apijiwa.id – Indonesia dianugerahi keberagaman warisan budaya yang mencerminkan perjalanan panjang sejarah manusia, mulai dari masa prasejarah hingga periode klasik Hindu-Buddha. Salah satu kawasan yang menyimpan kekayaan tersebut adalah Geopark Karangsambung–Karangbolong. Kawasan ini tidak hanya penting secara geologis, tetapi juga memiliki nilai arkeologis tinggi, salah satunya melalui Situs Batu Kalbut.
Situs ini menarik untuk dikaji karena memperlihatkan perpaduan unik antara unsur budaya megalitik dan Hindu-Buddha. Temuan berupa batu berlubang, sarkofagus, hingga ukiran naga menunjukkan bahwa situs ini tidak berasal dari satu periode saja, melainkan hasil dari proses keberlanjutan budaya yang panjang.
Meskipun literatur mengenai Situs Batu Kalbut masih terbatas—umumnya hanya ditemukan di jurnal budaya atau komunitas sejarah di media sosial—rasa penasaran membawa saya berkunjung ke Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen, pada pertengahan Maret 2026. Perjalanan menuju lokasi cukup menantang dengan tanjakan perbukitan yang curam; sebuah rute yang mungkin kurang cocok bagi mereka yang mudah mengeluh.
Situs ini terletak di wilayah pesisir selatan, masih satu lokasi dengan Pantai Logending yang tersohor. Di sana, terdapat elemen utama berupa dua peti batu (sarkofagus) dan sepasang Lingga-Yoni yang tersimpan di dalam bangunan khusus. Dalam tradisi lisan setempat, artefak peti batu berhias naga ini dikenal dengan sebutan “Mbah Arum”.

Satu hal yang menarik adalah fakta geologisnya. Penelitian membantah anggapan bahwa batu-batu ini didatangkan dari luar daerah. Wilayah Kebumen sejatinya adalah bekas gunung api purba dasar laut yang kaya akan andesit hingga fosil terumbu karang. Jenis batuan di Situs Batu Kalbut terbukti berasal dari material lokal, menunjukkan bahwa masyarakat purba saat itu sudah mahir mengolah sumber daya alam di sekitar mereka.
Mengenai fungsinya, masih terdapat perbedaan pendapat. Apakah sebagai peti kubur batu atau wadah penyimpanan air? Namun, melihat bentuknya, kuat dugaan bahwa artefak ini berfungsi sebagai sarkofagus atau peti jenazah bagi tokoh atau bangsawan lokal di masanya.
Menelusuri Timeline Sejarah
Kapan artefak ini dibuat? Merujuk pada catatan Teguh Pamungkas (Gombong Heritage, 2020), motif naga pada sarkofagus tersebut merupakan motif khas yang mewakili identitas lokal Kebumen. Lebih spesifik lagi, penafsiran aksara Kawi pada badan sarkofagus oleh Rodrigo dan Rakhmat Edy menunjukkan angka tahun 897 Saka atau 979 Masehi.
Dalam lini masa sejarah, tahun 979 Masehi berada pada era Mataram Kuno, tepatnya saat pusat kekuasaan telah berpindah ke Jawa Timur di bawah Wangsa Isyana yang didirikan Mpu Sindok. Artinya, artefak ini kemungkinan besar eksis pada masa pemerintahan Maharaja Makutawangsawardhana (pendahulu Dharmawangsa Teguh).
Meskipun pusat pemerintahan berada di timur, keberadaan situs ini membuktikan bahwa wilayah pesisir selatan Kebumen tetap memiliki komunitas yang aktif. Masyarakatnya berhasil menjaga akar tradisi megalitik (pra-Hindu-Buddha) dan memadukannya dengan unsur Hindu-Buddha secara harmonis.
Teguh Hindarto dan Chusni Ansori dalam jurnal Analisa Sosiologi (2020) mencatat bahwa meskipun bukti fisik keberadaan penganut Hindu di Kecamatan Ayah sangat jelas, komunitas ini seolah “menghilang” tanpa jejak di masa berikutnya. Minimnya literatur tertulis dan tradisi lisan membuat sejarah komunitas ini tetap menjadi misteri yang sulit dipecahkan.
Situs Batu Kalbut bukan sekadar tumpukan batu kuno. Ia adalah simbol moderasi dan akulturasi. Harmoni antara simbol-simbol pemujaan yang berbeda dalam satu lokasi mencerminkan jati diri bangsa kita yang sejak seribu tahun lalu telah terbiasa hidup berdampingan dalam perbedaan.
Semoga ke depannya, penelitian yang lebih menyeluruh dapat dilakukan agar potongan sejarah di pesisir selatan ini tidak hilang ditelan zaman, dan tetap menjadi inspirasi bagi persatuan bangsa di masa depan.













