apijiwa.id – Tiba-tiba saja aku diminta menulis buku. Setelah menyelesaikan tugas Bimtek Kepenulisan Konten Berbasis Budaya Lokal yang digelar Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah (Dinarpusda) Kabupaten Grobogan yang kuikuti, dan ingin santai dulu, ternyata ‘paksaan’ menulis buku itu tidak bisa aku hindari.
Aku diminta ikut dalam program Gema Rusa Menuku (Gerakan Bersama Guru Bisa Menulis Buku) yang diadakan Dinas Pendidikan Kabupaten Grobogan. Ibu Yun, selaku Ketua Dabin 4 Kecamatan Purwodadi, menunjukku sebagai perwakilan dabin karena kuota seribu buku saat itu belum terpenuhi. Dan aku, dianggap mampu mengejar penulisan buku, yang hanya punya tenggat waktu satu minggu dari deadline yang diberikan.
Dinas Pendidikan Kabupaten Grobogan kala itu memang akan punya gawe pemecahan rekor MURI guru penulis buku terbanyak dengan target 1.000 guru penulis.
Sejak awal, sebenarnya aku memang tertarik dengan program itu dan karena ‘harus ikut’, mau tidak mau, aku musti mencari informasi ke beberapa nama yang terlibat sebagai panitia, terutama yang bertugas dalam penerbitan. Terkait aturan kepenulisan, jenis tulisan yang bisa dibukukan, bahkan biayanya.
Karena projek penerbitan bukunya memang biaya pribadi. Agak sayang juga kalau tidak serius dalam menulisnya, sementara tenggat waktunya cukup pendek, bahkan beberapa saran masuk ke telinga agar aku menggunakan bantuan AI.
Agak bagaimana gitu ketika disarankan menulis buku dengan bantuan AI. Hatiku sedikit kelu, meski aku sadar bahwa tulisan-tulisanku selama ini ya gitu-gitu saja. Bagiku, AI tidak bisa memberikan rasa dalam tulisan.
Tiga hari berlalu, belum juga aku menemukan apa yang akan aku tulis dalam bukuku. Hanya saja, saat mengotak-atik gambar di Canva, membawaku pada sebuah desain kover yang kubuat dengan bermodal foto pribadi bersama muridku yang aku edit menjadi kartun.
Di titik ini, aku menggunakan bantuan AI, sih. Dan lumayan lucu juga sampul yang aku buat, karena menyesuaikan diriku yang juga lucu.
Lantas beberapa kali aku menuliskan dua kata sebagai judul untuk calon bukuku, hingga berakhir pada dua kalimat: Catatan Gurukecil. Di mana catatan itu, aku maksudkan sebagai sebuah rangkaian memori perjalanan seorang bernama Chela, yang sejauh ini mengenalkan dirinya sebagai gurukecil.
Ya, gurunya anak-anak SD, seperti pertama kali aku memutuskan memberi nama bagi rumah mayaku: gurukecil.com—yang kini berubah menjadi gurukecil.id.
Tentang Isi Buku
Aku mengawali kisah di bukuku dengan sebuah kisah di mana menjadi guru sebenarnya bukan cita-cita awalku. Aku merasa, pengalaman pribadi ini, harus aku tulis sebagai pengingat bahwa sekeras apapun aku menolak, mencoba mengikuti kata hatiku untuk terjun di bidang lain, ternyata masih menang doa ibu. Sesuatu yang tidak aku bayangkan menjadi sebuah jalan takdirku hingga sekarang. Sehingga rasanya, sangat perlu aku tulis bahwa doa ibu segalanya di jagad raya ini.
Aku juga menceritakan dari sudut pandangku sebagai anak seorang guru yang melalui suka dukanya. Era bapak menjadi guru, tentu berbeda dengan era saat ini. Namun, dengan adanya role model dari sosok seorang bapak, juga merupakan memoar yang harus aku abadikan. Sekaligus menjadi semacam apresisasi atas perjuangan bapak untuk keluarga.
Inspirasi lain untuk isi buku itu tak lain dari lingkup sekolahku. Pengalaman hari pertama mengabdi di sekolah yang kondisi bangunannya di luar bayanganku; mendapati rekan kerja sudah tua-tua; bahkan keluh kesah mengenai gaji seorang guru honorer yang sampai saat ini masih saja menjadi debat panas, meskipun presiden sudah berganti-ganti.
Menuliskan kisah-kisah itu seperti merangkai kepingan puzzle memory yang ternyata seru dan mengena sekali di hati.
Bahkan, rasanya sayang sekali jika pengalaman hidupku yang berjodoh dengan rekan satu profesi tidak aku tulis. Hingga pengasuhan anak-anak dengan latar belakang orangtua yang bekerja sebagai guru. Semua seperti memberikan ruang bagi inner child untuk lebih berdamai dengan luka masa lalu.
Beberapa judul menjadi salah satu cerita untuk melepas luka dan dikenang sewaktu-waktu. Ada romansa yang tertulis juga, suka duka menjalani hari sebagai pasangan guru. Serta menggali sudut pandang anak sulungku terkait pengalamannya menjadi anak dari orangtua yang bekerja sebagai guru.
Aku juga menuliskan kisah tentang mbakku hingga ibuku. Aku musti menggali kenangan berduka ditinggal ibu dan harus berjuang menyelesaikan PPG. Proses menulis judul itu memang butuh waktu agak lama, karena aku harus merilis emosi yang muncul sepanjang mengetik ceritanya.
Tidak jarang aku bangun dengan mata sembab, karena malamnya harus melanjutkan tulisan, namun harus berhenti dengan tangisan. Terlalu lemah di salah satu judul yang memang aku tulis khusus untuk mengenang ibuku.
Hingga pada akhirnya, aku mengakhiri kumpulan cerita untuk buku Catatan Gurukecil yang aku buat dengan mengambil tulisanku yang sudah tayang di blog dan e-book. Satu tulisan di blog yang aku tulis tahun 2014 dan menjadi pemenang pertama di kontes blog, aku ikut sertakan dalam draft buku itu.
Dan satu lagi, tulisan terbaru yang lolos di babak akhir event Wardah Inspiring Teacher dan terpilih sebagai salah satu dari 50 tulisan terbaik.
Tulisan itu aku pilih, karena ternyata ada tulisanku yang layak menang dan terbit, yang menjadi penyemangatku bahwa ternyata, aku bisa menulis bagus, enak dibaca, dan dengan menonjolkan gaya tulisanku sendiri.
Terkadang, memang ada keraguan, apakah tulisan-tulisanku itu ada yang mau membaca. Tetapi, aku tetap meyakini, bahwa tulisan akan menemukan pembacanya sendiri. Dengan konsep yang riil, ringan, dan penuh kasih, aku menulis Catatan Gurukecil ini sebagai bukti bahwa ternyata gurukecil sudah berjalan sejauh ini.













