Advertisement

apijiwa.id – Bagi seorang perantau, meninggalkan kampung halaman bukan sekadar urusan pindah koordinat, melainkan perpisahan sementara dengan aroma dapur yang akrab. Dian Ayu Puspitasari merasakannya saat tugas negara membawanya dari Malang (Jawa Timur) ke Banjarbaru (Kalimantan Selatan), di mana aroma tajam terasi dan kehangatan kencur mulai tergantikan oleh rempah asing. Meski dikelilingi kemasyhuran kuliner Banjar, ada ruang hampa di hatinya yang hanya bisa diisi oleh rasa masakan ibu.

Rumah, bagi Dian, bukan lagi sekadar bangunan fisik, melainkan sebuah simfoni rasa yang tertinggal dalam ingatan lidahnya. Kerinduan ini seringkali muncul tanpa permisi, mengingatkan bahwa identitas kita seringkali berakar pada apa yang kita santap di meja makan masa kecil. Di sinilah perjalanan rasa dimulai, mencari jalan pulang melalui ulekan cobek dan tumisan bumbu.

CLBK: Saat Lidah Menolak Melupakan Asal-Usul

Dalam perjalanannya di tanah rantau, Dian menemukan fenomena unik yang ia sebut sebagai “Cinta Lama Bersemi Kembali” atau CLBK. Menariknya, perasaan ini bukan ditujukan kepada sosok di masa lalu, melainkan kepada cita rasa masakan Jawa yang ia temui di warung-warung kecil di perantauan. Lidah seorang perantau memang memiliki ingatan yang keras kepala; ia menolak melupakan akar tradisinya meski berada di lingkungan budaya yang berbeda.

Masakan ndeso memiliki kekuatan nostalgia yang jauh lebih bertenaga dibandingkan kuliner modern yang serba instan dan estetik, namun terkadang hambar secara emosional. Ada kejujuran dalam bumbu-bumbu tradisional yang menawarkan kenyamanan batin, sebuah pelukan hangat yang tidak bisa direplikasi oleh penyedap rasa buatan. Sebagaimana yang tertuang dalam catatan perjalanannya:

“Menyantap kuliner ndeso khas Jawa di perantauan membuatnya seperti terjebak dalam situasi CLBK atau ‘Cinta Lama Bersemi Kembali’.”

Rahasia di Balik Sayur Bening

Banyak orang meremehkan masakan rumahan karena tampilannya yang bersahaja, namun Dian membuktikan bahwa kesederhanaan tersebut adalah level tertinggi dari sebuah kerumitan. Di awal eksperimennya, ia harus menelan kegagalan pahit, bahkan saat hanya mencoba memasak sayur bening yang terlihat sepele.

Kegagalan demi kegagalan ini menyadarkannya bahwa masakan ndeso bukanlah soal metrik angka, melainkan soal “rasa” dan insting yang tajam.

Situasi ini sering memaksanya melakukan “Original Tech Support”—menelpon ibunya di Malang berkali-kali hanya untuk memastikan jenis rempah yang benar. Perjuangan ini kian bermakna karena suaminya juga memiliki “lidah ndeso” yang sangat merindukan cita rasa otentik kampung halaman.

Karena dikerjakan sendiri tanpa asisten, setiap hidangan yang ia hasilkan bukan sekadar makanan, melainkan karya artisanal yang lahir dari ketulusan dan kegigihan.

Instagram sebagai Penjaga Gawang Tradisi Kuliner

Di era gempuran makanan kekinian yang serba kebarat-baratan, akun Instagram Dian muncul sebagai oase yang mengurasi memori kolektif. Ia dengan cerdas menjembatani budaya digital yang estetik dengan tampilan masakan ndeso yang “jujur” dan apa adanya. Unggahannya menciptakan sebuah “Digital Lineage”, di mana satu postingan resep bisa membuat ribuan pengikutnya merasa kembali terhubung dengan sosok ibu atau nenek mereka.

Berikut adalah beberapa peta kuliner yang ia bagikan untuk mengobati kerinduan para perantau:

  • Rawon Pincuk, dengan kuah hitam pekat yang kaya rempah dan gurih.
  • Sate Komoh khas Malang, potongan daging besar dengan bumbu yang meresap sempurna.
  • Mangut Iwak Pe, yang menghadirkan aroma asap eksotis dalam kuah santan pedas.
  • Ayam Lodho dari Trenggalek, dengan tekstur daging empuk dan sensasi bakar yang khas.
  • Sate Klopo khas Surabaya, perpaduan daging dan gurihnya parutan kelapa sangrai.
  • Buntil Daun Pepaya, masakan tradisional yang kini semakin langka ditemui di kota besar.

Warisan Ibu dan Nenek dalam 110 Resep Hits

Melalui buku Sedep Marem Masakan Cita Rasa Ndeso, Dian membukukan 110 resep yang ia sebut sebagai “110 peta untuk jalan pulang”. Kekuatan utama buku ini terletak pada jaminan keaslian resepnya yang merupakan warisan turun-temurun dari nenek dan ibunya. Mendokumentasikan resep keluarga dalam bentuk fisik menjadi sangat krusial agar tradisi kuliner kita tidak hanyut ditelan zaman yang serba praktis.

Semua resep di dalamnya telah melalui uji coba berkali-kali, sehingga Dian berani menjamin hasilnya “anti-gagal” bagi siapa pun. Buku ini mengajak kita menyadari bahwa masakan rumah akan selalu memiliki tempat paling istimewa karena dimasak dengan bumbu cinta dan sejarah. Membawa resep-resep ini ke dapur kita sendiri adalah cara terbaik untuk menjaga agar api kenangan tetap menyala.

Membawa Pulang Kenangan ke Meja Makan

Hobi yang berawal dari rasa rindu seorang perantau kini telah bertransformasi menjadi panduan berharga bagi banyak keluarga untuk merawat tradisi. Menghadirkan kembali masakan tradisional di rumah bukan sekadar soal mengenyangkan perut, melainkan ritual menghormati sejarah keluarga melalui rasa. Setiap piring yang kita sajikan adalah jembatan menuju kenangan masa lalu yang indah dan hangat.

Pada akhirnya, masakan ndeso mengajarkan kita bahwa cara paling sederhana untuk “pulang” adalah dengan menyalakan kompor dan meracik bumbu warisan. Tak perlu perjalanan jauh, karena rumah bisa kita hadirkan sendiri di meja makan setiap harinya.

Masakan apa yang paling membuatmu merasa “pulang ke rumah” hanya dengan sekali suap?

Facebook Comments Box

Penulis: Badiatul Muchlisin AstiEditor: Redaksi Apijiwa.id

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.