apijiwa.id – Suatu pagi di hari Rabu, ketika anak-anak sekolah riuh berlarian menuju ruang kelas, beberapa orangtua telat mengantar anak mereka ke sekolah. Sementara guru kelas sudah sedia menunggu di ruang kelas dengan ragam persiapan administrasi yang menumpuk di dalam isi kepala.
Pagi itu, suasana kampung mendung. Matahari hendak bersembunyi di balik kabut tebal. Wajah ceria anak-anak kelas 4 SD Inpres Anametan menunjukan bahwa mereka sudah siap untuk menerima pelajaran hari itu.
Pak guru berkeliling rung kelas sembari menanyai kabar siswanya satu persatu sembari membuka kegiatan pembelajaran yang administrasinya sudah disiapkan sejak malam kemarin. Yah, kewajiban guru mengajar menggunakan modul ajar yang dirancang sendiri sesuai dengan kebutuhan siswa di kelas adalah tugas yang sering menjadi makanan pokok bagi seorang guru kelas.
Selain itu, pendekatan emosional pun tak kalah penting. Pendekatan itu harus dilakukan setiap hari sebelum dan sesudah melakukan kegiatan belajar mengajar di kelas. Semua ini dilakukan sesuai dengan kurikulum pendidikan yang merujuk pada hasil belajar siswa yang maksimal.
“Chandra, apa kabar?” tanya pak guru dengan nada dan tatap yang mengarah pada Chandra yang sibuk mengeluarkan buku tulis dari tas belakangnya.
“Kabar baik pak.” Jawab Chandra singkat. Pak guru terus berkeliling, memastikan bahwa siswa di kelasnya benar-benar sehat secara fisik dan emosional sebelum memulai kegiatan pembelajaran.
“Sekarang musim apa?” tanya pak guru. Serentak siswa di kelas menjawab, “Musim hujan Pak.”
Pak guru mengangguk. Ia mulai memperkenalakan pelajaran kepada siswa di kelas. Pak guru melanjutkan pembicaraanya, membangun dialog ringan. Tanya jawab dan berhasil membuat beberapa siswa berpikiran terbuka.
“Pantas di jalan tadi berlumpur. Ada yang di jalan saat datang sekolah tadi lihat lumpur?”
Kembali mereka menjawab dengan satu jawaban, serentak dan kompak. “Lihat.”
Lumpur di musim hujan itu sudah pasti. Apalagi di kampung, banyak ruas jalan yang tidak tersentuh oleh pembangunan. Entah karena pemerintah kekurangan dana atau memang dananya ada tetapi tidak dialokasikan? Kenyataan pahit yang harus dijumpai setiap hari ialah lumpur yang memang akan melekat di bawah dasar sepatu siapa saja saat melalui ruas jalan itu.
Pelajaran yang dimulai dari cerita dan dialog. Pendidikan sesungguhnya bukan sekedar memindahkan ilmu dari buku cetak ke buku tulis siswa, tetapi menjadi ruang dialog yang melibatkan proses berpikir siswa yang terus menerus diasah hingga kelak mereka menjadi orang yang pandai berpikir jernih dan terstruktur.
Kebetulan hari itu, pelajaran di kelas 4, Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial. Tentang Iklim dan Perubahannya. Pak guru terus memancing dengan pertanyaan-pertanyaan realistis dengan kehidupan nyata siswa.
“Apa yang membuat anak-anak menjadi tahu kalau sekarang musim hujan?”
Salah satu siswa menjawab dengan spontan. Namanya Calvin. Meski bahasanya belum baku dan masih kaku untuk memberi jawaban tetapi keberaniannya membuat setiap siswa tergugah juga untuk memberi jawaban di saat guru memberikan pertanyaan. “Karena hujan datang setiap hari,” jawabnya.
Hujan datang setiap hari merupakan satu tanda bahwa itu adalah musim hujan. Tanda lain pun belum terekspose. Pak guru masih menyimpan banyak tanya di dalam isi kepala, namun berusaha merangkai dengan kalimat yang sederhana, agar dapat dicerna oleh siswa tingkat sekolah dasar.
“Selain hujan datang setiap hari. Tanda apa lagi yang membuat kamu tahu bahwa itu adalah musim hujan?” tanya pak guru memancing suasana agar ruang kelas terlihat lebih hidup. Beberapa siswa mulai berpikir. Yang lain sibuk merangkai jawaban di atas kertas yang tampak kusut.
Di sela keheningan itu, terdengar suara dari sudut lain. Bukan dari siswa yang biasa mendominasi kelas, melainkan dari Sela—seorang murid yang selama ini dicap lamban oleh beberapa guru. Dengan tenang, ia mencoba menguraikan jawaban yang cukup terstruktur.
“Pohon-pohon yang sudah mengugurkan daunnya di musim panas kembali tumbuh daun muda sehingga tumbuh-tumbuhan di sekitar terlihat hijau.” Suasana kelas semakin hidup. Beberapa siswa berlomba-lomba memberi jawaban dan sebagian lainnya sibuk mencari pertanyaan. Padahal pelajaran ini baru bermula di kegiatan awal pembelajaran.
Waktu terus berputar. Matahari masih bersandiwara dengan bumi. Benar ini musim hujan, tetapi beberapa warga sekitar sangat membutuhkan pancarannya untuk mengeringkan pakaian, juga beberapa hasil pertanian seperti Kopra dan Kemiri untuk dijual ke tengkulak.
Waktu masih menunjukan pukul 08:00 pagi, bertanda bahwa kami sudah memulai pelajaran sejak 45 menit yang lalu. Detiknya terlalu cepat, namun tidak kalah cepat dari anak-anak kelas 4 yang tengah mengikuti pelajaran hari itu.
Pak guru pun berjalan, kembali dari lorong kursi dan meja siswa, kemudian melontarkan satu pertanyaan lagi. “Kalau musim panas, itu keadaan di sekitar kita bagaimana?”
Ongki mengetuk meja, lalu mengacungkan tangan. Tampaknya ia lebih teratur dari pada siswa lain yang sebelumnya sibuk memberi jawaban tanpa memperhatikan kode yang sering dilakukan di berbagai kegiatan diskusi.
“Kalau musim panas, biasanya permukaan tanah kering dan retak. Sumur kering. Daun-daun pada pohon pun ikut kering dan jatuh.” Ongki menguraikan panjang lebar dan semua jawaban itu benar adanya.
Pak guru hanya mengangguk bangga. Siswa yang selama ini dikatai lamban justru hari ini menunjukan hal yang berbeda. Mereka aktif dan terlihat antusias. Metode yang diterapkan dalam pelajaran ini cocok sehingga siswa tampak antusias.
Pak Guru melangkah ke depan papan tulis. Derit sepatunya menjadi satu-satunya bunyi yang terdengar, menandakan bahwa hari itu siswa kelas 4 sangat tertib mengikuti pelajaran. Ia mulai menuliskan topik dan uraian materi di papan. Seperti biasa, para siswa sibuk mencatat dengan antusias, meski terkadang tulisan mereka sendiri sulit mereka baca kembali.
Proses belajar hasil belajar. Sesuangguhnya dua hal yang tak dapat dipisahkan namun hasil belajar tidak hanya dilihat dari beberapa aspek. Misalkan: nilai rapor, nilai ulangan dan nilai-nilai yang lain yang dilabeli dengan angka yang memuaskan. Setelah merefleksi panjang tentang arah pendidikan dan penilaian yang bersumber dari pengalaman pribadi pak guru, sejak duduk di bangku sekolah dasar hingga saat ini, tidak berbeda jauh dari kondisi siswa yang saat ini menjadi anak wali pak guru.
Lamban berpikir divonis bodoh, tidak menjawab pertanyaan guru dianggap bodoh, tidak mampu menulis dianggap bodoh. Kata bodoh yang sebenarnya adalah diskriminasi, namun tetap dipakai untuk menghakimi siswa sekolah dasar yang sebenarnya sedang belajar untuk bertumbuh dan berkembang.
Demikian keadaan masa lalu itu, kini tidak bisa pak guru terapkan pada anak didik, mengingat mereka tidak harus mewarisi kebiasaan yang dahulu diterapkan oleh para pendidik yang menerapkan kegiatan pembelajarannya dengan metode konvensional.
Pelajaran terus berlanjut. Beberapa siswa sudah menyelesaikan tulisannya. Sementara yang lain masih berebutan siapa yang terlebih dahulu selesai. Anak-anak yang kritis sejak dini tidak tinggal diam dalam menanggapi isi pelajaran yang di sampaikan oleh guru di kelas. Calvin Imanuel Kune. Usianya masih belia, tetapi pikirannya tampak jenius. Dia seringkali menjadi teman diskusi pak guru saat pelajaran dimulai.
Mengingat pertemuan di kelas pada beberapa waktu lalu, sempat pak guru tidak mampu menjawab pertanyaannya yang paling sederhana terkait penjelasan pak guru tentang mencintai sesama mahkluk hidup ketika salah satu temannya hendak membunuh bunglon yang merayap bebas di penyangga kursi yang tampak tua.
“Kita harus mencintai semua makhluk hidup. Jangan bunuh, dia juga ingin hidup seperti kita. Manusia.”
Rentetan pertanyaan datang darinya, “Berarti kita tidak boleh membunuh nyamuk meskipun nyamuk menghisap darah kita.” Pertanyaannya seperti sedang menyerang juga mencari jawaban yang logis.
Hari ini, kembali ia melontarkan salah satu pertanyaan yang memang jawabannya sudah ada sejak dahulu di dalam isi kepala pak guru. Pertanyaan itu timbul dari kata “Garis Khatulistiwa.” Dia membaca dan bertanya seperti seorang wartawan, “Khatulistiwa itu apa pak?”
Pak guru tidak hanya menjawab dengan kata-kata, tetapi juga menyertakan gambar ilustrasi di papan tulis dengan spidol yang tintanya hampir habis akibat sering mencatat di ruang kelas itu.
Gambar bumi dan matahari seadanya. Sebuah titik poros diletakan persis di tengah untuk menunjukkan bahwa bumi berputar pada porosnya. Seusai pak guru menerangkan, salah satu siswa yang tak ingin ketinggalan momen langsung saja menyimpulkan dengan kondisi nyata sesuai dengan rotasi bumi dalam satu hari serta perbedaan wilayah yang mengkibatkan perbedaan waktu.
“Pak, kemarin saya menelpon tante saya yang di Surabaya. Di sana jam 16:00 sementara kita disini masih jam 14:00,” kisah Kristine.
Calvin membalikan tatapannya, tanpa menunggu instruksi dari pak guru untuk menanggapi apa yang di sampaikan oleh teman sebayanya. “Perbedaan waktu itu terjadi karena kita di bagian timur lebih dekat dengan matahari, sedangkan mereka di wilayah lain jauh dari matahari, makanya putaran waktu di bagian timur dua kali lebih cepat dari mereka yang di Surabaya,” tegas Calvin.
Keseruan dialog di kelas itu membuat pak guru dan siswa lupa jam istirahat. Tiga puluh liama waktu istirahat itu berlalu tanpa terasa. Hingga dikagetkan dengan ketukan pintu dari guru mata pelajaran lain bahwa sudah pergantian jam. Pak guru akhirnya menyampaikan bahwa pelajaran terpaksa harus diakhiri, meski meninggalkan banyak pertanyaan di dalam kalbu mereka. “Kita lanjut lagi minggu depan yah anak-anak. Selamat Belajar.”













