apijiwa.id – Film Children of Heaven versi Indonesia resmi menyapa penonton di bioskop mulai 27 Mei 2026. Tentu ini bukan proyek sembarangan. Versi aslinya yang berasal dari Iran sudah lama dinobatkan sebagai salah satu film keluarga terbaik sepanjang masa, bahkan sukses menembus nominasi Oscar pada tahun 1999 untuk kategori Best Foreign Language Film.
Kini, kisah menyentuh hati tentang perjuangan kakak beradik tersebut lahir kembali dengan kearifan lokal lewat tangan dingin sutradara Hanung Bramantyo. Bagi Hanung, proyek ini terasa sangat personal. Ia mengakui bahwa drama realistis selalu menjadi zona ternyaman baginya dalam mengarahkan sebuah cerita.
Namun, Hanung memberikan catatan penting: “Film ini sama sekali tidak dibuat untuk mengeksploitasi atau ‘menjual’ kemiskinan.” Baginya, inti terdalam dari Children of Heaven adalah tentang bagaimana manusia tetap menjaga harga diri dan martabatnya, meskipun sedang terjepit dalam situasi hidup yang serba-sulit.
Cerita berfokus pada kehidupan Ali dan Zahra yang hidup dalam kesederhanaan di pinggiran kota Semarang pada era 1980-an. Konflik bermula saat Ali tidak sengaja menghilangkan sepatu milik Zahra setelah mengambilnya dari tukang sol. Karena kondisi keuangan keluarga yang kritis, membeli sepatu baru adalah hal yang mustahil.
Alhasil, keduanya terpaksa “main kucing-kucingan” dan bergantian memakai satu-satunya sepasang sepatu yang tersisa agar tetap bisa sekolah. Di tengah keputusasaan itu, Ali melihat secercah harapan lewat sebuah lomba lari yang menjanjikan hadiah sepasang sepatu untuk juara ketiga. Ia pun bertekad memenangkan posisi tersebut demi sang adik.
Realitas Kesenjangan Sosial dalam Kehidupan Nyata
Melalui kisah hilangnya sepasang sepatu ini, Children of Heaven sebenarnya sedang memotret secara gamblang bagaimana kemiskinan mencengkeram kehidupan sehari-hari, bahkan untuk memenuhi kebutuhan yang paling mendasar sekalipun. Namun, apa sebenarnya kesenjangan sosial itu?
Merujuk pada penjelasan Zikram Fabela dan Arin Khairunnisa dalam Jurnal SENTRI (2024), kesenjangan sosial pada dasarnya adalah jurang pemisah yang nyata di masyarakat. Kondisi ini menciptakan situasi di mana satu kelompok begitu mudah mendapatkan akses sekolah bagus, layanan kesehatan terbaik, dan pekerjaan mapan. Sementara di sisi lain, ada kelompok yang harus berjuang habis-habisan hanya untuk mendapatkan hal serupa.
Sosiolog ternama, Pierre Bourdieu, memperdalam fenomena ini dengan menjelaskan bahwa ketimpangan di masyarakat tidak melulu soal uang atau modal ekonomi semata. Menurutnya, ketimpangan yang terjadi di dunia nyata juga dipicu oleh tidak meratanya kepemilikan dua modal penting lainnya, yaitu modal budaya dan modal sosial. Modal budaya mencakup tingkat pendidikan, keahlian, serta keterampilan yang dimiliki seseorang. Sementara itu, modal sosial berwujud jaringan pertemanan, relasi, ataupun koneksi penting yang mampu membuka berbagai peluang hidup.
Kondisi ketimpangan modal tersebut dipertegas oleh teori Max Weber mengenai stratifikasi sosial. Weber menyatakan bahwa masyarakat secara alami memang akan terbagi ke dalam tingkatan-tingkatan yang kaku. Lapisan-lapisan sosial ini terbentuk bukan karena satu faktor saja, melainkan akibat adanya perbedaan yang mencolok dalam tiga aspek utama kehidupan manusia, yaitu kelas, status, dan kekuasaan.
Dalam pandangan Weber, aspek kelas merujuk pada jumlah kekayaan dan aset material yang dimiliki oleh seseorang. Di sisi lain, aspek status berkaitan erat dengan kehormatan serta seberapa dipandangnya posisi seseorang di lingkungan sosialnya. Terakhir, aspek kekuasaan menentukan seberapa besar pengaruh dan kendali yang dimiliki seseorang dalam mengambil keputusan penting yang berdampak pada orang banyak.
Pada akhirnya, perpaduan antara ketidakmerataan modal dan kaku-nya stratifikasi sosial inilah yang membuat sebagian orang tetap terjebak di bawah—seperti potret kehidupan Ali dan Zahra—sementara sebagian lainnya dengan mudah berada di atas.
Kontras Si Kaya dan Si Miskin yang Menampar Realitas
Film ini dengan sangat halus memperlihatkan bagaimana perbedaan kondisi ekonomi langsung menentukan cara seseorang menjalani hidup sekaligus membatasi pilihan-pilihan yang mereka miliki. Keluarga Ali digambarkan hidup dalam ruang gerak yang sangat terbatas. Ayahnya hanya bekerja serabutan dengan penghasilan yang tidak menentu, sedangkan ibunya sedang sakit sehingga tidak bisa membantu mencari nafkah. Alhasil, dalam banyak kesempatan, Ali harus ikut memeras keringat demi membantu sang ayah menopang dapur mereka.
Dalam kondisi yang serba-pas-pasan ini, setiap pengeluaran sekecil apa pun harus dihitung dengan sangat hati-hati. Itulah mengapa hilangnya sepasang sepatu sekolah bisa berubah menjadi bencana besar yang menggoncang stabilitas emosional Ali dan Zahra. Bagi masyarakat kelas atas, membeli sepatu baru mungkin perkara sepele yang selesai dalam hitungan menit. Namun bagi keluarga Ali, hal itu adalah beban finansial berat yang tidak sanggup mereka pikul saat itu.
Kesenjangan sosial ini kian dipertegas lewat perbedaan visual lingkungan tempat tinggal yang dihadirkan di layar lebar. Penonton diajak melihat kontras yang menampar ketika ayah Ali pergi mencari pekerjaan sampingan di kawasan perumahan elitis. Di sana, kamera menyuguhkan pemandangan rumah-rumah megah yang berdiri kokoh, taman-taman yang dirawat rapi, serta kehidupan penghuninya yang tampak jauh lebih tenang, aman, dan nyaman. Pemandangan ini sangat berbanding terbalik dengan lanskap permukiman padat dan kumuh tempat Ali membesarkan masa kecilnya.
Kontras visual yang sinematik ini mencerminkan adanya stratifikasi sosial dalam kehidupan nyata. Ketimpangan tersebut tidak hanya mewujud pada kepemilikan harta benda atau aset material, tetapi juga merembet pada ketidakadilan dalam kesempatan memperoleh pekerjaan, kualitas pendidikan, hingga kelayakan hidup yang paling mendasar.
Ketika Modal Sosial Menjadi Senjata untuk Bertahan
Jika ditelisik lebih dalam melalui lensa sosiologi, fenomena kesenjangan sosial dalam film ini merupakan buah dari distribusi sumber daya yang tidak merata di dalam struktur masyarakat. Kelompok yang memegang modal ekonomi besar otomatis memiliki garis start yang lebih maju untuk menikmati fasilitas hidup yang berkualitas. Sebaliknya, kelompok marginal dipaksa memeras keringat lebih banyak hanya untuk menyambung hidup dari hari ke hari.
Meskipun film ini tidak menampilkan konflik terbuka atau bentrokan fisik secara langsung antara si kaya dan si miskin, perbedaan kontras yang dihadirkan sepanjang film sudah cukup menjadi kritik sosial yang tajam terhadap struktur masyarakat kita yang pincang. Ali dan Zahra adalah potret nyata dari jutaan anak di luar sana yang memiliki semangat belajar tinggi, tetapi langkah kaki mereka harus terhambat oleh tembok tebal bernama kondisi sosio-ekonomi keluarga.
Kendati demikian, Hanung Bramantyo tidak lantas membiarkan film ini melulu menjadi ratapan kemiskinan yang gelap dan depresif. Children of Heaven versi Indonesia tetap membawa pesan hangat tentang kuatnya solidaritas keluarga, rasa tanggung jawab yang mendewasakan anak-anak ini sebelum waktunya, serta ketulusan kasih sayang antarsaudara.
Hal ini terlihat jelas ketika Ali dan Zahra dengan sadar memilih untuk merahasiakan hilangnya sepatu tersebut dari orang tua mereka. Mereka tidak ingin menambah beban pikiran ayah dan ibunya yang sudah terlalu berat menanggung impitan hidup. Alih-alih merengek atau menyalahkan keadaan, mereka memilih bekerja sama, saling mendukung, dan berbagi sepasang sepatu yang tersisa demi masa depan sekolah mereka.
Dalam kacamata sosiologi, keharmonisan, kepercayaan, dan kerja sama yang erat ini disebut sebagai modal sosial. Ketika modal ekonomi nihil, rasa menyayangi dan solidaritas yang kuat di dalam keluarga terkadang menjadi satu-satunya senjata paling berharga. Modal sosial inilah yang membuat masyarakat kecil mampu bertahan, menjaga martabat, dan tetap tegak berdiri menghadapi kerasnya badai kehidupan.
Ketika Children of Heaven Menjadi Cermin Retak Kebijakan Pemimpin Negeri
Pada akhirnya, Children of Heaven (2026) bukan sekadar nostalgia sinematik atau drama keluarga yang memancing air mata. Bagi saya, film ini adalah sebuah alegori—sebuah satir halus namun menampar bagi realitas sosiopolitik yang sedang terjadi di Indonesia hari ini. Perjuangan Ali dan Zahra bertukar sepatu di pinggiran Semarang era 1980-an ternyata masih sangat relevan dengan jeritan masyarakat kelas bawah di era modern sekarang.
Jika dalam film kita melihat kemiskinan struktural membatasi langkah anak-anak untuk bersekolah, dalam realitas hari ini, pembatasan itu justru seringkali lahir dari kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada keadilan sosial.
Saat ini, potret ketimpangan yang digambarkan oleh Pierre Bourdieu dan Max Weber mewujud nyata dalam karut-marutnya sistem pemenuhan hak dasar warga negara:
Pertama; Pendidikan dan Keterampilan yang Diskriminatif: Akses terhadap pendidikan berkualitas dan pelatihan keterampilan kian hari kian mahal. Alih-alih menjadi alat mobilitas vertikal untuk memperbaiki nasib, dunia pendidikan justru mengalami komersialisasi. Kelompok rentan terjebak dalam kualitas sekolah yang seadanya, sementara fasilitas terbaik hanya bisa dinikmati oleh mereka yang memiliki modal ekonomi melimpah.
Kedua; Monopoli Kesempatan Kerja: Lapangan pekerjaan dan kesempatan untuk mengubah nasib hidup seolah dikuasai oleh segelintir orang yang memiliki jaringan (privilege) dan kapital. Masyarakat miskin dipaksa bertarung di pasar kerja yang tidak adil tanpa bekal modal sosial yang setara.
Ketiga; Kemiskinan Struktural dan Eksploitasi Aset: Negara yang kaya akan sumber daya alam ini justru memperlihatkan ironi besar. Aset-aset strategis dan ruang hidup yang seharusnya dikelola untuk kemakmuran bersama, kini cenderung dikuasai dan dieksploitasi oleh sekelompok kecil elite (oligarki). Masyarakat lokal dan kelas bawah sering kali hanya menjadi penonton di tanah mereka sendiri, persis seperti ayah Ali yang menatap nanar kemegahan rumah elite dari balik pagar.
Keempat; Kebijakan yang Dipaksakan demi Segelintir Golongan: Kita sering menyaksikan kebijakan publik yang dinilai tidak jelas urgensinya bagi rakyat, namun dipaksakan untuk sah. Kebijakan-kebijakan ini disinyalir kuat sengaja dirancang hanya untuk melanggengkan kekuasaan, mengamankan investasi sepihak, dan menumpuk kekayaan pada golongan tertentu.
Hanung Bramantyo lewat film ini memang mengingatkan kita bahwa “modal sosial” berupa solidaritas, harga diri, dan ketahanan keluarga adalah benteng terakhir masyarakat miskin untuk bertahan hidup. Namun, rakyat tidak bisa selamanya diminta bertahan hanya dengan modal ketabahan dan janji-janji surga.
Solidaritas Ali dan Zahra adalah tamparan keras bagi penguasa. Di saat anak-anak miskin harus memeras keringat dan berbagi sepatu demi masa depan, negara memiliki utang besar untuk merombak arah kebijakannya. Sudah saatnya pemerintah berhenti memproduksi kebijakan yang memanjakan kelompok atas, dan mulai fokus meruntuhkan tembok kemiskinan struktural demi menciptakan keadilan yang nyata bagi seluruh rakyat Indonesia.
















