apijiwa.id – Di tengah gempuran tren creamy drink, kopi susu kekinian, dan minuman modern berbasis matcha yang mendominasi kedai-kedai saat ini, wedang ronde terbukti tak pernah kehilangan pesonanya. Semangkuk kehangatan ini tetap punya tempat spesial di hati masyarakat—mulai dari generasi muda yang mencari kenyamanan di malam hari yang dingin, hingga mereka yang merindukan khasiat alaminya untuk meredakan penat.
Bagi sebagian orang, wedang ronde bukan sekadar pengusir dingin, melainkan sebuah mesin waktu. Ia menjadi saksi bisu ketika mimpi-mimpi sedang giat dibangun, hingga akhirnya (mungkin) harus runtuh. Secangkir wedang ronde seringkali dinikmati bukan hanya sebagai pelepas dahaga, melainkan karena ada sepotong kisah dan nostalgia di dalamnya.
Di balik perpaduan manisnya kuah jahe dan kenyalnya bola ketan, semangkuk wedang ronde menyimpan sejarah, filosofi, dan akulturasi budaya yang mendalam. Hidangan ikonik ini adalah mahakarya kolaborasi estetis yang mempertemukan kehangatan tradisi Tionghoa dengan kearifan lokal tanah Jawa, menciptakan harmoni rasa yang sukses melintasi zaman.
“Dragon Ball” dalam Semangkuk Sup?
Wedang ronde merupakan hidangan hasil akulturasi budaya Tionghoa, Jawa, dan Belanda yang berakar dari sejarah perdagangan masa lalu. “Wedang” berasal dari bahasa Jawa yang berarti minuman hangat. Sedang “Ronde” diadaptasi dari bahasa Belanda rondje yang berarti bulat.
Hidangan ini sebenarnya adalah variasi dari tangyuan, camilan tradisional Tiongkok yang tercipta pada masa Dinasti Han oleh seorang tokoh bernama Yuanxiao sebagai ungkapan rindu kepada keluarganya. Karena teksturnya yang lengket dari tepung ketan, baik tangyuan maupun wedang ronde memiliki makna filosofis yang sama: mempererat hubungan, keakraban, dan keharmonisan keluarga. Karena asalnya dari Tiongkok, sebagian orang bahkan berseloroh menyebutnya sebagai “Bola Naga”.
Sebelum dikenal luas di Nusantara, masyarakat Jawa awalnya menyebut minuman ini dengan nama “wedang guyub”. Penamaan ini lahir karena proses pembuatan dan cara menikmatinya sering dilakukan bersama-sama secara gotong royong sambil mengobrol akrab. Nama “ronde” sendiri akhirnya lahir dari pengaruh bahasa Belanda, yaitu dari kata rond (bulat) dan bentuk jamaknya rondje. Lidah lokal masyarakat Jawa kemudian menyerap dan memplesetkannya menjadi “ronde”.
Ketika masuk ke Indonesia, hidangan ini disesuaikan dengan rempah-rempah lokal. Menariknya, warna-warni bola ronde berbahan tepung ketan ini juga menyimpan nilai filosofis tersendiri. Warna putih melambangkan kemurnian hati, sementara hijau hadir sebagai simbol berkah atau karunia. Tak ketinggalan, warna kuning disematkan sebagai lambang kekayaan, dan warna merah yang menyala memuat filosofi keberanian.
Di masa perjuangan mengusir penjajah Belanda, warga peranakan Tionghoa sengaja menghindari penggunaan warna biru agar bola ronde yang disajikan hanya berwarna merah dan putih. Hal ini dilakukan sebagai simbol kecintaan dan bentuk dukungan mereka terhadap kemerdekaan Republik Indonesia.
Kapan Wedang Ronde Masuk Indonesia?
Melacak tahun pasti kapan wedang ronde pertama kali ditemukan di Indonesia memang cukup sulit. Namun, diduga kuat minuman ini sudah dikenal luas oleh masyarakat sebelum masa kolonial, sekitar abad ke-16 atau ke-17.
Pada awalnya, tangyuan dikenalkan oleh orang-orang Tionghoa melalui jalur perdagangan. Lambat laun, minuman ini diracik kembali oleh masyarakat lokal dan mengalami penyesuaian rasa agar cocok dengan selera serta hasil bumi setempat. Jika versi asli Tiongkok (tangyuan) umumnya menggunakan isian wijen atau kacang merah dengan kuah manis polos—atau bahkan kaldu daging—maka versi lokalnya menjelma menjadi wedang ronde.
Bola-bola ketannya kini diisi dengan ulekan kacang tanah dan gula merah, sementara kuah jahenya diperkaya rempah-rempah lokal seperti daun pandan dan serai untuk menghasilkan cita rasa yang lebih kompleks dan aromatik.
Dalam penyajiannya di beberapa daerah seperti Yogyakarta dan Jawa Tengah, wedang ronde tampil semakin meriah dengan tambahan kondimen lokal seperti kolang-kaling, kacang tanah goreng, dan irisan roti tawar yang mengembang sempurna saat menyerap kuah jahe hangat.
Simbol Keseimbangan Semesta
Berdasarkan penelitian dari Yusuf Bagus Damara, dkk dalam Jurnal Pendidikan Tambusai (2024), setiap elemen dalam semangkuk wedang ronde kaya akan simbolisme. Secara khusus, kombinasi warna merah (simbol Yang/positif) dan putih (simbol Yin/negatif) melambangkan keseimbangan alam semesta, sementara kuah jahenya melambangkan kehangatan yang merangkul perbedaan.
Selain disajikan pada Festival Dongzhi (titik balik matahari musim dingin), hidangan hangat ini juga menjadi sesaji wajib saat Hari Raya Imlek yang di Indonesia seringkali bertepatan dengan musim hujan. Bagi etnis Tionghoa, menyantap wedang ronde bersama seluruh anggota keluarga dipercaya dapat menjaga persatuan dan keharmonisan rumah tangga.
Melalui adaptasi rasa yang pas dengan selera Nusantara, semangkuk wedang ronde dalam segala kesederhanaannya adalah bukti nyata bahwa kehangatan tradisi, rasa nyaman, dan persatuan dapat terus dirawat dalam mangkuk yang tak lekang oleh waktu.
















