Advertisement

Deskripsi fisik buku:

Komponen Keterangan
Judul Grobogan Untold Story: Tokoh, Tradisi, dan Kuliner
Penulis Badiatul Muchlisin Asti
Penerbit CV. Hanum Publisher
Cetakan Pertama, 2025
ISBN 978-623-7725-44-2
Jumlah Halaman xii + 301 hlm
Dimensi 14,8 x 21 cm
No Kontak Pembelian Buku 0888-255-1977 (WA Only)

 

apijiwa.id – Dalam pusaran era digital yang cenderung menyeragamkan narasi global, pendokumentasian sejarah lokal muncul sebagai benteng terakhir pertahanan identitas sebuah daerah. Mengetahui genealogi, tokoh, hingga filosofi di balik tradisi bukan sekadar romantisme masa lalu, melainkan upaya strategis untuk memperkuat kohesi sosiologis masyarakat.

Bagi Kabupaten Grobogan, kehadiran sebuah karya yang merangkum memori kolektif ini menjadi krusial—ia bertindak sebagai benteng budaya agar identitas daerah tidak hanyut ditelan arus zaman. Buku ini menjadi pintu masuk bagi intelektual maupun khalayak umum untuk memahami kedalaman narasi Nusantara yang seringkali terpinggirkan dari buku sejarah formal.

Buku bertajuk Grobogan Untold Story: Tokoh, Tradisi, dan Kuliner karya Badiatul Muchlisin Asti merepresentasikan sebuah kompilasi yang komprehensif, memberikan ruang luas bagi eksplorasi narasi yang selama ini tersembunyi di balik tabir “cerita yang belum terungkap”.

Pemilihan frasa “Untold Story” oleh Badiatul Muchlisin Asti merupakan sebuah upaya dekonstruksi terhadap narasi arus utama. Banyak kisah di Grobogan yang sebenarnya sudah masyhur, namun seringkali berhenti pada lapisan permukaan atau terdistorsi oleh waktu. Penulis berusaha mengungkap lapisan fakta dan perspektif lain yang jarang diketahui publik, menjahit kembali kepingan artikel karyanya yang sebelumnya terserak di berbagai media massa.

Secara kritis, perlu dicermati posisi penulis yang secara eksplisit menyatakan bahwa karya ini bukanlah buku sejarah (history) dalam parameter akademis yang kaku, melainkan kumpulan cerita (story). Pendekatan ini memiliki nilai strategis yang cerdas; dengan menghindari rigiditas metodologi sejarah murni, penulis memiliki fleksibilitas untuk menyelami mitos dan legenda tanpa kehilangan relevansi sosialnya.

Namun, bagi pembaca kritis, hal ini menciptakan ketegangan menarik: sejauh mana sebuah “cerita” dapat dipertanggungjawabkan sebagai landasan identitas sejarah? Penulis menjawabnya dengan penelusuran tokoh-tokoh sentral yang menjadi hulu dari peradaban Jawa.

Rekonstruksi Tokoh: Antara Mitos, Fakta, dan Karomah

Tokoh-tokoh masa lalu dalam buku ini berfungsi sebagai poros budaya masyarakat Grobogan. Penulis melakukan analisis tajam, terutama saat merekonstruksi figur Ki Ageng Tarub. Buku ini membandingkan tiga versi silsilah:

Pertama; Versi Babad Tanah Jawi yang mencitrakan Ki Ageng Tarub secara negatif sebagai anak hasil hubungan di luar nikah. Kedua; Versi Juru Kunci (KRAT Hastono Adinagoro) yang meyakini beliau sebagai putra Syekh Maulana Maghribi dan Dewi Rasa Wulan.

Ketiga; Versi Damar Shashangka yang menawarkan alur yang lebih rasional, menyebutnya sebagai putra Syekh Maulana Maghribi dan Dewi Retna Dumilah melalui proses tapa ngidang. Menariknya, versi ini memasukkan unsur akulturasi multi-etnis dengan menyebut peran Haji Gan Eng Chu (Abdulrahman), seorang bangsawan Muslim Tionghoa dari Dinasti Ming, sebagai sosok yang memicu keislaman keluarga tersebut.

Perbedaan silsilah ini krusial, karena bagi peziarah, validitas nasab yang mulia adalah prasyarat mutlak bagi status aulia. Penolakan terhadap versi negatif Babad Tanah Jawi bukan sekadar masalah data, melainkan penjagaan terhadap keyakinan spiritual.

Analisis terhadap Ki Ageng Selo, sang “Penangkap Petir”, juga berhasil menjembatani realitas ilmiah dengan kiasan moral. “Menangkap Petir” ditafsirkan sebagai simbol penguasaan hawa nafsu. Manifestasi fisik dari narasi ini dapat ditemukan pada “Pintu Bledheg” di Masjid Agung Demak, sebuah artefak nyata hasil karya Ki Ageng Selo. Pengaruhnya bahkan melampaui mitos, di mana tradisi keraton hingga kini tetap mengambil api abadi dari Selo.

Buku ini juga mengungkap keterkaitan Grobogan dengan tokoh nasional; terdapat makam leluhur Gus Dur di Ngroto dan leluhur Bung Karno di Wirosari. Selain itu, hadirnya sosok Pangeran Penatas Angin, seorang bangsawan dari Gowa, Sulawesi Selatan, menunjukkan bahwa Grobogan adalah titik temu migrasi Nusantara.

Melalui Raden Bondan Kejawan dan Ki Ageng Getas Pendowo, buku ini menegaskan posisi Grobogan sebagai “rahim” bagi silsilah raja-raja Mataram Islam, menghubungkan darah Majapahit (Brawijaya V) hingga ke penguasa Jawa masa kini.

Khazanah Tradisi dan Falsafah Hidup Masyarakat

Tradisi di Grobogan, sebagaimana digambarkan Badiatul Muchlisin Asti, adalah penjaga kohesi sosial yang menyeimbangkan hubungan antara manusia, alam, dan Pencipta. Penulis menyoroti tiga tradisi utama: Sedekah Bumi (Ngombak dan Sugihmanik) serta Barikan di Desa Godan.

Tradisi ini bukan sekadar ritual mekanis, melainkan mekanisme masyarakat dalam merawat keharmonisan kolektif. Penulis pun memberikan batasan yang jujur dengan belum memasukkan tradisi Asrah Batin karena kompleksitas narasinya yang membutuhkan ruang lebih luas.

Bagi penulis, salah satu pesan krusial yang perlu digelorakan adalah nasehat Ki Ageng Selo yang terdokumentasi dalam ajaran moral atau Pepali Ki Ageng Selo yang disajikan dengan nuansa linguistik aslinya:

Aja agawe angkuh (Jangan berbuat angkuh/sombong).

Aja ladak lan jail (Jangan bengis dan jahil).

Aja ati serakah (Jangan hati serakah/tamak).

Aja celimut (Jangan panjang tangan/mencuri).

Aja mburu aleman (Jangan hanya mengejar pujian).

Kepatuhan terhadap wasiat ini bahkan membentuk ekosistem sosiologis unik, seperti larangan berjualan nasi di sekitar makam Selo, yang hingga kini ditaati sebagai bentuk penghormatan tertinggi.

Dalam aspek kuliner, buku ini memandang kuliner sebagai dokumen sejarah yang bisa dicicipi. Badiatul Muchlisin Asti membedah latar belakang sosiologis menu ikonik:

  • Swike Purwodadi: Simbol akulturasi Tionghoa yang bertransformasi menjadi identitas lokal yang tak terpisahkan.
  • Sega Pecel Gambringan: Dokumentasi ketahanan ekonomi rakyat yang tumbuh searah dengan mobilitas stasiun kereta api.
  • Becek dan Sega Pager: Memiliki keunikan sosiologis mendalam. Becek mewakili kegembiraan komunal sebagai menu pesta, sementara Sega Pager mewakili otentisitas vegetasi lokal masyarakat Godong yang bersahaja namun kaya gizi.

Narasi kuliner ini memperkuat tesis bahwa sejarah besar sering kali tersimpan di atas piring-piring sederhana di meja makan kita.

Keunggulan dan Relevansi Kontemporer

Sebagai produk literatur daerah, buku ini memiliki kualitas teknis yang mumpuni. Penggunaan sumber visual yang kredibel, seperti foto-foto arkais dari koleksi KITLV dan Tropen Museum, memberikan bobot empiris pada narasi yang dibangun. Penulis berhasil membuat topik antropologi dan sejarah yang berat menjadi sangat aksesibel bagi non-spesialis tanpa kehilangan kedalaman analisisnya.

Buku ini juga mencatat jasa Raden Ario Soenarto, Bupati Grobogan yang mewariskan “Trilogi Pembangunan Desa” (Balai Desa, Lumbung Desa, dan Sekolah Desa). Hal ini menunjukkan bahwa Grobogan memiliki tradisi intelektual pemerintahan yang visioner sejak masa lampau.

Bagi generasi muda, buku ini adalah kompas jati diri, sementara bagi peneliti, ia adalah referensi awal yang kaya untuk riset lebih lanjut mengenai sinkretisme dan akulturasi budaya di Jawa Tengah.

Buku Grobogan Untold Story: Tokoh, Tradisi, dan Kuliner adalah sebuah upaya heroik dalam penyelamatan memori kolektif bangsa yang kian tergerus modernitas. Badiatul Muchlisin Asti berhasil merajut kembali benang-benang cerita yang putus antara mitos, sejarah, dan realitas sosial menjadi sebuah kain narasi yang indah.

Buku ini sangat direkomendasikan bagi intelektual, pencinta sejarah, dan masyarakat umum yang ingin menyelami jantung kebudayaan Nusantara. Membaca buku ini bukan sekadar menambah wawasan, melainkan sebuah perjalanan spiritual untuk mengenali siapa kita sebenarnya.

Sebagaimana kutipan penutup penulis yang mencerminkan kecintaan mendalam pada tanah kelahirannya: buku ini adalah persembahan dari seorang yang “sangat mencintai daerahnya”. Meskipun validitas sejarah akan selalu menjadi ruang perdebatan yang dinamis, keberanian untuk mendokumentasikan cerita-cerita ini adalah warisan literasi yang tak ternilai bagi masa depan.

Facebook Comments Box

Penulis: Redaksi Apijiwa.idEditor: Redaksi Apijiwa.id

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.