Advertisement

apijiwa.id – Selain Garuda atau Garudeya, terdapat makhluk unik yang cukup terkenal di era Jawa klasik (Hindu-Buddha). Makhluk ini biasanya kita jumpai pada candi-candi beraliran Siwa. Makhluk apakah itu? Ia adalah Gana.

Gana biasanya terpahat di kaki candi dengan pose menyangga. Secara umum, Gana adalah pasukan atau kelompok pengikut setia Dewa Siwa. Dalam arsitektur candi, Gana sering digambarkan sedang menyangga beban bangunan.

Menariknya, meski memikul beban berat, mereka dipahat dengan ekspresi ceria. Hal ini mencerminkan bahwa pengabdian dalam menjaga keseimbangan semesta adalah sebuah kehormatan yang dilakukan dengan penuh sukacita. Pemimpin utama dari seluruh kaum Gana adalah Ganesha, putra Dewa Siwa, yang juga menyandang gelar Ganapati (Panglima atau Pemimpin Gana).

Gana dalam Percandian

Gana merupakan salah satu hiasan relief yang hampir selalu ada di berbagai candi, baik di Jawa, Sumatra, maupun Bali. Relief sendiri adalah pahatan hiasan pada bangunan kuno seperti candi, tempat pemandian suci (petirtaan), hingga pintu gerbang. Secara umum, relief di candi terbagi menjadi dua jenis berdasarkan fungsinya:

Pertama; Relief Dekoratif-Simbolik. Penghias bangunan (seperti motif bunga atau sulur-suluran) yang memiliki makna tertentu. Gana termasuk dalam kategori ini. Kedua; Relief Cerita. Pahatan yang mengandung narasi ajaran moral atau keagamaan.

Jika dikaitkan dengan dunia desain grafis kekinian, relief dekoratif-simbolik identik dengan makna sebuah logo atau ilustrasi filosofis, sedangkan relief cerita identik dengan komik yang menyampaikan pesan kebaikan.

Di Jawa Tengah, sosok Gana dapat dijumpai di situs besar seperti Candi Prambanan, Kalasan, Lumbung Sengi, Sambisari, dan Candi Barong. Di Jawa Timur, relief ini tersebar di Candi Surowono, Tegowangi, hingga Candi Jawi, bahkan ditemukan di petirtaan kuno seperti Senjoyo, Salatiga.

Secara fisik, Gana digambarkan sebagai sosok kerdil yang menyerupai anak kecil dengan perut buncit. Mereka sering dipahat dalam posisi jongkok dengan kedua tangan terangkat ke atas seolah sedang menyangga bangunan.

Meskipun penampilannya mungil, Gana memiliki posisi penting sebagai pasukan pengiring atau pelayan Dewa Siwa. Pada beberapa kesempatan, sosok ini juga dipahat dengan wajah raksasa yang tampak seram. Namun, simbol perut buncit pada sosok Gana sebenarnya menyimpan makna positif, yaitu lambang kesuburan, kemakmuran, kesehatan, keselamatan, dan kebahagiaan.

Selain bertugas mengiringi Dewa Siwa, tokoh Gana juga memegang peran vital sebagai penjaga pintu dan prajurit tempur bagi para dewa dalam menjaga kesucian bangunan suci.

Makhluk Kahyangan yang Unik

Sukawati Susetyo dalam Menggamit Minat Ragam Hias Nusantara (2020) menyebutkan bahwa Gaṇa merupakan makhluk kahyangan yang termasuk dalam golongan parivara (pendamping) kecil. Golongan ini terdiri atas Kinara-kinari, Gandharva, Bhuta, dan Apsara, di mana masing-masing makhluk memiliki fungsi dan kedudukan yang berbeda.

Adapun hierarki makhluk dalam agama Hindu dari posisi tertinggi hingga terendah adalah sebagai berikut: Āpsarā – Daitya – Gandharwa – Widyadara – Bhūta – Gaṇa – Manusia.

Masih merujuk pada sumber yang sama, dalam naskah kuno Śilpa Prakasa, sosok Gana dimasukkan ke dalam kategori Bhārakendrādhipa, yakni figur yang digambarkan menyerupai Bhairawa dan bertugas sebagai penyangga beban bangunan. Figur penyangga ini dikenal dengan istilah Bhāra-vāhaka, yang tampil dalam berbagai bentuk: tunggal (Eka), berpasangan (Yugala), atau bahkan menyerupai sosok singa (Virāla).

Secara visual, mereka digambarkan sedang menahan beban berat dengan kedua tangan diangkat ke atas, telapak tangan menempel rata pada bagian bangunan di atasnya. Variasi sikap tubuhnya beragam: kaki ditekuk hingga menyentuh siku, lutut menyentuh tanah dalam posisi jongkok, serta menampilkan bentuk fisik layaknya anak-anak dengan ciri khas rambut keriting menyerupai sosok gandharwa.

Secara umum, tokoh Gana di candi-candi Jawa sangat mudah dikenali karena posisi jongkoknya yang khas. Meskipun memiliki pakem dasar, para pemahat Jawa menunjukkan kreativitas luar biasa dengan memberikan variasi pada gaya jongkok, ekspresi wajah, hingga perhiasan yang dikenakan, menjadikannya lebih kaya rasa dibandingkan versi aslinya dari India.

Gana: Refleksi Masa Kini dan Masa Depan

Sosok Gana dalam arsitektur candi Jawa klasik memberikan pelajaran berharga tentang hakikat pengabdian. Melalui simbolisme figur yang memikul beban berat namun tetap berwajah ceria, Gana mengajarkan bahwa tanggung jawab dalam menjaga keseimbangan semesta—baik dalam lingkup beragama, berbangsa, maupun bernegara—seharusnya dipandang sebagai sebuah kehormatan yang dilakukan dengan ketulusan, bukan beban yang menindas.

Di tengah dinamika kehidupan modern yang seringkali terjebak dalam pragmatisme, keteladanan Gana mengingatkan kita bahwa kekuatan sejati tidak terletak pada posisi yang tinggi. Kekuatan sejati ada pada loyalitas, dedikasi, dan kemampuan untuk menjaga harmoni serta integritas sebagai “penyangga” tatanan sosial, tanpa kehilangan kegembiraan dan optimisme.

Lebih lanjut, dedikasi Gana dapat dianalogikan sebagai semangat kolaboratif yang sangat relevan bagi pelestarian budaya saat ini. Filosofi Gana mengajarkan bahwa dalam ekosistem kebudayaan, setiap individu—sekecil apa pun perannya—adalah pilar penting yang menjaga keberlangsungan warisan leluhur.

Bagi generasi mendatang, memaknai Gana berarti mendorong terciptanya ekosistem budaya yang tidak hanya berorientasi pada nilai ekonomi, tetapi juga pada pengabdian menjaga identitas bangsa.

Dengan meneladani keberanian pemahat masa lalu dalam memodifikasi pakem menjadi karakter khas Nusantara, generasi sekarang ditantang untuk terus berinovasi. Tujuannya agar konten budaya lokal tetap relevan, inspiratif, dan mampu menjadi fondasi kuat yang menyangga martabat bangsa di tengah arus globalisasi.

Facebook Comments Box

Penulis: Ari Tri WinarnoEditor: Badiatul Muchlisin Asti

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.