Advertisement

apijiwa.id – Pencak silat adalah seni bela diri asli Indonesia yang menuntut konsentrasi tinggi. Unsur-unsur kebudayaan Tionghoa, serta nilai-nilai agama Hindu, Buddha, dan Islam, turut memengaruhi perkembangan seni beladiri ini. Meski belum ada data pasti mengenai waktu kemunculannya, pencak silat dipercaya telah ada di Nusantara sejak abad ke-7.

Seiring waktu, tekniknya terus berevolusi melalui interaksi budaya dengan India, Cina, dan pengaruh luar lainnya. Menarik untuk ditelusuri apakah terdapat bukti konkret berupa prasasti atau sumber sejarah sezaman dari era Nusantara klasik (abad ke-4 hingga ke-15) yang mencatat keberadaannya.

Dalam tulisan Melacak Indonesia Kuno Melalui Prasasti (2012), Boechari mengulas peristiwa penumpasan komplotan bandit pada era Jawa Kuno oleh lima tokoh pahlawan, sebagaimana terekam dalam Prasasti Mantyasih. Peristiwa heroik ini kerap diidentifikasi sebagai cikal bakal atau “akar” dari seni bela diri yang kini kita kenal sebagai Pencak Silat.

Bukti fisik lainnya dapat ditemukan pada relief Candi Borobudur yang secara visual menampilkan berbagai adegan pertarungan. Selain itu, Prasasti Hantang turut memberikan gambaran mengenai peran bela diri dalam stabilitas politik. Prasasti ini merupakan bentuk apresiasi Raja Jayabhaya kepada warga Desa Hantang atas loyalitas mereka dalam perang melawan Jenggala, yang berakhir dengan bersatunya kembali kedua wilayah tersebut di bawah kekuasaan Kediri.

Secara kontekstual, kemampuan bela diri merupakan instrumen vital dalam pertempuran masa itu. Hal ini dipertegas dalam literatur klasik seperti Kakawin Ramayana, Mahabharata, dan Arjunawiwaha yang secara eksplisit mengisahkan teknik pertempuran berbasis seni bela diri sebagai modal utama para ksatria.

Menurut kajian Rif’iy Qomarullah dan Fredik Sokoy dalam Journal of History and Cultural Heritage (2024), pencak silat menduduki posisi strategis dalam sistem militer Kerajaan Majapahit. Sebagai imperium yang menguasai jalur darat dan laut, Majapahit memerlukan teknik bertarung yang dinamis. Pencak silat pun hadir sebagai solusi taktis yang efektif untuk perang gerilya, sabotase, hingga pertempuran jarak dekat di atas kapal berkat aspek kelincahan dan kecepatannya.

Lebih lanjut, sumber sejarah seperti Pararaton dan Kidung Sundayana mengonfirmasi bahwa kesuksesan militer Majapahit tidak lepas dari kemahiran bela diri para prajuritnya. Selain aspek fisik, pencak silat juga membekali mereka dengan ketangguhan mental, disiplin, dan kemampuan koordinasi dalam formasi tempur kelompok.

Secara filosofis, pencak silat melampaui fungsi militer dengan merepresentasikan identitas budaya Majapahit. Seni ini mencerminkan prinsip harmoni, pengendalian diri, dan keselarasan hidup, yang merupakan nilai-nilai inti dalam pandangan dunia masyarakat pada masa itu.

Selain fungsi praktisnya, pencak silat juga menjadi bagian tak terpisahkan dari upacara adat dan kegiatan sosial, yang menjadikannya simbol pemersatu serta identitas bangsa. Keberlangsungan seni ini terjaga berkat tradisi lisan, sistem pendidikan di perguruan, serta dukungan penuh dari pihak kerajaan di masa lampau. Kemampuannya untuk terus beradaptasi membuat pencak silat tetap eksis dan berkembang sebagai warisan budaya yang relevan hingga saat ini.

Merujuk pada karya Peter Carey dalam Kuasa Ramalan (2019), pada abad ke-19 terdapat kelompok petani di Jawa yang mahir dalam seni bela diri, yang kemudian dikenal dengan sebutan “jago” atau “jawara”. Eksistensi ahli bela diri ini juga tercermin dalam berbagai tradisi dan cerita rakyat, seperti kisah legendaris Si Pitung dari Betawi. Hingga saat ini, pencak silat terus mengalami transformasi dan melahirkan beragam aliran besar, di antaranya Raga Jati, Perisai Diri, Merpati Putih, PSHT, Naga Hitam, Pagar Nusa, hingga Tapak Suci.

Pada sidang ke-14 di Bogota, Kolombia tahun 2019, UNESCO secara resmi menetapkan Pencak Silat sebagai Warisan Budaya Tak Benda Dunia. UNESCO mencatat bahwa meski istilah “Pencak” lebih populer di Jawa dan “Silat” di Sumatra Barat, keduanya merupakan satu kesatuan seni bela diri yang kaya akan keberagaman gerakan, musik, dan kostum khas daerah. Lebih dari sekadar teknik bertarung, Pencak Silat mengajarkan keseimbangan hubungan antara manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam semesta.

Prinsip utamanya adalah perlindungan diri dan keharmonisan sosial, bukan kekerasan. Di Indonesia, olahraga ini dinaungi oleh Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) yang didirikan di Surakarta pada 18 Mei 1948 di bawah koordinasi KONI. Sebagai simbol persatuan dan identitas nasional, Pencak Silat menjadi jati diri bangsa yang membuat Indonesia dikenal dan dihargai di mata dunia.

Pencak silat merupakan warisan luhur yang berperan penting sebagai simbol persatuan dan jati diri bangsa Indonesia. Di tengah persaingan global, identitas budaya seperti inilah yang memberikan ciri khas unik sehingga sebuah negara dapat dikenal dan dihormati oleh bangsa lain.

Melalui konsep budaya kewarganegaraan (civic culture), masyarakat diajak untuk menyadari jati diri mereka, yang jika dipupuk dengan baik, akan membentuk pondasi sosial yang kuat. Selain itu, pencak silat memiliki potensi besar dalam membangun pendidikan karakter, menggerakkan roda ekonomi melalui sektor pariwisata dan prestasi olahraga, hingga akhirnya memperkokoh persatuan dan kesatuan nasional.

Facebook Comments Box

Penulis: Ari Tri WinarnoEditor: Badiatul Muchlisin Asti

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.