apijiwa.id – Kebumen dikenal sebagai kawasan wisata dengan deretan pantai yang mempesona. Salah satu destinasi unggulannya selain Pantai Menganti adalah Pantai Pandan Kuning. Terletak di Desa Karanggadung, pantai ini merupakan destinasi keluarga yang lengkap karena memadukan keindahan Samudra Hindia dengan fasilitas hiburan yang modern.
Keunikan pantai ini terpancar dari hamparan pasirnya yang dihiasi pepohonan pandan berdaun kekuningan serta panorama matahari terbenam yang syahdu. Selain menikmati suasana laut, pengunjung dapat mencoba berbagai wahana di taman hiburan mini atau berenang di kolam renang yang aman bagi anak-anak.
Bagi pencinta kuliner, tersedia hidangan laut segar dan camilan khas seperti peyek yutuk di warung-warung lokal. Dengan akses jalan yang baik serta fasilitas umum yang memadai, Pantai Pandan Kuning adalah pilihan tepat untuk paket liburan yang lengkap dan nyaman.
Jejak Tradisi Lisan Pantai Pandan Kuning
Secara umum, tradisi lisan merupakan keyakinan atau kepercayaan masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun melalui tutur kata, tanpa bergantung pada catatan tertulis. Keberadaannya lahir dari kebutuhan mendasar manusia untuk menjaga identitas, nilai moral, dan memori kolektif agar tetap hidup melintasi zaman. Dengan sifatnya yang dinamis dan sarat kearifan lokal, tradisi ini bukan sekadar cerita pengantar tidur, melainkan jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini.
Di setiap wilayah, tradisi lisan hadir sebagai identitas budaya yang kuat. Sebagaimana Grobogan identik dengan kisah Ki Ageng Selo atau Ambarawa dengan legenda Baru Klinting, Pantai Pandan Kuning di Kebumen pun memiliki warisan serupa. Meskipun tradisi lisan bukan merupakan sumber primer sejarah—posisinya berada di bawah prasasti atau sumber sezaman lainnya—bagi saya, ia adalah bagian tak terpisahkan dari edukasi, corak budaya, dan identitas masyarakat.
Lantas, bagaimana tradisi lisan yang berkembang di Pantai Pandan Kuning? Berikut adalah versi populer yang saya himpun dari penuturan warga sekitar serta beberapa literatur terkait.
Legenda Raden Sujono dan Dewi Sulastri
Kisah ini bermula di Kabupaten Pucang Kembar pada masa Mataram Islam. Kala itu, Bupati Citro Kusumo hendak menjodohkan putrinya, Dewi Sulastri, dengan Joko Puring. Namun, di lingkungan kadipaten tersebut, terdapat seorang pemuda bernama Raden Sujono. Ia mengawali pengabdiannya sebagai pemelihara kuda sebelum akhirnya diangkat menjadi prajurit.

Intensitas pertemuan saat berjaga menumbuhkan benih cinta antara Raden Sujono dan Dewi Sulastri. Sayangnya, hubungan rahasia ini terbongkar oleh adik-adik sang putri. Hal tersebut memicu kemarahan Joko Puring yang kemudian menyerang dan mengusir Sujono. Dalam pelariannya, atas saran Kiai Karyadi, Sujono bertapa di berbagai tempat sakral hingga berhasil memperoleh pusaka sakti.
Berbekal pusaka tersebut, Sujono kembali ke Pucang Kembar, memenangkan sayembara, dan mengalahkan Joko Puring dalam duel sengit. Raden Sujono akhirnya menikahi Dewi Sulastri dan diangkat menjadi bupati menggantikan mertuanya. Namun, kebahagiaan mereka diuji ketika Sujono harus menjalankan misi menumpas penjahat di Gunung Tidar, yang secara tragis ternyata adalah kakak kandungnya sendiri.
Asul-usul Nama Pandan Kuning
Konflik memuncak saat Joko Puring yang masih menyimpan dendam menculik Dewi Sulastri. Ia membawa sang putri ke pesisir selatan dan mengikatnya di sebuah pohon pandan. Raden Sujono berhasil melacak keberadaan mereka hingga terjadi pertempuran pamungkas di daerah Karanggadung yang dimenangkan oleh Sujono.
Saat ikatan Dewi Sulastri dilepaskan, sebuah keajaiban terjadi: tali dan pohon pandan tempatnya terikat berubah warna menjadi kuning keemasan. Tempat bersejarah itulah yang kemudian dinamakan “Pandan Kuning”. Lokasi ini pula yang kelak dipercaya masyarakat sebagai salah satu tempat persinggahan Nyi Roro Kidul.
Warisan Budaya dan Ritual
Hingga kini, tradisi lisan tersebut masih mengakar kuat. Area tersebut sering dimanfaatkan masyarakat untuk melakukan tirakat. Menurut kepercayaan setempat, banyak orang yang berhasil mencapai hajatnya setelah melakukan laku spiritual di sana.
Selain aspek mistis, Pantai Pandan Kuning juga menjadi pusat upacara budaya, seperti Larungan. Ritual sedekah laut ini digelar sebagai wujud syukur atas hasil tangkapan nelayan sekaligus permohonan keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Wisata Alam Kultural Pantai Pandan Kuning
Narasi mengenai Pantai Pandan Kuning bukan sekadar tentang hamparan pasir dan deburan ombak Samudra Hindia. Ia adalah sebuah simfoni yang memadukan sejarah, mitologi, dan kearifan lokal yang tetap relevan melintasi zaman.
Kisah heroik Raden Sujono—yang bertransformasi dari seorang pemelihara kuda menjadi pemimpin melalui laku prihatin dan tirakat—menjadi pengingat bahwa perjalanan hidup manusia tidak pernah linear dan senantiasa penuh rintangan.
Selain itu, fenomena ajaib berubahnya warna pohon pandan menjadi kuning keemasan saat pembebasan Dewi Sulastri menjadi simbol estetis bahwa alam seringkali merekam dan “mengamini” jejak perjuangan manusia.
Di sisi lain, kehadiran mitologi Nyi Roro Kidul yang menempatkan Pandan Kuning sebagai tempat persinggahannya, serta tradisi larungan sedekah laut, mempertegas hubungan timbal balik yang harmonis antara manusia dengan kekuatan semesta. Meskipun tradisi lisan ini bukan merupakan sumber primer dalam kacamata sejarah formal, peranannya di masa depan sangatlah penting sebagai instrumen konservasi alam berbasis budaya.
Keyakinan masyarakat terhadap kesakralan wilayah ini secara tidak langsung menjadi benteng pelindung bagi ekosistem pesisir. Nilai-nilai sakral tersebut menjaga alam dari ancaman eksploitasi yang serakah, seperti alih fungsi lahan hutan menjadi perkebunan sawit skala besar maupun perusakan lingkungan lainnya.
Pada akhirnya, tradisi lisan tentang Pantai Pandan Kuning memastikan bahwa modernitas sektor pariwisata tidak akan mencabut akar identitas dan nilai luhur yang telah diwariskan turun-temurun.













