Identitas bibliografi:
| Atribut | Keterangan |
| Judul | Tentang Kau dan Hujan: Seikat Puisi 2018-2019 |
| Penulis | Riana Dwi Rahayu |
| Penyunting | Badiatul Muchlisin Asti |
| Penerbit | CV. Hanum Publisher |
| Tahun Terbit | 2025 |
| ISBN | 978-623-7725-45-9 |
| Ketebalan | x + 99 hlm |
apijiwa.id – Mencatat karya sastra adalah laku mengabadikan sejarah personal yang kerap kali luput oleh sapuan waktu. Dalam khazanah literasi kontemporer, memublikasikan kumpulan puisi yang lahir dari masa lalu bukan sekadar nostalgia, melainkan upaya penting mendokumentasikan evolusi kreatif seorang penulis.
Buku Tentang Kau dan Hujan: Seikat Puisi 2018-2019 hadir sebagai artefak dari sebuah era formatif yang spesifik—kurun waktu pra-pandemi yang menjadi saksi transisi emosional Riana Dwi Rahayu. Sebagaimana yang telah saya tegaskan dalam pengantar di buku ini, kumpulan puisi ini adalah “perjalanan karya” yang memvalidasi bahwa setiap fragmen pemikiran di masa lalu layak mendapatkan ruang di masa depan.
Antara Romantisme, Luka, dan Penantian
Daya tarik utama buku ini terletak pada kemampuannya mengolah frigiditas rindu yang teresolusi melalui simbolisme alam yang konsisten. Penulis tidak sekadar meminjam diksi “Hujan” atau “Senja” sebagai ornamen, melainkan menjadikannya bahasa universal untuk menerjemahkan duka yang bersifat privat.
Terdapat tiga pilar emosional yang mendominasi narasi puitis dalam antologi ini:
Pertama; Rindu sebagai Laku Metafisik. Dalam sajak Cintaku, rindu tidak lagi bersifat jasmaniah melainkan bertransformasi menjadi doa. Kutipan “…semua telah tersimpan dalam doaku” menegaskan bahwa cinta bagi penulis adalah sebuah rahasia yang hanya tuntas dalam ruang spiritual.
Kedua; Keberanian di Balik “Pandangan Tabu”. Melalui Unggun Sajak, penulis secara eksplisit menyinggung “pandangan tabu” yang kerap menyelimuti ekspresi melankoli. Bagi penulis, menulis puisi di tengah situasi yang “sendu” adalah cara untuk menjaga api kreativitas tetap bersinar, meski lingkungan sosial mungkin memandangnya dengan sebelah mata.
Ketiga; Melankolia Penantian yang Melelahkan. Puisi Dendang yang Kau Nyanyikan memotret kepedihan yang stagnan. Diksi “Pedih terasa ini hati / Seperti tersirat kabar lama dinanti” menunjukkan bagaimana sebuah harapan yang tak pasti mampu menggerus ketabahan seseorang.
Signifikansi dari penggunaan diksi-diksi konvensional ini adalah kemampuannya menciptakan intimitas instan dengan pembaca. Bagi seorang penulis muda, metafora alam ini adalah jembatan yang memungkinkan perasaan yang sangat personal dapat dirasakan secara kolektif. Namun, pergulatan emosional ini tidak berhenti pada urusan perasaan semata, melainkan ditarik menuju ranah yang lebih transenden.
Sujud dan Kepasrahan di Akhir Waktu
Pada puisi berjudul Pasrahkan Jiwa bertarikh 12 Januari 2018, Riana menunjukkan ketajaman spiritualitasnya dengan membedah dikotomi antara keangkuhan manusia dan kebesaran Tuhan. Ia secara strategis menonjolkan sikap zuhud dan mahabbah sebagai antitesis dari “pongahmu” yang seringkali membuat manusia mencoba mempermainkan skenario Sang Pencipta.
Penulis menawarkan sebuah sintesis mengenai kepasrahan total sebagai jalan keselamatan. Ada konsekuensi yang sangat puitis sekaligus menggetarkan jika manusia mampu mencapai derajat mahabbah:
“Jika saja kau mahabbah pada yang Kuasa/Maka tanah tidak akan menelanmu/Dan semesta tidak akan membentakmu/Maka, pasrahkanlah jiwamu dalam sujudmu/Untuk penantianmu di akhir waktu”
Pesan moral ini sangat tajam; ia mengingatkan bahwa tanpa kasih dan kuasa Tuhan, eksistensi manusia hanyalah sebuah ketidakterberdayaan. Kesadaran spiritual ini menjadi pondasi bagi penulis sebelum ia melemparkan pandangannya ke realitas metropolitan yang lebih keras.
Kritik Sosial dan Ironi Metropolitan
Kepekaan Riana meluas hingga ke ruang-ruang publik yang terdegradasi. Dalam pengamatannya terhadap Kota Tua, ia menangkap ironi yang miris antara kemegahan sejarah dengan realitas urban yang mencekam. Ia tak ragu menggunakan diksi yang kontras untuk menggambarkan “metropolitan yang terkutuk.”
Berikut adalah perbandingan analitis mengenai perspektif penulis:
- Dulu (Sejarah). Digambarkan sebagai ruang dengan “sejarah luar biasa” yang memiliki aroma khas dan memori kolektif yang agung.
- Sekarang (Ironi). Menjadi wajah metropolitan yang dipenuhi polusi yang “menari berirama”. Penulis menyoroti “lampu merah” yang bukan lagi sekadar marka jalan, melainkan ruang “pencarian uang” yang rentan terhadap kriminalitas seperti “begal” dan kehidupan keras anak jalanan.
Kritik ini penting karena menunjukkan transisi penulis dari romantisisme batin menuju kesadaran ekologis dan sosial. Ia melihat Kota Tua sebagai “nirwana yang terkutuk”—sebuah surga sejarah yang terkorosi oleh kesibukan ekonomi yang tak berjiwa.
Gaya Bahasa Pelajar Menuju Kedewasaan
Secara stilistika, buku ini mencerminkan kejujuran ekspresi seorang pelajar yang tengah mencari bentuk kedewasaan. Kekuatan utamanya justru terletak pada kesederhanaan diksi yang tidak pretensius. Namun, ketajaman mata hatinya terlihat pada pilihan kata yang kaya makna seperti Tabzir, yang ia kaitkan dengan penyalahgunaan kuasa dan kesia-siaan.
Istilah Nirwana digunakan secara ironis untuk menggambarkan kepahitan kota, sementara penggunaan bunga Angsoka dalam puisi Berdiri di atas rel kereta memberikan kontras estetik yang indah namun getir. Gaya “menyulam kata” ini memberikan dampak emosional yang dalam bagi pembaca generasi muda karena terasa dekat, jujur, dan tidak berjarak.
Bagi saya, Tentang Kau dan Hujan adalah sebuah dokumen perjalanan yang sangat berharga. Buku ini memberikan keberanian bagi setiap orang yang sedang belajar berkarya untuk tidak malu menengok kembali fragmen-fragmen lama mereka. Puisi-puisi lama ini adalah bukti sejarah pertumbuhan seorang penulis yang tak boleh hilang begitu saja oleh kesibukan duniawi.
Buku ini sangat direkomendasikan bagi pecinta puisi, pemerhati literasi, dan pembaca yang mencari kedalaman makna dalam balutan kesederhanaan. Karya ini adalah pengingat bahwa setiap perjalanan kreatif, betapapun sederhananya, adalah bagian dari penguatan akar literasi kita. Mari kita mengapresiasi keberanian penulis lokal dalam membekukan waktu melalui kata-kata, karena di dalam setiap baris sajaknya, kita mungkin akan menemukan pantulan diri kita sendiri.











