen budaya dan semangat kebersamaan masyarakat Semarang.
Ikon akulturasi ini dikenal sejak abad 19 sekitar tahun 1881-1897, dan mulai diperkenalkan kepada masyarakat Semarang sebagai karya budaya sekitar tahun 1936. Pada 1936, masyarakat semarang pertama kali memperkenalkan Warak Ngendhog untuk menyambut ulang tahun ke-100 Ratu Wilhemina.
Warak Ngendhog dan Dugderan
Warak Ngendhog juga identik dengan tradisi Dugderan, yaitu pawai perayaan menyambut Ramadhan ala orang Semarang. Bisa dibilang, tradisi Dugderan adalah “tarhib Ramadan ala Semarangan”.

Tradisi Dugderan ini telah diadakan sejak tahun 1882 pada masa Kebupatian Semarang di bawah kepemimpinan Bupati R.M. Tumenggung Ario Purbaningrat. Perayaan yang telah dimulai sejak zaman kolonial ini, dulunya dipusatkan di kawasan Masjid Agung Semarang (Masjid Kauman) yang berada di pusat kota lama Semarang dekat Pasar Johar.Dugderan sendiri berasal dari kata ‘dugder’ dalam tradisi dugderan diambil dari perpaduan bunyi bedug ‘dug dug’ dan bunyi meriam yang mengikutinya, yaitu ‘der’. Karena itulah, upacara penyambutan bulan suci Ramadan tersebut disebut dengan nama Dugderan.
Saat ini, Dugderan diadakan seminggu sebelum bulan Suci Ramadan tiba dan berlangsung selama seminggu hingga H-1 puasa pertama. Nah, dalam tradisi Dugderan, Warak Ngendhog tampil sebagai ikon.
Cahyono dalam Jurnal THEOLOGIA, Vol. 29 No 2 (2018) “Warak Ngendog dalam Tradisi Dugderan Sebagai Representasi Identitas Muslim Urban di Kota Semarang” menyatakan, tradisi Dugderan yang diwarnai dengan simbol Warak Ngendog dapat dijadikan sebagai relasi multiagama dalam perspektif agama-gama. Simbol Warak Ngendog dapat merepresentasikan keterbukaan bagi sesama manusia, di mana Semarang menjadi salah satu contoh kota yang memiliki masyarakat multikultural.
Memaknai Warak Ngendhog
Dugderan dan Warak Ngendhog memiliki relevansi yang kuat dalam kehidupan masyarakat masa kini, khususnya di tengah realitas kota yang semakin majemuk dan dinamis. Tradisi Dugderan sebagai perayaan menyambut Ramadan bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan ruang budaya yang mempertemukan nilai keagamaan, tradisi lokal, dan partisipasi publik.
Dalam konteks modern, Dugderan mengajarkan bahwa praktik keagamaan dapat diekspresikan secara terbuka dan menggembirakan tanpa kehilangan makna di dalamnya.
Warak Ngendhog sebagai ikon dari Dugderan menghadirkan pesan moral yang tetap aktual. Makna pengendalian nafsu melalui puasa merefleksikan kebutuhan manusia modern untuk mengelola hasrat, konsumsi berlebihan, dan egoisme sosial.
Hal ini mungkin saja bisa diterapkan lebih luas seperti kalangan wakil rakyat yang harus senantiasa ingat bahwa ia adalah wakil rakyat, penopang suara rakyat, bukan malah semena-mena terhadap rakyat dan hanya menganggap rakyat saat musim Pemilu saja sebagai lumbung suara.
Selain itu, nilai spiritual yang disimbolkan Warak Ngendhog menjadi pengingat penting di tengah budaya instan dan materialistik yang kian dominan. “Telur” sebagai hasil puasa juga relevan sebagai simbol proses bahwa nilai kebaikan lahir dari kesabaran, disiplin, dan kesungguhan.
Lebih jauh, bentuk visual Warak Ngendhog yang memadukan unsur budaya Jawa, Tionghoa, dan Arab, memiliki makna sosial yang sangat kontekstual dengan Indonesia hari ini. Di tengah meningkatnya isu intoleransi dan gejolak identitas, Warak Ngendhog menjadi simbol konkret bahwa perbedaan budaya dan agama dapat hidup berdampingan dan saling melengkapi. Tradisi ini menegaskan bahwa identitas lokal tidak bersifat eksklusif, melainkan terbuka dan merakyat.
Dengan demikian, Dugderan dan Warak Ngendhog relevan sebagai sarana pendidikan budaya dan sosial. Keduanya dapat menjadi medium menanamkan nilai toleransi, kebersamaan, dan kesadaran spiritual kepada generasi muda, sekaligus memperkuat identitas kota Semarang sebagai ruang hidup multikultural yang harmonis.
Sejak dulu, leluhur kita telah mewariskan semangat toleransi antaragama maupun etnis. Namun hal tersebut seolah hilang karena kepentingan perut penguasa untuk tujuan tertentu, seperti lumbung suara dari masyarakat. Maka, dengan mengambil makna dari Warak Ngendhog ini, seharusnya kita mampu menjaga persatuan dan kesatuan, dari hal yang terkecil.














