apijiwa.id – Malam itu datang perlahan, seperti biasa, tanpa tanda-tanda ganjil. Setelah seharian terkuras oleh rutinitas dan pikiran yang tak kunjung berhenti, aku masuk ke kamar dengan satu keinginan sederhana: tidur. Ya.. hanya tidur.
Seperti kebiasaan yang selalu kulakukan, sebelum memejamkan mata aku mengirimkan doa singkat, sebuah pengingat pada Yang Maha Kuasa, apa pun nama yang diberikan orang-orang pada-Nya.
Setelah itu, lampu kamar kupadamkan.
Ruangan tak sepenuhnya gelap. Cahaya lampu teras menyusup melalui ventilasi dan celah jendela yang tak tertutup gorden. Cukup untuk membuat bayangan-bayangan benda di kamar tampak samar, terutama lemari pakaian yang berdiri tepat di depan ranjangku.
Aku berbaring telentang, menatap langit-langit. Rasa lelah tak selalu ramah pada mereka yang sulit tidur. Pikiranku berloncatan: pekerjaan, obrolan remeh, hal-hal kecil yang entah mengapa terasa penting di malam hari.
Sesekali mataku terbuka, memastikan semua masih seperti biasa. Tidak ada yang aneh. Tidak ada firasat buruk.
Aku pun terlelap.
zzzzzzzzzz………..
Entah berapa lama aku tertidur, ketika tiba-tiba aku berada di kondisi antara sadar dan tertidur. Mataku terbuka, tapi sekujur tubuhku tidak bisa digerakkan sama sekali.
Aku terbaring kaku, seperti orang mati… namun aku masih bernafas saat itu.
Satu hal yang tak pernah kukira, dan tak pernah kukira.. aku melihat sosok seperti bayangan, tapi juga seperti manusia.
Tak dapat kupungkiri di depan lemari itu, kini berdiri seseorang.
Seorang perempuan muda. Wajahnya pucat, tapi cantik. Kehadirannya membuat dadaku berdebar tak menentu. Usianya mungkin belasan akhir, rambutnya terurai rapi, pakaiannya sederhana.
Ia berdiri di dalam kegelapan malam, yang hanya disinari dengan secercah cahaya bulan yang masuk dari ventilasi kamarku.
Jantungku semakin bergetar, nafasku terasa sesak. Aku hampir tidak bisa bernafas.
“Siapa dia? Bagaimana bisa masuk?” pikirku panik.
Aku mencoba bergerak. Gagal.
Seluruh tubuhku kaku, seolah ada tangan tak kasatmata yang menekan dari segala arah. Tanganku mati rasa. Kakiku membatu. Kepalaku terkunci menghadap lurus ke depan. Aku ingin berteriak, tapi lidahku kelu—bahkan napas pun terasa berat.
Perempuan itu menatapku. Tatapannya kosong, murung, seperti membawa beban yang terlalu berat untuk ditanggung sendirian.
Lalu bibirnya bergerak.
“Tolong antar aku pulang, Bang…”
Suaranya lirih. Tidak mengancam. Justru itulah yang membuatku semakin takut.
Aku ingin bertanya: pulang ke mana? Siapa dia? Mengapa aku?
Tapi yang keluar hanyalah suara di dalam hatiku.
“Iya…”
Aku berharap jawaban itu cukup. Aku berharap ia akan pergi.
Ternyata harapan itu salah.
Perempuan itu melangkah mendekat.
Satu langkah.
Bayangannya memanjang di lantai kamar. Wajahnya kini lebih jelas, tapi tetap seperti kabut yang sulit ditangkap sepenuhnya.
Untuk kedua kalinya, ia mengulang permintaan itu.
“Tolong antar aku pulang, Bang…”
Ketakutan menjalar ke tulang belakangku. Dalam kepalaku, muncul pikiran-pikiran paling gelap: bagaimana jika aku ikut? Bagaimana jika ini bukan mimpi, dan aku tak pernah bangun lagi?
Namun aku tak punya pilihan lain. Aku kembali menjawab dalam hati, dengan suara yang hampir putus asa.
“Iya…”
Ia semakin dekat.
Kini jaraknya hanya sekitar satu meter.
Untuk ketiga kalinya, kalimat itu meluncur dari bibirnya—lebih pelan, lebih berat.
“Tolong antar aku pulang, Bang…”
Dadaku sesak. Air mata mengalir tanpa bisa kutahan. Aku tidak tahu bagaimana cara menolongnya. Aku bahkan tidak tahu apa yang sedang kuhadapi.
Di ambang kepanikan total, aku melakukan satu-satunya hal yang masih bisa kulakukan: berdoa.
Aku memohon pada Yang Maha Kuasa—bukan hanya untuk diriku sendiri, tapi untuk sosok di hadapanku. Aku memohon agar ia dilepaskan dari kesesatannya, agar diberi jalan pulang ke tempat yang semestinya, ke alam yang menjadi haknya. Aku mengakui keterbatasanku sebagai manusia yang penuh salah dan takut.
Detik berikutnya, tekanan itu lenyap.
Tubuhku kembali terasa milikku.
Aku bisa bergerak. Aku bisa membuka mata sepenuhnya.
Perempuan itu perlahan mundur, tanpa membalikkan badan. Sosoknya memudar, seolah ditelan cahaya samar yang tersisa di kamar. Dalam sekejap, ia menghilang.
Aku terbangun sepenuhnya.
Lampu kamar langsung kunyalakan. Jam dinding menunjukkan pukul 03.15 dini hari.
Kamar itu kosong. Lemari berdiri seperti semula. Tak ada tanda-tanda apa pun—kecuali jantungku yang masih berdegup tak karuan.
Sisa malam kulewati tanpa benar-benar tidur. Wajah perempuan itu terus muncul setiap kali aku memejamkan mata.
Siapakah dia? Makhluk dari alam lain, atau sekadar pantulan ketakutanku sendiri?
Aku tak pernah tahu.
Peristiwa itu terjadi bertahun-tahun lalu, namun bayangannya tak pernah benar-benar pergi. Ia tinggal sebagai misteri—antara aku dan dia. Misteri yang tak meminta untuk dipecahkan, hanya untuk diingat.
Dan mungkin, untuk diwaspadai.
Karena tidak semua yang meminta diantar benar-benar ingin sampai. Dan tidak semua pintu seharusnya kita bukakan, terutama di tengah malam.
Ada satu hal yang baru kusadari setelah peristiwa itu berlalu bertahun-tahun. Ia tidak pernah menyebutkan ke mana ia ingin pulang. Dan aku tidak pernah bertanya.
Kesadaran itu datang belakangan, seperti serpihan es yang jatuh perlahan ke tengkuk. Semakin kupikirkan, semakin masuk akal bahwa permintaannya bukanlah permintaan biasa. Ia tidak meminta tolong seperti manusia yang tersesat di jalan. Ia memintanya dengan cara yang lebih dalam—seolah ia tidak membutuhkan tubuhku, melainkan izinku.
Sejak malam itu, tidur tidak lagi menjadi perkara sederhana bagiku.
Aku mulai terbangun di jam-jam ganjil. Pukul tiga lewat sedikit. Pukul empat kurang seperempat. Selalu dengan perasaan seolah ada sesuatu yang baru saja berdiri terlalu dekat, lalu pergi ketika aku membuka mata.
Lemari di kamarku menjadi benda yang paling jarang ingin kutatap lama-lama. Ada perasaan tak enak setiap kali pintunya berderit, seolah bunyi itu bisa memanggil kembali sesuatu yang seharusnya tetap jauh.
Beberapa kali aku mencoba meyakinkan diri bahwa semua itu hanyalah gangguan tidur. Kelumpuhan sesaat. Hal yang bisa dijelaskan secara medis. Namun penjelasan rasional terasa rapuh ketika suatu malam aku mendapati bekas jejak kaki basah di lantai kamar—jejak kecil, berhenti tepat di depan lemari.
Tidak ada hujan malam itu.
Aku menghapus jejak itu dengan kain, sambil menahan napas. Anehnya, saat kain itu menyentuh lantai, aku mencium aroma tanah dingin, seperti tanah yang lama tertutup.
Sejak saat itu, doa selalu menjadi penutup hariku. Bukan karena aku merasa suci, melainkan karena aku merasa dia masih mengingatku, orang yang berdosa ini.
Aku juga mulai memahami satu hal lain yang jauh lebih mengganggu. Mungkin ia tidak sedang meminta diantar pulang. Mungkin ia sedang mencari pengganti.
Karena hingga hari ini, setiap kali aku terbangun di tengah malam dan menatap ke arah lemari, selalu ada jeda sepersekian detik—waktu yang cukup untuk bertanya dalam hati:
“Apakah kali ini ia akan berdiri lebih dekat?”
Dan apakah, jika ia datang lagi, aku masih sanggup menolak untuk ikut pulang bersamanya.








