Advertisement

apijiwa.id – Di era modern ini, kita hanya butuh beberapa detik untuk melakukan scrolling di TikTok atau Instagram demi menemukan inspirasi makan malam. Resep-resep viral datang dan pergi secepat kilat. Namun, pernahkah Anda membayangkan bagaimana orang tua kita mendapatkan inspirasi memasak di tahun 80-an? Jauh sebelum algoritma menentukan apa yang kita makan, ada masa di mana dapur-dapur di Indonesia digerakkan oleh suara dari radio dan lembaran kertas yang disimpan dengan penuh rasa sayang.

Sebuah booklet berjudul “10 Resep Hidangan Pilihan Acara Gembira Memasak” adalah di antara “harta karun” koleksi saya yang berisi kumpulan resep asli dari tahun 1981 yang disponsori oleh Ajinomoto. Lembaran-lembaran ini bukan sekadar panduan memasak, melainkan jendela waktu yang memperlihatkan betapa berbedanya dunia kuliner saat itu—mulai dari harga bahan makanan yang sulit dipercaya hingga cara unik informasi disebarkan ke dapur-dapur di seluruh pelosok.

Mari kita bedah apa yang membuat dapur tahun 1981 begitu istimewa.

Ketika Rp 1.600 Bisa Memberi Makan Satu Keluarga Besar

Satu hal yang paling mencolok saat melihat arsip resep tahun 1981 adalah efisiensi biayanya yang terasa surealis bagi kita sekarang. Dalam resep Pepes Ikan Mas Periangan yang disiarkan pada 19 Mei 1981, tertulis bahwa biaya yang dibutuhkan hanya sekitar Rp 1.600 untuk menyajikan hidangan bagi 8 orang. Angka tersebut sudah termasuk bahan utama berupa ½ kg ikan mas (sekitar 2-3 ekor). Sebagai perbandingan, saat ini ½ kg ikan mas bisa mencapai Rp 15.000 hingga Rp 20.000—sebuah refleksi tajam mengenai inflasi selama empat dekade.

Bahkan, ada resep Tahu Lapis yang dibanderol hanya Rp 750 untuk 15 potong! Meski ekonomis, tampilannya tetap menggugah selera dengan garni-garni estetik seperti irisan tomat yang tertata rapi. Begitu pula dengan Pastel Kentang Sayuran seharga Rp 1.800 untuk 10 porsi yang dihiasi hiasan wortel berbentuk bunga di atas kerak kentangnya yang kuning keemasan. Data ini menunjukkan betapa kuatnya daya beli masyarakat kala itu terhadap bahan pangan lokal berkualitas.

Radio sebagai “Influencer” Kuliner Sebelum Era Media Sosial

Jika hari ini kita memiliki Food Vlogger dengan jutaan pengikut, maka di tahun 1981, radio adalah pemegang takhta “influencer” utama. Pada setiap lembar resep, mulai dari Tahu Lapis (23 Juni 1981) hingga Pastel Kentang (15 September 1981), tertera keterangan bahwa resep tersebut disiarkan melalui 88 Radio Swasta Niaga di seluruh wilayah Jawa dan Bali.

Ini adalah bentuk komunitas digital awal yang sangat taktil. Bayangkan ibu-ibu zaman dulu yang duduk khusyuk di depan radio pada jam tertentu, siap dengan buku catatan yang mungkin kini sudah kusam dan memiliki bekas noda minyak di sudut-sudutnya. Berbeda dengan kita yang tinggal melakukan screenshot atau menyimpan video di folder koleksi, mereka harus memiliki konsentrasi penuh karena tidak ada tombol pause atau rewind. Inilah cara informasi kuliner tersebar secara massal, menciptakan harmoni rasa yang seragam dari satu kota ke kota lain melalui gelombang udara.

Rahasia Sejarah “Tetes Tebu” dan Jejak Sang Profesor

Sebagai pengkaji sejarah kuliner, saya sering menemukan bahwa banyak orang belum mengetahui akar sejarah dari bumbu yang mereka gunakan sehari-hari. Dalam dokumen informatif tahun 1981, dijelaskan bahwa bumbu penyedap rasa ini memiliki sejarah panjang yang bermula di Jepang. Penemuan ini diawali oleh Dr. Kikunae Ikeda, seorang profesor ilmu kimia di Tokyo Imperial University pada tahun 1909.

Berikut adalah fakta teknis yang ditegaskan untuk memberikan edukasi kepada para ibu saat itu: “Monosodium Glutamat (MSG) yang dibuat oleh P.T. AJINOMOTO INDONESIA berasal dari bahan nabati (tumbuh-tumbuhan) yaitu molase (gula tetes) dari tebu pilihan.”

Penjelasan ini menegaskan bahwa sejak dahulu, proses produksi telah memanfaatkan fermentasi modern dari tetes tebu alami, sebuah informasi yang seringkali terlupakan di tengah riuhnya mitos kuliner modern.

Inovasi Menu: Dari Nagasari Daging hingga Chicken Tartlet

Beranjak dari sisi sains menuju seni penyajian, kreativitas dapur tahun 80-an ternyata sangat progresif. Mereka berani mendobrak tradisi lama untuk menciptakan kejutan rasa. Salah satu yang paling unik adalah resep Nagasari Daging yang disiarkan pada 27 Oktober 1981.

Jika biasanya Nagasari identik dengan rasa manis dan tepung beras, inovasi tahun 1981 ini menggunakan Tepung Hun-Kwe untuk menghasilkan tekstur yang lebih lembut dan transparan, lalu diisi dengan tumisan daging sapi cincang berbumbu ketumbar dan jintan yang gurih.

Selain itu, muncul pula hidangan seperti Chicken Tartlet yang dihadirkan untuk memberikan kesan mewah sekelas pesta hotel di meja makan rumah sendiri. Penggunaan bungkus daun pisang yang rapi pada Nagasari atau kulit tartlet yang renyah menunjukkan bahwa estetika penyajian sudah menjadi prioritas sejak dulu.

Arisan dan Perayaan sebagai Pusat Interaksi Sosial

Membaca narasi dalam resep-resep lama ini mengingatkan kita bahwa makanan adalah perekat hubungan sosial yang paling ampuh di Indonesia. Hidangan seperti Lemper Ayam bukan sekadar camilan; ia adalah simbol kemeriahan “Arisan”, momen di mana menjalin hubungan baik dengan keluarga dan tetangga menjadi prioritas hidup.

Dalam resep Lemper tahun 1981, terdapat sebuah “pro-tip” atau variasi yang disebut “Lemper Semar Mendem”, yaitu lemper yang dibungkus dengan dadar telur tipis, memberikan sentuhan rasa yang lebih kaya. Begitu juga dengan Risoles yang secara khusus disebut sebagai hidangan untuk menyemarakkan ulang tahun. Makanan-makanan ini adalah simbol kasih sayang dan keramah-tamahan yang tersirat kuat di setiap instruksi memasaknya, mengingatkan kita bahwa dapur adalah jantung dari kerukunan bertetangga.

Warisan Rasa yang Melampaui Zaman

Banyak hal telah berubah sejak tahun 1981—harga bahan pangan telah melompat puluhan kali lipat, dan teknologi informasi telah berpindah dari gelombang radio ke layar sentuh di genggaman kita. Namun, satu hal yang tetap abadi adalah keinginan tulus untuk menyajikan yang terbaik bagi orang-orang tercinta.

Melihat kembali resep-resep legendaris ini bukan hanya tentang belajar teknik memasak lama, tapi tentang menghargai dedikasi dan cinta yang dituangkan oleh generasi sebelum kita di atas meja makan.

Bayangkan betapa indahnya jika kita bisa kembali ke tahun 1981 untuk mencicipi langsung resep legendaris dari dapur ibu atau nenek. Rasanya pasti luar biasa, terlebih jika Anda masih menyimpan rapi catatan resep lama hasil menyimak siaran radio kala itu. Mari bernostalgia!

Facebook Comments Box

Penulis: Badiatul Muchlisin AstiEditor: Redaksi Apijiwa.id

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.