apijiwa.id – Jika ada satu hal yang membuat buku ini berbeda dari catatan perjalanan kebanyakan, maka itu adalah “kejujuran batin” yang begitu telanjang di dalamnya. Kiai M. Faizi tidak berpretensi menjadi pahlawan jalanan atau seorang petualang gagah yang menaklukkan kerasnya hidup di terminal.
Ia justru hadir sebagai seorang pejalan yang kadang lapar, kadang bingung mencari arah, kadang kehabisan ongkos, tetapi tetap bersyukur karena hidup memberi kesempatan untuk melihat apa yang tidak dilihat orang lain: sisi kemanusiaan yang paling sederhana.
Kita merasakan aroma kesunyian sekaligus kehangatan dalam setiap langkah penulis. Ia tidak malu menceritakan dirinya yang pernah tertidur di musala terminal dengan sarung yang menjadi selimut sekaligus bantal.
Ia tidak segan berkisah tentang penumpang yang menatapnya penuh curiga atau supir yang menyangka ia intel hanya karena cara bicaranya rapi. Ia menuliskan pengalaman bertemu tokoh besar dan orang kecil dengan porsi yang sama; seolah jalan telah menghapus hierarki sosial dan menyisakan satu identitas saja, yaitu manusia.
Dengan demikian, buku ini menjadi cermin perjalanan spiritual yang sambil lalu menyentuh tema besar kehidupan: cinta, kehilangan, rindu, kesepian, persahabatan, sekaligus pengharapan. Setiap fragmen adalah doa yang dipanjatkan melalui langkah—sebuah tirakat yang merunduk, bukan yang melambung tinggi dalam kesombongan intelektual.
Tidak heran jika banyak pembaca akan merasakan getaran batin yang sama: bahwa jalan bisa menjadi pesantren, dan terminal bisa menjadi majelis ilmu yang sunyi namun penuh hikmah.
Hal yang menarik adalah bagaimana penulis merekam perubahan zaman tanpa terkesan menggurui atau bernostalgia secara berlebihan. Pembaca seolah diajak naik bus ekonomi era 1990-an, menyusuri jalur Yogya-Surabaya–Madura-Jember, lalu meloncat ke moda bus antarkota antarprovinsi yang penuh aplikasi dan sinyal internet.
Di sana kita melihat bahwa dunia berubah—tetapi jiwa spiritual seorang musafir, seorang santri jalanan, tetap berpegang pada kesederhanaan. Faizi seolah berkatat, teknologi boleh mempercepat perjalanan, tetapi tidak akan pernah menggantikan momen duduk diam di bangku terminal sambil menyesap kopi panas, memandang orang berlalu-lalang, dan merenungi kehidupan (hlm. 53).
Kiai Faizi juga layak disebut sebagai perekam “geografi rasa” Nusantara. Ia tidak hanya menuliskan kota, pelabuhan, dan terminal sebagai titik koordinat, tetapi juga sebagai ruang batin. Terminal Purabaya bukan sekadar lokasi keberangkatan, tetapi tempat bertemu kenangan.
Pelabuhan Kamal bukan hanya dermaga, tetapi pintu menuju kehidupan Madura dan kepulauannya. Jalanan menuju Guluk-Guluk bukan sekadar rute pulang, tetapi ruang spiritual yang memanggil pulang setiap jiwa perantau. Dengan ketajaman rasa semacam ini, pembaca akan merasa ikut hadir, ikut tersenyum, dan ikut merenung (hlm. 160).
Dari segi literasi, buku ini menjadi kontribusi penting bagi khazanah adab perjalanan dalam perspektif pesantren. Jika dunia modern sering mengglorifikasi traveling sebagai gaya hidup untuk pamer foto dan destinasi eksotis, Faizi mengembalikan perjalanan kepada fitrahnya: sebagai jalan tafakkur dan tadabbur. Ada semangat religius yang lembut tetapi mengalir kuat: bahwa berjalan adalah ibadah, dan manusia yang ditemui adalah ladang pahala untuk berempati dan membantu sebisanya.
Buku ini tidak berdiri sendiri. Ia melanjutkan napas karya‐karya sebelumnya seperti Celoteh Jalanan, Tirakat Jalanan, dan Fikih Jalan Raya. Namun, Dari Terminal ke Terminal tampak lebih matang dan lebih utuh.
Jika Celoteh Jalanan adalah catatan spontan dan Tirakat Jalanan adalah renungan spiritual, maka buku terbaru ini adalah perpaduan keduanya berupa pengalaman konkret yang telah melewati proses kontemplasi mendalam.
Kita melihat bagaimana autor berubah dari bocah pesantren berbekal ransel dan sedikit uang menjadi seorang kiai yang tetap sederhana meski dihormati banyak orang. Di sana ada kesinambungan antara masa muda dan kedewasaan, antara keberangkatan dan kepulangan.
Menarik pula bahwa penulis menyelipkan kisah “pertemuan singkat” sebagai ruang renungan. Ia bertemu seseorang sekali, bercakap hanya sebentar, tetapi menyimpan kisah itu dalam ingatan selama puluhan tahun. Nama‐nama random, wajah orang asing, suara terminal yang riuh—semuanya menjadi memori yang memupuk kerendahan hati.
Pembaca akan belajar bahwa setiap orang yang ditemui di jalan sebenarnya membawa pesan Tuhan, bahwa tidak ada pertemuan yang benar-benar sepele dalam kehidupan ini.
Gaya narasi Faizi seolah mengikuti irama langkah, kadang cepat dan menggelitik, kadang lambat penuh rasa, kadang tajam menohok, namun selalu jernih. Ia mampu menertawakan dirinya sendiri, mengolok pengalaman pahit dengan ringan, dan memandang kesialan sebagai bahan syukur.
Dalam dunia yang hari ini penuh keluhan, buku ini menghadirkan nafas yang segar: keteguhan, ketawadukan, dan kemampuan menemukan nikmat dalam rasa cukup.
Pada akhirnya, buku ini bukan hanya karya himpunan esai, bukan pula sekadar buku perjalanan. Ia adalah buku adab, buku rasa, buku yang mengajarkan bahwa hidup adalah perjalanan panjang menuju pulang, dan setiap pemberhentian adalah madrasah kecil untuk belajar sabar, syukur, dan cinta.
Bagi para santri perantau, penumpang bus kelas ekonomi, pejalan kaki yang mengandalkan keberanian, atau siapa pun yang pernah duduk termenung di bangku terminal sambil memeluk tas lusuh, buku ini akan mengetuk pintu hati.
Dari Terminal ke Terminal adalah salam rindu untuk jalan raya, untuk orang-orang yang pernah singgah dalam hidup dan untuk diri kita sendiri yang masih terus berjalan mencari makna. Sebuah buku yang membuat kita ingin kembali menjadi pengelana yang bersyukur.
Identitas Buku:
Judul: Dari Terminal ke Terminal: Fragmen‐Fragmen Kemanusiaan dari Jalanan
Penulis: M. Faizi
Penyunting: Edi AH Iyubeno
Penerbit: Diva Press, Yogyakarta
Tebal: 197 halaman
Cetakan: September 2025
ISBN: 978 6347 0566 253












