Advertisement

apijiwa.id – Sutasoma merupakan kakawin Jawa Kuno mahakarya Mpu Tantular yang disusun pada masa keemasan Majapahit. Kitab ini diperkirakan ditulis antara tahun 1365–1389 M, kemungkinan besar pada penghujung masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk, kepada siapa karya ini dipersembahkan. Mpu Tantular meracik kembali kisah ini berdasarkan Purusadasanta, sebuah narasi yang jauh sebelumnya telah diabadikan dalam bentuk relief di Candi Borobudur—berabad-abad sebelum era Majapahit dimulai.

Dalam buku Jataka: Cerita Kelahiran Sang Buddha (2020), Anandajoti Bhikku menguraikan detail relief Sutasoma di Candi Borobudur yang terpahat secara kronologis pada panil 116 hingga 119. Narasi visual ini dimulai pada panil 116 yang menggambarkan Pangeran Sutasoma sedang menimba ilmu dari seorang Brahmana, sebelum berlanjut ke adegan dramatis pada panil 117 saat ia dibawa pergi oleh monster Kalmasapada.

Kegigihan Sutasoma kemudian ditunjukkan pada panil 118, di mana ia dikisahkan kembali menemui sang Brahmana demi menuntaskan pelajaran yang dikejarnya. Sebagai penutup, panil 119 memperlihatkan momen krusial saat Sutasoma justru berbalik mengajarkan ilmu kepada Kalmasapada, sebuah bagian yang menyiratkan pesan mendalam tentang transformasi sang monster yang semula menebar kekacauan namun akhirnya berhasil disadarkan oleh kebajikan Sutasoma.

Ulasan mengenai relief ini juga dikemas dengan apik oleh Handaka Vijjananda dalam bukunya, Sutasoma: Pangeran Setia Kawan (2020). Ia menceritakan bagaimana Sutasoma berhadapan dengan Kalmasapada, monster gemar memakan daging manusia yang tengah mengusik ketenteraman. Singkat cerita, keberanian Sutasoma berhasil menyentuh sisi kemanusiaan Kalmasapada hingga sang monster memutuskan untuk bertobat.

Kisah ini merupakan bagian dari kategori relief Jataka, yang merangkum cerita-cerita inkarnasi Sang Buddha di masa lampau. Hal ini membuktikan bahwa pada abad ke-9, kisah Sutasoma telah menjadi bagian penting dalam literatur spiritual di Nusantara, sebelum akhirnya dikembangkan kembali menjadi sebuah karya sastra monumental oleh Mpu Tantular lima abad kemudian.

Sutasoma Versi Majapahit

Bagaimana dengan versi Majapahit? Kisah Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular bermula dari pertobatan monster bernama Suciloma yang diampuni, lalu lahir kembali sebagai seorang pangeran bernama Sudanda. Namun, sebuah ketidaksengajaan juru masak yang menyajikan daging manusia karena makanan aslinya disantap anjing, membuat Sudanda kecanduan dan berubah menjadi sosok mengerikan bernama Purusada.

Setelah diusir dan membangun kekuatan di lereng Gunung Semeru, ia berhasil merebut kembali kerajaannya hingga mengacaukan dunia dan kahyangan demi mengumpulkan 100 raja sebagai persembahan untuk Dewa Kala.

Di sisi lain, lahirlah Pangeran Sutasoma dari Hastina yang lebih memilih jalur spiritual dan ilmu pengetahuan daripada jabatan politik yang ditawarkan ayahnya. Meskipun didesak untuk membinasakan Purusada, Sutasoma tetap teguh pada prinsip tanpa kekerasan.

Dalam perkelanaannya, ia berhasil membimbing berbagai makhluk buas melalui ketenangan batin. Puncak ujian kasih sayangnya terjadi saat ia rela menawarkan tubuhnya sendiri demi menyelamatkan seekor harimau betina yang kelaparan. Tindakan mulia ini membuat Sutasoma sempat wafat namun dihidupkan kembali oleh Batara Indra, sebelum akhirnya takdir membawanya berhadapan langsung dengan Purusada.

Di tengah puncak kemelut tersebut, Sutasoma muncul menghadapi Purusada tanpa pasukan perang, melainkan hanya didampingi para pendeta sebagai simbol kedamaian. Purusada yang dikuasai amarah kemudian berubah wujud menjadi Kalangnirudra, perwujudan yang memiliki kekuatan untuk menelan seluruh dunia.

Melihat ancaman kehancuran itu, para dewa turun untuk menjelaskan bahwa Sutasoma adalah jelmaan Buddha dan hakikatnya sama dengan Siwa. Meskipun wujudnya terlihat berbeda, bagi mereka yang memiliki kebijaksanaan, keduanya tidak dapat dipisahkan. Inilah inti dari ajaran Bhinneka Tunggal Ika: berbeda-beda namun tetap satu jua, karena pada hakikatnya tidak ada kebenaran yang mendua.

Tanpa sedikit pun perlawanan, Sutasoma bersedia mengorbankan nyawanya asalkan 100 raja yang ditawan dibebaskan. Ketulusan ini akhirnya meluluhkan hati Purusada hingga ia bertobat sepenuhnya.

Pesan mendalam mengenai Bhinneka Tunggal Ika ini menjadi pengingat yang sangat relevan bagi Indonesia hari ini. Keanekaragaman dan toleransi seharusnya bukan sekadar semboyan, melainkan dasar dalam pengambilan kebijakan. Di tengah masyarakat yang majemuk, negara memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan bahwa setiap kontribusi rakyat kembali dalam bentuk keadilan sosial yang nyata, seperti akses jalan yang layak dan fasilitas publik yang memadai.

Kisah Sutasoma mengajarkan bahwa perbedaan identitas rakyat pada akhirnya harus bermuara pada satu tujuan: kesejahteraan bersama. Ketika beban pajak terus meningkat namun infrastruktur diabaikan, hal tersebut sebenarnya mencederai semangat toleransi bernegara.

Toleransi sejati bukan hanya soal membiarkan orang lain beribadah, tetapi juga tentang bagaimana negara bersikap adil dalam mendistribusikan hasil kekayaan bangsa. Kepemimpinan yang beradab adalah kepemimpinan yang mampu merangkul seluruh perbedaan dengan ketulusan, memastikan bahwa pengabdian rakyat sebanding dengan perlindungan dan kemakmuran yang mereka terima.

Facebook Comments Box

Penulis: Ari Tri WinarnoEditor: Badiatul Muchlisin Asti

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.