Advertisement

apijiwa.id – Tak banyak alias sedikit seni pertunjukan yang autentik khas Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Menurut sejumlah sumber, satu-satunya yang secara valid bisa disebut sebagai warisan budaya dalam bentuk seni pertunjukan khas Kabupaten Grobogan adalah Tari Gondorio. Atau ada yang menyebutnya dengan istilah Reog Gondorio.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) Republik Indonesia melalui situs warisanbudaya.kemdikbud.go.id telah mencatat Kesenian Reog Gondorio sebagai ikon tarian tradisional Kabupaten Grobogan dengan nomer 2011002085 (tahun 2011). Disebutkan dalam situs tersebut, Kesenian Reog Gondorio merupakan ikon tarian tradisonal yang cukup terkenal di Kabupaten Grobogan, yang usianya sudah ratusan tahun.

Kesenian Reog Gondorio masih terasa asing di telinga masyarakat, sedang warga masyarakat Grobogan sebagai daerah kelahiran Reog Gondorio banyak yang belum mengetahui apa dan bagaimana bentuk kesenian tersebut. Berbeda dengan Reog Ponorogo yang mempunyai ikon Singo Barong raksasa, Reog Gondorio lebih menonjolkan gerakan akrobatik dari dua orang penari utama.

Meski narasi bahwa kesenian Reog Gondorio telah berusia ratusan tahun perlu dikoreksi, namun sejumlah sumber memang menyebutkan bahwa secara genealogis Reog Gondorio merupakan seni pertunjukkan asli Kabupaten Grobogan.

Menurut Mbah Reban (77 tahun), generasi kedua yang memopulerkan Reog Gondorio, menyatakan bahwa Reog Gondorio dikreasi oleh seorang seniman bernama Mbah Porjo. Mbah Reban sendiri mengaku menjadi generasi kedua yang mewarisi Reog Gondorio dari Mbah Porjo sekaligus dirinyalah yang memopulerkannya pada era tahun 1980-an hingga 1990-an.

Mbah Reban mengaku, saat masih aktif mementaskan Reog Gondorio, dirinya tidak hanya diundang pentas di dalam Kabupaten Grobogan saja, namun sudah lintas kabupaten seperti di Demak, Magelang, Kudus, dan sejumlah daerah lainnya.

Sejak jatuh sakit, Mbah Reban tak lagi bisa pentas hingga sekarang. Menurutnya, generasi pelaku Reog Gondorio yang autentik sudah tidak ada lagi, meski saat ini masih ada yang mementaskan Reog Gondorio dengan sedikit pengubahan di sana-sini.

Tentang Tari Gondorio

Sejumlah sumber menyebutkan, Tari Gondorio memiliki regenerasi yang kurang baik. Dari sekitar 57 grup reog di Kabupaten Grobogan, tidak semuanya memiliki penari gondorio. Yang punya penari hanya bisa dihitung dengan jari.

Penyebabnya tak lain karena tari ini membutuhkan teknik khusus, fisik yang kuat, serta kedisiplinan yang tinggi. Kalau seorang pemain sembrono, akibatnya bisa sangat fatal. Regenerasi yang buruk inilah nampaknya yang menjadi penyebab Tari Gondorio sulit dijumpai saat ini.

Lalu apa itu Tari Gondorio? Candra Nur Cahyani dalam skripsinya berjudul Fenomena Erotis Tari Gondorio dalam Kesenian Reog Gondorio Grup Indah Priyagung Laras Kabupaten Grobogan (2019) menyebutkan, Tari Gondorio dalam Kesenian Reog Gondorio merupakan tari berpasangan laki-laki dan perempuan yang biasa difungsikan sebagai hiburan dalam upacara-upacara adat Jawa seperti bersih desa, pernikahan, sunatan, slametan, dan even lainnya.

Tari Gondorio memiliki ragam gerak yang unik dengan posisi penari perempuan yang lebih banyak digendong oleh penari laki-laki. Selain itu, terdapat pula bentuk saweran dengan cara penari perempuan menerima uang menggunakan mulut. Bentuk saweran ini sering dimanfaatkan oleh penonton untuk mencari kesempatan agar bisa berciuman dengan penari.

Terkait genealogi nama Gondorio, Nurfarida Saptinasari dalam skripsinya berjudul Garap Tari Gondorio di Paguyuban Reog Wahyu Banteng Kembar Kabupaten Grobogan (2020) menyebutkan, nama Gondorio diambil dari nama gendhing yang mengiringi tarian tersebut, yaitu gendhing Gondorio. Maka tarian tersebut diberi nama Tari Gondorio.

Gondorio sendiri merupakan sebuah gendhing yang menggambarkan seorang bapak yang sedang mengudang anaknya. Tari Gondorio merupakan tari berpasangan laki-laki dan perempuan. Penari Gondorio biasanya merangkap sebagai pemain jaranan. Gerak Tari Gondorio menuntut peran penari pengghondo (penari laki-laki) untuk mampu menopang tubuh penari sintren (penari perempuan) dan melakukan atraksi gendongan-gendongan yang atraktif dan variatif.

Menurut Nurfarida, Tari Gondorio merupakan kesenian yang paling populer di Kabupaten Grobogan. Tari Gondorio menjadi primadona di kalangan masyarakat, karena selain menghibur, Tari Gondorio juga disajikan cukup interaktif di tengah-tengah masyarakat.

Dalam pertunjukannya, tarian tersebut selalu melibatkan penonton, misalnya penonton yang memberikan saweran kepada penari. Tari Gondorio sendiri konon terinspirasi dari Tari Bali. Oleh karena itu, pola gerak yang dihadirkan tarian tersebut sedikit banyak terdapat pada pola-pola dalam Tari Bali.

Gendhing Gondorio

Pertunjukan Tari Gondorio memiliki ciri kerakyatan yang memberikan kebebasan berekspresi dan spontanitas para pendukungnya. Pola-pola gerak tarinya sederhana dan akrab dengan masyarakat. Keleluasaan dalam berekspresi juga memungkinkan terjadinya interaksi komunikasi antar pelaku secara harmonis.

Berikut adalah gendhing Gondorio yang digunakan dalam Tari Gondorio:

Gandhuk gondorio
Gandhuk manuke opo
Manuk manuk plenjak
Menclokane witing jarak
Ojo mlencok witing jarak
Mlenclok seng tukang pencak
Eeee… sawonggaling

Dighondo karo dililing
Gandhuk gondorio
Gandhuk manuke opo
Manuk manuk lori
Menclokane witing pari
Ojo menclok witing pari
Menclok o seng dadi siji
Eee…. sawogletak

Jenggelek bali meneh
Gandhuk gondorio
Gandhuk manuke opo
Manuk-manuk podhang
Penclokane witing gedhang
Ojo menclok witing gendang
Menclok o nang tukang kendang
Eeee… sawogletak
Aja delek bali meneh

Terjemah dalam bahasa Indonesia sebagai berikut:

Lagu gondorio
Lagunya burung apa
Burung-burung plenjak
Hinggapnya di pohon jarak
Jangan hinggap di pohon jarak
Hinggaplah pada pemain pencak
Eeee… sawonggaling

Ditimang sambil dihibur
Lagu gondorio
Lagunya burung apa
Burung-burung lori
Hinggapnya di batang padi
Jangan hinggap di batang padi
Hinggaplah untuk bersatu
Eeee…. sawogletak

Berdiri kembali lagi
Lagu gondorio
Lagunya burung apa
Burung-burung podang
Hinggapnya di pohon pisang
Jangan hinggap di pohon pisang
Hinggaplah di pemain kendang
Eee… sawogletak
Jangan sembunyi kembali lagi

Adapun gendhing dalam Tari Gondorio tersebut dinyanyikan berulang-ulang sampai Tari Gondorio selesai. Alat musik yang digunakan adalah saron, drum, bonang, kenong, kempul, gong, dan gambang.

 

Facebook Comments Box

Penulis: Badiatul Muchlisin AstiEditor: M. A. Fathan

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.