apijiwa.id – Di ufuk timur pulau garam, matahari Desember biasanya turun dengan warna jingga yang lebih pekat, memantul pada permukaan tambak-tambak yang mulai basah oleh rintik hujan pertama.
Bagi dunia luar, Desember adalah riuh rendah lonceng, gemerlap lampu warna-warni, dan dentum kembang api yang membelah langit pergantian tahun. Namun, bagi kami yang menghirup aroma laut Madura, Desember adalah sebuah jeda—sebuah sikap diam yang bukan berarti asing, melainkan sebuah penghormatan yang sudah mendarah daging.
Jangan kalian tanyakan pada kami tentang arti toleransi melalui definisi kamus atau seminar-seminar yang bising. Bagi orang Madura, toleransi bukan kata benda yang diperdebatkan di atas podium, melainkan kata kerja yang sudah selesai dikerjakan oleh nenek moyang kami sebelum republik ini lahir.
Ketika Batu Menjadi Saksi
Jika kalian melangkah ke jantung Kabupaten Sumenep, kau akan berdiri di depan Masjid Jamik Sumenep yang megah. Menaranya menjulang, putih bersih layaknya kesucian niat.
Masjid itu mulai dibangun pada tahun 1779 Masehi di bawah titah Panembahan Somala (Sultan Sumolo), penguasa Sumenep yang arif. Pembangunan itu kemudian dilanjutkan dan disempurnakan oleh putra beliau, Sultan Abdurrahman Pakunataningrat (bertakhta 1811–1854 Masehi).
Namun, lihatlah arsitekturnya. Ada sentuhan yang tak biasa di sana. Guratan khas Tiongkok berpadu manis dengan nuansa Eropa dan lokal. Mengapa? Karena sang arsitek adalah Law Ping Haw, seorang insinyur berdarah Cina yang memeluk keyakinan Konghucu.
Bayangkan, di masa ketika fanatisme bisa saja membakar nalar, seorang sultan Muslim menyerahkan rumah ibadah paling sucinya untuk dirancang oleh seorang pemeluk Konghucu.
Sultan tak bertanya tentang “akidah” sang arsitek saat memegang penggaris dan jangka, karena Sultan tahu bahwa keahlian adalah anugerah Tuhan, dan kerja sama adalah jembatan kemanusiaan.
Hingga hari ini, Masjid Jamik itu berdiri tegak, tidak hanya sebagai tempat sujud, tetapi sebagai prasasti bisu bahwa di tanah ini, perbedaan sudah lama kami “selesaikan” di atas meja makan dan di bawah naungan atap yang sama.
Jika orang Madura dianggap tidak toleran, maka logika sederhana akan bertanya: bagaimana mungkin tempat ibadah non-Muslim tetap berdiri kokoh tanpa goresan?
Di Sumenep, ada dua gereja yang tetap tenang dalam doanya. Di Pamekasan, satu gereja berdiri tegak di tengah hiruk pikuk kota. Di Bangkalan, dua gereja menyatu dengan ritme hidup masyarakatnya. Bahkan di Larangan, Pamekasan, sebuah Klenteng (Vihara) berdiri sebagai tempat bernaung bagi warga keturunan Tionghoa yang sebagian besar non-Muslim.
Kami hidup berdampingan dengan mereka. Di pasar-pasar, warga keturunan Cina berdagang dengan logat Madura yang lebih fasih dari pendatang mana pun. Di sudut-sudut kecil, ada saudara-saudara kami dari Papua yang juga non-Muslim, hidup dalam keamanan yang tak terusik.
Jika kami adalah bangsa yang sempit hati, niscaya tempat-tempat ibadah itu sudah lama menjadi dongeng. Namun tidak. Kami menjaganya dengan cara yang paling elegan: membiarkannya ada dan menghormati hak mereka untuk berbakti kepada Sang Pencipta dengan cara mereka sendiri.
Antara ‘Minggu’ dan ‘Ahad’: Sebuah Kejujuran Makna
Ada satu hal yang mungkin sulit dipahami oleh orang luar: mengapa kami seolah “kaku” dalam berbahasa? Kami jarang menyebut hari Minggu dengan kata “Minggu”, kami lebih nyaman dengan kata “Ahad”. Kami pun jarang mengucapkan “Selamat Hari Natal”.
Ketahuilah, itu bukan tanda benci. Justru itu adalah bentuk penghormatan tertinggi kami terhadap iman orang lain. Bagi kami, orang Madura, Natal bagi umat Nasrani bukanlah sekadar perayaan biasa atau sekadar tanggal di kalender. Kami tahu Natal memiliki kedalaman teologis yang sakral bagi mereka yang meyakininya.
Kami tidak ingin “berpura-pura” menyamakan keyakinan hanya demi basa-basi sosial. Kami menghormati sakralitas Natal dengan cara tidak mencampuradukkannya dengan lisan kami yang penuh dengan kalimat tauhid.
Kami tahu “Minggu” memiliki akar makna religius Kristiani, maka kami memilih “Ahad” untuk menjaga kemurnian identitas kami, tanpa sedikit pun bermaksud merendahkan identitas mereka.
Toleransi bagi kami bukan berarti menjadi sama. Toleransi adalah ketika aku menjadi aku, kamu menjadi kamu, dan kita tetap bisa minum kopi di satu meja tanpa merasa terancam satu sama lain.
Kami tidak perlu mengucapkan “Selamat”, karena tindakan kami yang menjaga keamanan mereka saat beribadah sudah jauh lebih “selamat” dari sekadar ucapan di bibir.
Sunyinya Malam Tahun Baru di Pelosok Desa
Ketika Desember mencapai puncaknya, dunia akan bising oleh terompet dan ledakan kembang api menyambut Tahun Baru Masehi. Namun, jika Anda berjalan ke pelosok-pelosok desa di Madura—dari pesisir Ambunten hingga perbukitan di Sampang—Anda akan menemukan kesunyian yang kontras.
Bagi kami, kembang api tahun baru bukanlah adat kami. Meniup terompet atau begadang semalam suntuk hanya untuk melihat angka tahun berganti di kalender Masehi bukanlah kebiasaan yang kami warisi. Kami bukan pembenci kegembiraan, kami hanya memiliki “jam biologis spiritual” yang berbeda.
Bahkan, ketika banyak saudara kami yang merantau ke tanah Jawa atau kota-kota besar membawa pulang kebiasaan menyalakan mercon saat malam tahun baru, kami warga asli di desa tetap santai. Kami tidak menghakimi, tidak pula melarang dengan kasar.
Kami membiarkan riuh itu lewat begitu saja seperti angin laut yang singgah sebentar lalu pergi. Kami tidak ikut dalam euforia itu, tapi kami juga tidak menciptakan konflik atasnya. Madura tetap aman terkendali di bawah naungan langit Desember.
Ketika Madura Benar-benar “Meledak”
Namun, jangan tanya tentang gempita kami jika bulan Mulod (Maulid Nabi Muhammad Saw) tiba. Jika di malam tahun baru Masehi langit desa kami sepi, maka di hari kelahiran Baginda Nabi, Madura akan benar-benar “bergemuruh”.
Di situlah letak anomali kami yang indah. Mercon yang kami simpan sepanjang tahun akan meledak dalam sukacita yang tiada tara. Tabuhan terbang (rebana) akan bersahut-sahutan dari satu musala ke musala lain.
Bau wangi dupa bercampur dengan aroma masakan tumpeng yang tumpah ruah di masjid-masjid. Bagi kami, kelahiran Nabi adalah “Tahun Baru” yang sesungguhnya bagi jiwa kami. Itulah perayaan yang meresap hingga ke sumsum tulang.
Di sinilah kami menunjukkan kejujuran emosi. Kami tidak berpura-pura merayakan apa yang tidak kami maknai, namun kami habis-habisan merayakan apa yang menjadi sandaran hidup kami.
Harmoni dalam Jarak
Memaknai Natal dan Tahun Baru di Madura adalah belajar tentang harmoni dalam jarak. Kami tidak perlu berpelukan secara simbolis dalam seremoni yang diatur oleh kamera.
Kami cukup memastikan bahwa tetangga kami yang non-Muslim bisa tidur nyenyak di malam Natal tanpa rasa takut. Kami cukup memastikan bahwa klenteng di Larangan tidak akan pernah terusik oleh tangan-tangan jahil.
Kami adalah orang Madura, yang mungkin terlihat keras dari luar, layaknya kulit kerang yang kasar. Namun di dalamnya, ada mutiara kebijaksanaan yang diajarkan oleh para leluhur: bahwa menghormati orang lain tidak harus dengan cara kehilangan diri sendiri.
Maka, biarlah lonceng gereja di Sumenep berdentang di malam Natal, dan biarlah klenteng di Larangan tetap tenang dengan aroma hionya. Kami akan tetap di sini, di atas sajadah kami, atau di pinggir tambak garam kami, menjaga kedamaian ini dengan diam yang paling tulus.
Karena bagi kami, toleransi bukanlah tentang apa yang diucapkan, melainkan tentang apa yang dibiarkan hidup dengan aman di samping rumah kita sendiri.
Inilah Madura. Pulau yang mungkin sepi dari kembang api di malam Januari, namun selalu penuh dengan doa yang menjaga setiap jengkal tanahnya agar tetap menjadi rumah bagi siapa saja yang menghormati kehidupan.













