Advertisement

apijiwa.id – Sebagai pelopor kesultanan di Jawa, Demak lebih populer dengan julukan Kota Wali. Namun, di balik nama Glagah Wangi yang legendaris, daerah ini menyimpan sisi “misterius” berupa peninggalan era Hindu-Buddha.

Penasaran apa saja buktinya? Saya akan mengulas jejak peradaban tersebut melalui empat lokasi utama: Museum Glagah Wangi, Situs Dudukan, serta Situs Mbah Kopek dan Mbah Reco. Mari kita bedah satu per satu!

Museum Glagah Wangi

Berlokasi di Jalan Sultan Fatah No. 53, Demak, Museum Glagah Wangi menawarkan pengalaman layaknya melintasi lorong waktu melalui koleksi sejarahnya yang beragam. Di sana, kita bisa menjumpai objek-objek unik seperti yoni, umpak, mata uang kepeng Dinasti Tang, hingga keramik Dinasti Ming. Namun, karena fokus saya adalah periode klasik sebelum pengaruh Islam masuk ke Demak, perhatian saya tertuju pada artefak bercorak Hindu-Buddha, khususnya sebuah arca yang diduga kuat sebagai Dewa Siwa yang sedang menggenggam bunga Padma. Namun, benarkah itu sosok Siwa?

Temuan Arca Mahadewa di Sayung, Kabupaten Demak, menunjukkan ciri ikonografi yang sangat detail, mulai dari bunga padma, tasbih (aksamala), kebut lalat (camara), ular (vasuki), hingga hiasan bulan sabit (candra). Berdasarkan kajian Ashar Murdihastomo dalam Berkala Arkeologi (2021), atribut-atribut ini merupakan simbol kuat dari aliran Siwa Siddhanta.

Arca Mahadewa di Museum Glagah Wangi. (Ari Tri Winarno)

Mengutip pandangan ahli Hindu J.M.N. Pillai, aliran ini menitikberatkan pada pengolahan jiwa dan pernapasan dalam ritualnya. Tujuan utamanya pun sangat spiritual, yakni mencapai pembebasan batin agar dapat menyatu kembali dengan Dewa Siwa.

Berasal dari India Selatan, aliran Siwa Siddhanta diperkirakan mulai muncul sejak abad ke-7 dan berkembang pesat pada abad ke-9 Masehi. Berkat popularitasnya yang besar, ajaran ini meluas hingga ke wilayah Asia Tenggara, baik di daratan maupun kepulauan. Bukti sejarah menunjukkan bahwa pengaruh Siwa Siddhanta bahkan telah menyebar di Nusantara pada akhir masa Kerajaan Mataram Kuno, sekitar abad ke-10.

Ahmad Fahrudin dan Y. Hanan Pamungkas dalam karyanya, Saiwasiddhanta: Penelusuran Aliran Siwaisme di Jawa Timur Periode Klasik (2013), menjelaskan bahwa sekte ini berkembang selama masa kepemimpinan Dharmawangsa Teguh di periode Mataram Kuno Jawa Timur. Eksistensi aliran tersebut kemudian berlanjut hingga periode Majapahit. Kesimpulan ini didasarkan pada analisis terhadap data epigrafis yang tertuang dalam Prasasti Sekar dan Prasasti Waringin Pitu.

Di samping koleksi Arca Siwa beraliran Siwa Siddhanta, Museum Glagah Wangi turut mengoleksi potongan Arca Agastya. Resi Agastya merupakan figur sentral dalam penyebaran ajaran Hindu Siwa dari India ke berbagai wilayah internasional.

Secara ikonografi, keberadaan arca ini sangat umum ditemukan pada relung-relung candi Hindu-Siwa berdampingan dengan figur Durga dan Ganesha. Kedudukan Agastya dalam hierarki spiritual sangat krusial, sebab ia dipandang sebagai tokoh perantara yang menghubungkan manusia dengan prinsip-prinsp ketuhanan tertinggi dalam ajaran Siwa.

Selain arca Siwa yang memegang padma, yang identik dengan aliran Siwa Siddhanta. Di Museum Glagah Wangi juga terdapat potongan arca Agastya. Siapa itu Agastya? Rsi Agastya atau Master Agastya adalah tokoh penyebar agama Hindu Siwa dari India dan berpetualang ke berbagai negeri untuk menyebarkan Agama Siwa.

Fragmen Arca Agastya yang bersumber dari temuan di Desa Candisari, Demak, kini tersimpan di Museum Glagah Wangi. Secara ikonografi, arca ini biasanya merepresentasikan figur pertapa dengan perut buncit, meski variasi fisik yang lebih ramping juga ditemukan di Candi Sambisari.

Atribut pendukung yang sering menyertai arca ini meliputi kendi, prabot penulisan lontar, trisula, serta penggambaran figur murid di sisi-sisinya.

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, Museum Glagah Wangi juga mengoleksi Yoni. Dalam kondisi lengkap, benda purbakala ini biasanya ditemukan berpasangan dengan Lingga.

Situs Dudukan

Perjalanan saya berlanjut menuju Desa Blerong, Demak, dengan menempuh jarak sekitar 16 km menggunakan sepeda. Di desa ini, terdapat sebuah situs yang menurut penuturan warga merupakan peninggalan sosok bernama Mbah Dudukan.

Masyarakat setempat masih memegang teguh tradisi tutur yang menganggap situs ini sebagai tempat mustajab untuk memohon agar keinginan cepat terkabul. Namun, fokus saya bukan pada mitos tersebut, melainkan untuk melihat langsung keberadaan Arca Ganesha yang ada di sana.

Situs dudukan berada di area persawahan. (Ari Tri Winarno)

Situs Dudukan ini berada tepat di tengah hamparan persawahan. Di sana, tersimpan empat peninggalan khas Hindu yang sangat menarik, yakni sebuah yoni (yang ditemukan tanpa pasangannya, lingga), arca Ganesha, arca Durga, serta lingga semu atau lingga patok.

Perhatian saya tertuju pada sosok Ganesha dan Durga Mahesasuramardini, meskipun kondisinya sudah tidak lagi sempurna; arca Ganesha di sini telah kehilangan bagian kepalanya, sementara arca Durga juga ditemukan dalam keadaan yang sudah tidak utuh.

Dalam kepercayaan Hindu-Siwa, Durga dan Ganesha merupakan figur sentral yang tak terpisahkan dari Dewa Siwa. Durga sendiri adalah manifestasi dari Dewi Parwati yang dikenal karena keberhasilannya meredam kekacauan di kahyangan akibat amukan siluman kerbau.

Itulah sebabnya, ia sering divisualisasikan sedang menunggangi kerbau sambil menjambak sesosok cebol yang merupakan wujud asli siluman tersebut. Sementara itu, Ganesha sangat dihormati sebagai simbol kebijaksanaan serta pelindung ilmu pengetahuan.

Situs Mbah Kopek

Situs Mbah Kopek terletak di wilayah Karang Tengah, Kabupaten Demak, dengan posisi yang cukup unik karena berada di dalam area pemakaman umum. Terlepas dari suasananya yang menantang, situs ini menyimpan artefak berharga berupa arca Durga Mahesasuramardini. Walaupun ditemukan dalam kondisi tanpa kepala, detail pada arca tersebut masih memperlihatkan keindahan estetikanya. Di samping arca Durga, terdapat temuan arkeologis lain yang tak kalah menarik untuk dikaji keasliannya.

Arca Durga Mahesasuramardini (tanpa kepala) di Situs Mbah Kopek Demak. (Tri Ari Winarno)

Meskipun ditemukan tanpa bagian kepala, identitas arca ini masih sangat mudah dikenali. Sosok Dewi Durga, yang sering dijuluki “Roro Jonggrang”, digambarkan sebagai wanita bertubuh ramping dengan banyak tangan.

Ciri khas lainnya yang terlihat jelas di sini adalah posisinya yang sedang menunggangi kerbau (Mahesasura) sambil menjambak sesosok siluman kerdil. Jika kalian berkunjung ke candi-candi beraliran Siwa, arca Durga Mahesasuramardini ini pasti akan kalian temukan di relung candi, berdampingan dengan Ganesha dan Agastya.

Situs Mbah Reco

Di Situs Mbah Reco, Kabupaten Demak, saya menemukan sebuah arca yang sangat menarik. Secara administratif, situs ini berlokasi di Desa Bogosari, Kecamatan Guntur. Mungkin muncul pertanyaan: arca siapakah ini sebenarnya?

Jika dilihat dari gaya seninya, besar kemungkinan ini adalah Arca Mahadewa atau Dewa Siwa. Bukti kuatnya terletak pada bagian bawah arca, di mana terdapat pahatan Nandi—sosok sapi yang merupakan kendaraan atau tunggangan setia Dewa Siwa. Selain itu, proporsi dan detail bagian tubuhnya pun sangat identik dengan ciri khas sang dewa.

Mungkin belum banyak yang menyadari bahwa jauh sebelum proses Islamisasi masif terjadi, Demak telah memiliki akar peradaban Hindu-Buddha yang sangat kuat. Bahkan, menurut catatan Tome Pires dalam “Suma Oriental” pada awal abad ke-16, meskipun komunitas Islam sudah mulai merintis kesultanan, masyarakat yang memeluk agama Hindu-Buddha dan para pertapa masih banyak dijumpai di wilayah ini. Hal ini membuktikan bahwa pengaruh tradisi lama masih bertahan sangat kokoh, terutama di daerah pedalaman Jawa.

Arca di Situs Mbah Reco Demak. (Ari Tri Winarno)

Berbagai temuan arkeologis—mulai dari Arca Siwa dengan bunga padma, Agastya, Yoni, Ganesha, hingga Durga—menjadi bukti kuat bahwa pengaruh Hindu-Buddha telah mengakar di Demak jauh sebelum kedatangan Islam. Jika melihat jenis peninggalannya, pengaruh ini diduga kuat sudah ada sejak zaman Mataram Kuno. Namun, keberadaan uang kepeng Dinasti Tang di Museum Glagah Wangi membuka kemungkinan yang lebih mengejutkan: bahwa napas peradaban Hindu-Buddha di wilayah ini mungkin sudah eksis sejak era Kerajaan Kalingga, jauh sebelum Mataram Kuno berdiri.

Merujuk pada buku Runtuhnya Kerajaan-Kerajaan Hindu di Jawa dan Berdirinya Kerajaan-Kerajaan Islam (2019) karya P. Mardiyono, Kerajaan Kalingga atau Holing diketahui telah berdiri sejak abad ke-7. Informasi ini didasarkan pada catatan sejarah Tiongkok yang berasal dari masa yang sama. Secara geografis, wilayah kekuasaan Kalingga diperkirakan membentang di sepanjang pesisir utara Jawa, mulai dari daerah Pekalongan hingga Jepara.

Berdasarkan ulasan M. Rafif dkk dalam Jurnal Kultur (2025), Dinasti Tang menggunakan istilah “Ho-ling” untuk menyebut tanah Jawa, yang kemudian menjadi asal-usul penamaan Kerajaan Kalingga sebagai Kerajaan Ho-ling. Informasi mengenai keberadaan kerajaan ini pun banyak bersumber dari catatan kronik Dinasti Tang.

Adanya berita asing tersebut memperkuat dugaan adanya hubungan diplomatik maupun ekonomi antara kedua wilayah. Hal ini semakin terbukti secara arkeologis dengan ditemukannya uang kepeng Dinasti Tang yang kini tersimpan di Museum Glagah Wangi, yang mengindikasikan adanya aktivitas perdagangan di masa lampau.

Eksplorasi sejarah Demak ini mengajarkan kita bahwa segala sesuatu saling bertautan. Tidak ada ilmu, budaya, maupun bangsa yang bisa berdiri sendiri tanpa pengaruh dan kontribusi dari elemen lainnya.

Negeri ini teguh berdiri karena kepedulian orang-orang di dalamnya terhadap warisan leluhur. Oleh karena itu, mari kita jaga semangat dan warisan budaya bangsa mulai dari hal terkecil, demi membawa Indonesia menuju masa depan yang lebih gemilang.

*) Naskah ini merupakan versi yang telah disempurnakan dari artikel yang pernah dimuat di Majalah Riwajat Vol. 12, edisi tahun 2025.

Facebook Comments Box

Penulis: Ari Tri WinarnoEditor: Badiatul Muchlisin Asti

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.