apijiwa.id – Bayangkan pada suatu sore di bulan Ramadan, saat kumandang azan Magrib hampir berkumandang dan aroma pandan mulai menyeruak hangat dari dapur. Di atas meja, satu hidangan hadir menyambut: kolak. Teksturnya yang legit, perpaduan rasa manis dari gula merah yang kental, serta gurihnya santan, seolah menjadi penawar dahaga dan lapar yang paling dinanti.
Tak hanya pisang dan ubi, kolak hadir dalam beragam rupa—mulai dari gurihnya waluh, kenyalnya kolang-kaling, aromatiknya mata nangka, hingga variasi modern yang menggunakan durian.
Namun, pernahkah kita sejenak merenung di tengah suapan demi suapan kolak yang hangat? Mengapa kudapan ini seolah menjadi “wajib” hadir setiap bulan suci tiba sebagai menu takjil?
Ternyata, di balik kesederhanaan semangkuk kolak, tersimpan lapisan makna mendalam yang sengaja disisipkan oleh para pendahulu kita. Kolak bukan sekadar pengisi perut, melainkan sebuah narasi spiritual yang tersamar dalam cita rasa.
Menelisik Etimologi
Secara bahasa, nama “Kolak” diyakini tidak muncul begitu saja. Terdapat teori yang mengaitkan istilah ini dengan akar kata dari bahasa Arab. Sebagian pendapat menyebutkan bahwa kolak berasal dari kata Kul laka yang secara harfiah berarti “makanlah, untukmu”. Namun, ada pula tafsir yang jauh lebih transendental yang menghubungkannya dengan konsep ketuhanan.
Kolak berasal dari kata Khaliq yang berarti ‘Pencipta, pencipta alam semesta’ yang menunjuk kepada Allah Swt. Dari asal-usul penamaan ini, kolak bertujuan agar bisa menjadi pengingat bagi setiap orang untuk selalu mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Melalui etimologi ini, bahasa digunakan sebagai media pengingat spiritual. Kita diajak memahami bahwa setiap rezeki yang kita nikmati saat berbuka adalah pemberian langsung dari Sang Khaliq, sekaligus menjadi sarana untuk memulihkan hubungan kita dengan-Nya.
Makna Simbolik
Apapun bahan isiannya, santan adalah elemen yang tak boleh absen. Kehadirannya bukan sekadar sebagai penyedap atau pemberi tekstur yang kaya. Dalam filosofi masyarakat Jawa, santan atau santen memiliki rima yang serupa dengan kata pangapunten, yang berarti permohonan maaf.
Warna putih santan yang bersih melambangkan hati yang suci. Penggunaannya dalam kolak menjadi simbol pengingat bahwa Ramadan adalah momentum terbaik untuk membersihkan hati. Manusia diharapkan senantiasa rendah hati untuk mengakui kesalahan dan memohon maaf, baik kepada sesama manusia maupun di hadapan Ilahi.
Jika kita menilik tradisi, jenis pisang yang paling lazim digunakan adalah pisang kepok. Pemilihan ini pun memiliki muatan dakwah yang halus. Kata “Kepok” dalam telinga masyarakat Jawa sangat identik dengan istilah kapok, yang bermakna jera.
Melalui pisang kepok, kolak menjadi media dakwah implisit yang mengingatkan penikmatnya agar memiliki rasa jera dalam berbuat dosa. Setiap suapan pisang membawa pesan agar manusia segera bertobat dan memiliki tekad untuk tidak lagi mengulangi kesalahan yang sama di masa depan.
Isian populer lainnya adalah ubi jalar, atau dalam bahasa Jawa dikenal sebagai telo pendem. Istilah pendem yang berarti “dikubur” mengandung pesan kontemplatif yang mengajak kita menundukkan pandangan ke bumi.
Karakter ubi yang tumbuh di dalam kegelapan tanah melambangkan dua hal: pertama, sebuah ajakan untuk mengubur kesalahan-kesalahan masa lalu sedalam mungkin. Kedua, ia menjadi pengingat yang sunyi namun pasti tentang kefanaan raga.
Sebagaimana ubi ini, suatu saat manusia pasti akan “dipendem” atau dikubur di dalam tanah. Sifatnya yang membumi mengingatkan kita untuk senantiasa mempersiapkan bekal sebelum masa itu tiba.
Melacak Jejak Sejarah
Hingga kini, asal-usul kolak masih menjadi perdebatan menarik. Pakar kuliner William Wongso menduga kolak berakar dari Timur Tengah karena kegemaran masyarakat di sana pada makanan yang sangat manis. Namun, arkeolog Dwi Cahyono memberikan perspektif yang lebih mengakar pada tradisi Nusantara.
Faktanya, masyarakat kita telah akrab dengan rasa manis sejak masa Hindu-Buddha. Sejarah mencatat kehadiran “saksi-saksi bisu” berupa prasasti dan naskah kuno:
- Kilang: Minuman dari nira kelapa, aren, atau tal yang direbus. Sari tebu atau nira ini jika direbus terus-menerus akan mengental dan menjadi dasar dari pembuatan gula merah—fondasi utama rasa manis kolak.
- Prasasti Watukura (902 M) & Prasasti Alasantan (939 M): Dua dokumen kuno ini telah menyebutkan eksistensi kilang sebagai minuman yang digemari dari rakyat hingga bangsawan.
- Juruh: Minuman manis dari tanaman palma yang juga populer di masa Jawa Kuno.
- Gendis: Istilah kuno untuk gula, membuktikan bahwa preferensi rasa manis adalah warisan leluhur yang panjang.
Menariknya, sebelum identik dengan Ramadan, kolak konon hanya disajikan pada bulan Ruwah (Sya’ban). Dwi Cahyono menganalisis bahwa kolak kemungkinan besar adalah evolusi dari resep kuno—perpaduan antara kilang dan santan—yang kemudian “direbranding” dengan nama Arab oleh para penyebar agama Islam.
Ini adalah strategi kreatif agar kuliner lokal dapat bertransformasi menjadi media pembelajaran budi pekerti dan dakwah yang efektif.
Pada akhirnya, kolak adalah bukti nyata kreativitas masyarakat Nusantara dalam menyatukan rasa, tradisi, dan pesan spiritual. Ia bukan sekadar perpaduan ubi, pisang, dan santan, melainkan sebuah mahakarya budaya yang mampu menyampaikan pesan ketuhanan dengan cara yang sangat lembut dan manis.
Melalui semangkuk kolak, kita belajar tentang pertobatan, kerendahan hati untuk meminta maaf, dan pengingat akan akhir hayat.














