Advertisement

Data Bibliografi Buku:

Kategori Detail Informasi
Judul Lampung Tempo Doeloe
Penyusun Iwan Nurdaya-Djafar
Penerbit Akademi Lampung / Dewan Kesenian Lampung bekerja sama dengan Program Akuisisi Pengetahuan Lokal – BRIN
Tahun Terbit 2021 (Edisi Khusus Tridasawarsa DKL 1993-2023)
Jumlah Tulisan 21 tulisan
Jumlah Kontributor 15 orang

 

apijiwa.id – Dalam lanskap literasi sejarah Nusantara, upaya merajut kembali memori kolektif daerah seringkali terjebak dalam romantisisme hampa. Namun, kehadiran Lampung Tempo Doeloe menandai sebuah diskursus berbeda—sebuah act of decolonizing narrative yang mencoba mengurai identitas Sang Bumi Ruwa Jurai dari berbagai sudut pandang lintas zaman. Buku berjudul Lampung Tempo Doeloe ini bukan sekadar kumpulan dokumentasi, melainkan sebuah arsitektur kuratorial yang menawarkan dialektika antara identitas internal dan diskursus eksternal.

Kita hidup di era banjir informasi yang ironisnya seringkali diiringi oleh “amnesia digital”. Ir. Anshori Djausal, dalam pengantarnya, melontarkan kritik tajam terhadap sifat media daring yang cenderung menyajikan informasi secara dangkal (shallow). Fenomena ini menciptakan kerentanan terhadap distorsi sejarah.

Buku ini hadir sebagai antitesis terhadap pendangkalan tersebut. Sebagaimana ditegaskan oleh Prof. DR. Satria Bangsawan, karya ini adalah “cendera mata intelektual” yang merepresentasi martabat Provinsi Lampung. Ia bukan sekadar tumpukan kertas, melainkan instrumen epistemologis yang mengajak pembaca menyelami kedalaman konteks sejarah yang seringkali terabaikan dalam keriuhan dunia maya.

Mozaik Sejarah dan Dialektika Geopolitik

Penyusun membangun struktur buku ini dengan sangat rapi, membagi 21 tulisan ke dalam dua subtema besar: Sejarah/Kebudayaan dan Kisah Pengelanaan. Pembagian ini memungkinkan terjadinya sintesis antara cara masyarakat Lampung memandang dirinya dan cara dunia luar mengonstruksi citra wilayah ini.

Dalam bab “Melacak Arti Nama Lampung” kita diajak menelusuri etimologi yang beragam—dari narasi mitologis Sajarah Majapahit mengenai tokoh “si-Lampung” dari Sekala Brak, hingga teori akademik yang menghubungkan nama tersebut dengan To-Lang P’o-hwang dari catatan dinasti Cina. Identifikasi ini memosisikan Lampung bukan sebagai wilayah pinggiran, melainkan sebagai maritime powerhouse kuno yang telah masuk dalam peta perdagangan global sejak berabad-abad silam.

Dinamika geopolitik masa lalu juga dibedah melalui pengaruh Kesultanan Banten (1568-1808) yang memonopoli lada. Menariknya, buku ini menggunakan puisi sebagai alat historiografi. Gubahan pujangga Ahmad Syafei mengenai wilayah Krui—yang secara administratif sempat terombang-ambing antara Keresidenan Bengkulu dan Lampung—menjadi bentuk oral history yang ditransformasikan menjadi bait puitis. Hal ini menunjukkan bahwa sejarah tidak selamanya kaku dalam catatan birokrasi, tetapi juga hidup dalam estetika sastra lokal.

Lampung memiliki tradisi literasi yang luar biasa melalui bahasa dan Aksara Ka-Ga-Nga. Identitas visual ini dipertegas dengan riset Mattibelle Stimson Gittinger mengenai “Kain Kapal Lampung”. Desain kain kapal bukan sekadar hiasan, melainkan simbol status dan pandangan hidup (Weltanschauung) yang kompleks, yang mencerminkan perjalanan hidup manusia.

Namun, bagian paling krusial adalah analisis mengenai transformasi “Piil Pasenggiri”. Sebagai filsafat hidup, Piil Pasenggiri sejatinya mencakup nilai luhur seperti Nemui Nyimah (keramahtamahan), Nengah Nyappur (egalitarianisme/suka bergaul), dan Sakai Sambayan (gotong royong).

Penyusun dengan berani melakukan evaluasi kritis terhadap deformasi nilai ini. Dari moralitas luhur dan jiwa besar, Piil Pasenggiri kini seringkali bergeser menjadi sekadar pengejaran prestise kosong atau status sosial yang oleh kolonial Belanda disebut sebagai ijdelheid (kesia-siaan/gengsi). Kritik ini menjadi peringatan bagi masyarakat kontemporer Lampung untuk menemukan kembali substansi moral di balik gelar adat dan kekayaan.

Lampung tidak pernah sekadar menjadi latar belakang pasif, melainkan saksi bisu sekaligus panggung strategis bagi para tokoh pergerakan nasional. Melalui catatan Pramoedya Ananta Toer, kita dapat melihat kepedihan Tirto Adhi Soerjo, “Sang Pemula”, saat menjalani pembuangan di Telukbetung pada 1910 akibat kritik tajamnya dalam surat kabar Medan Prijayi.

Tak hanya sebagai tempat pengasingan, Lampung juga menjadi jalur vital revolusi sebagaimana terlihat dalam kisah pelarian Tan Malaka pada 1943. Sang “ahli muslihat” tersebut berhasil menyiasati aturan ganjil pemerintah Jepang (Osamu Serei) yang mewajibkan setiap penyeberang membawa 300 kg barang dagangan dengan menumpang kapal motor Sri Renjet menuju Merak, sebuah aksi yang membuktikan betapa krusialnya posisi geografis Lampung dalam mendukung mobilitas perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Surrealisme Erupsi Krakatau 1883

Puncak dramatik dalam buku ini terletak pada catatan mengenai erupsi Gunung Krakatau tahun 1883. Melalui “Syair Lampung Karam” gubahan Mohammad Saleh dan catatan N.H. van Sandick, pembaca disuguhi citraan yang mencekam dan hampir surreal: langit yang berubah menjadi hijau, tsunami yang meluluhlantakkan pesisir, hingga kapal uap Barouw yang terlempar jauh ke sungai Kuripan.

Dokumentasi literatur ini membuktikan bahwa karya sastra mampu merekam getaran bencana dengan lebih emosional dan mendalam dibandingkan sekadar data statistik.

Dus, buku Lampung Tempo Doeloe berhasil menjawab kegelisahan sejarawan Henri Pirenne yang menyatakan bahwa tanpa kritik dan hipotesis, sejarah hanya akan menjadi hiburan bagi para antikuarian dan tersesat dalam ranah fantasi. Iwan Nurdaya-Djafar telah melakukan tugas kuratorialnya dengan tajam, memastikan setiap fakta sejarah berpijak pada kritik yang sehat.

Bagi akademisi, praktisi budaya, maupun masyarakat umum, buku ini adalah bacaan penting. Ia bukan sekadar catatan tentang apa yang telah silam, melainkan sebuah kompas untuk memahami arah identitas Lampung di masa depan. Membaca buku ini berarti melakukan perjalanan melintasi waktu untuk menemukan kembali diri kita di tengah hiruk-pikuk dunia yang kian asing.

“Setiap tempat memiliki riwayat, dan buku ini adalah paspor untuk menjelajahinya.”

Facebook Comments Box

Penulis: Badiatul Muchlisin AstiEditor: M. A. Fathan

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.