Advertisement

apijiwa.id – Di sudut kota Purwodadi, Grobogan, Jawa Tengah, tepatnya di Jalan Letjen Suprapto, terdapat sebuah narasi yang tertulis tidak hanya dalam lembaran menu, melainkan pada dinding-dinding yang menyimpan memori.

Bayangkan sebuah kontras yang tajam: di pagi hari, aroma kapur tulis dan deretan rumus fisika menjadi napas utama bagi Djamin Basuki di SMAN 1 Purwodadi. Namun, begitu senja menyapa, aroma arang membara menggantikan aroma kapur. Sang guru berganti peran menjadi penjual ayam bakar tenda, bergulat dengan asap demi sebuah mimpi yang pada hari pertamanya hanya membuahkan hasil Rp 10.000.

Perjalanan RM. Noroyono bukan sekadar kisah sukses bisnis kuliner terbesar di Grobogan. Ini adalah sebuah simpul sejarah tentang ketekunan, integritas rasa, dan bagaimana seorang akademisi berani menanggalkan ego sarjananya demi membangun sebuah warisan.

Djamin Basuki atau akrab disapa Pak Djamin adalah potret nyata bahwa gelar sarjana bukanlah penghalang untuk turun ke jalan. Pada tahun 1984 atau 1985, saat ia masih aktif mengajar fisika di SMAN 1 Purwodadi, Pak Djamin mulai merintis usaha kulinernya. Bayangkan rutinitasnya: pagi hari ia berkutat dengan rumus-rumus Fisika di depan kelas, dan sore harinya ia bertransformasi menjadi pedagang kaki lima.

Ia menggelar tenda sederhananya tepat di seberang sekolah tempatnya mengajar—sebuah lokasi yang kini telah berubah menjadi gedung Cendana. Di sana, ia menyewa halaman milik orang lain demi bisa menyambung hidup. Hasil penjualan pertamanya pun jauh dari kata fantastis, sebuah angka yang mungkin akan membuat orang lain menyerah di hari pertama.

”Pagi ngajar, sore buka warung. Dulu sewa halaman di seberang SMAN 1 Purwodadi, yang sekarang jadi Cendana itu. Jualan pertama laku Rp 10 ribu.”

Kekuatan “Kesalahan” yang Menjadi Nama Abadi

Setiap nama biasanya mengandung doa, namun bagi Pak Djamin, nama “Noroyono” muncul dari sebuah kekeliruan kecil yang justru ia abadikan. Awalnya, ia ingin menggunakan nama “Noyorono”, terinspirasi dari pabrik rokok legendaris di Kudus. Namun, saat papan nama dibuat, kata tersebut tertulis salah menjadi “Noroyono”.

Alih-alih memperbaikinya, Pak Djamin justru mempertahankan nama tersebut hingga empat dekade kemudian. Baginya, “Noroyono” bukan sekadar merek, melainkan pengingat sejarah agar ia tidak lupa diri. Nama itu menjadi jangkar yang menariknya kembali ke masa-masa sulit, memastikan bahwa kesuksesan finansial hari ini tidak melunturkan kerendahhatiannya.

Ayam bakar menjadi salah satu menu andalan di RM. Noroyono dengan cita rasa sambal yang istimewa. (Apijiwa.id/istimewa)

”Niatnya sama dengan itu, tapi kemudian tertulis ‘Noroyono’, dan masih saya pakai sampai sekarang. Untuk pengingat, bahwa dulunya saat merintis kan susah. Kalau sekarang sudah sukses, harus ingat saat dulu sulit.”

Loncatan besar bisnis Pak Djamin terjadi berkat pertemuan dengan Bambang, atau yang akrab disapa Yanthut, pemilik Hotel Griya Laksana. Yanthut, yang ternyata adalah kerabat dari teman dekat Pak Djamin, merasa penasaran dengan sosok “sarjana pengajar” yang tidak memiliki gengsi untuk melayani pelanggan di tenda kaki lima.

Di sinilah logika fisika Pak Djamin berperan. Ketelitiannya dalam mencatat setiap transaksi dalam sebuah buku laporan penjualan membuat Yanthut terkesan. Yanthut kemudian meminjam buku catatan tersebut untuk dipelajari. Melalui akurasi data yang disajikan, Yanthut memberikan kepercayaan berupa skema cicilan lahan di lokasi yang sangat strategis: utara Simpang Lima Purwodadi, tepat di samping Masjid Jabalul Khoir. Kepercayaan ini bukan lahir dari belas kasihan, melainkan apresiasi terhadap integritas seorang guru yang memiliki disiplin manajerial luar biasa.

Kini, RM. Noroyono Pak Djamin telah tumbuh menjadi imperium kuliner yang dikelola bersama sang istri, Siti Rahayu (Bu Djamin). Dengan ratusan karyawan di bawah naungannya, Pak Djamin menerapkan manajemen “kekeluargaan yang konkret”. Ia percaya bahwa kesejahteraan karyawan adalah cerminan dari keberkahan usahanya.

Sesuatu yang sangat langka di bisnis kuliner lokal adalah kebijakannya yang telah memberangkatkan banyak karyawan setia untuk ibadah Umrah. Lebih dari itu, Pak Djamin juga memberikan uang pensiun bulanan bagi mereka yang telah purna tugas. Bagi seorang pengusaha, ini adalah pengeluaran; bagi Pak Djamin, ini adalah kewajiban moral.

”Mungkin besarannya (uang pensiun) tidak seberapa, tapi kan tidak banyak yang seperti itu,” ujar pria yang sendiri sudah menunaikan ibadah Haji sebanyak tiga kali tersebut.

Lebih dari Sekadar Ayam Bakar

Mengunjungi RM Noroyono adalah sebuah petualangan sensorik. Menu andalannya, Ayam Bakar, memiliki karamelisasi bumbu yang meresap sempurna hingga ke tulang, menghasilkan tekstur daging yang juicy. Namun, jangan lewatkan Ikan Bakar (Nila dan Gurame) atau Sayur Lodehnya yang gurih otentik.

Bagi pencinta pedas, sambal terasi di sini adalah primadona yang siap membuat Anda “pedas gembrobyos” (berkeringat nikmat). Sebagai penyeimbang, tersedia Sayur Asem yang segar dengan isian jagung manis dan labu siam. Jangan lupa memesan Tahu Walik sebagai camilan renyah sembari menunggu hidangan utama. Semua kemewahan rasa ini disajikan dalam suasana bangunan modern dua lantai yang estetis namun tetap homey, dengan harga yang sangat bersahabat—mulai dari Rp 25.000 saja.

Di salah satu sudut restorannya, terpampang sebuah mural dengan kalimat yang merangkum seluruh perjalanan hidupnya: “Dari Kaki Lima Jadi Juara”. Kalimat ini bukan sekadar tagline, melainkan monumen perjuangan seorang Djamin Basuki.

Meski kini telah memiliki cabang di Godong (Tindanding) dan Wirosari (Kunden Barat), sosok Pak Djamin tetaplah pribadi yang tidak silau akan harta. Di masa tuanya, ia lebih memilih menghabiskan waktu sebagai muazin dan marbot di musala lingkungannya. Sebuah ironi yang indah: seorang pemilik restoran besar yang telah naik haji tiga kali, namun masih sudi menyapu lantai rumah Tuhan.

Kisah Noroyono mengajarkan kita untuk selalu berpijak di bumi dan tetap mengingat perjuangan di masa sulit saat sudah mencapai keberhasilan. Luangkan waktu sejenak jika Anda melintasi kota Purwodadi antara pukul 08.00 hingga 21.00 WIB untuk mampir ke RM Noroyono. Anda akan membuktikan sendiri bahwa kelezatan rasa yang nyampleng berakar dari ketulusan hati yang tulus.

Facebook Comments Box

Penulis: Badiatul Muchlisin AstiEditor: Redaksi Apijiwa.id

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.