Advertisement

apijiwa.id – Pernahkah Anda memperhatikan bagaimana satu media massa menuliskan kata “Ramadan” dengan patuh sesuai kaidah, sementara raksasa media lainnya tetap konsisten menggunakan ejaan “Ramadhan”? Fenomena ini seringkali memicu skeptisisme di kalangan audiens: apakah ini bentuk pengabaian terhadap Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ataukah sekadar kelalaian redaksi?

Sebagai praktisi penerbitan, saya harus menegaskan bahwa perbedaan tersebut bukanlah sebuah kesalahan ketik (typo). Sebaliknya, ini adalah manifestasi dari editorial standards yang dirancang secara sadar untuk membangun brand positioning.

Di sinilah letak dikotomi antara kepatuhan kaku terhadap standar baku bahasa dengan kebutuhan strategis media untuk memiliki karakter unik sebagai alat diferensiasi pasar. Perbedaan penulisan ini merupakan inti dari apa yang kita sebut sebagai “Gaya Selingkung”—sebuah instrumen penting dalam menjaga house style consistency.

Mengungkap Makna “Selingkung”

Istilah “Selingkung” secara etimologis berakar dari kata “lingkung-melingkung”, yang secara harfiah berarti memberikan batas pada sekeliling, layaknya sebuah pagar. Dalam arsitektur konten, “pagar” ini berfungsi untuk menetapkan parameter internal yang membedakan koridor editorial satu lembaga dengan lembaga lainnya.

Secara fundamental, gaya selingkung didefinisikan sebagai kesepakatan kolektif yang bersifat eksklusif: Gaya selingkung adalah gaya penulisan yang disepakati secara spesifik dan sifatnya terbatas pada satu lingkungan penerbitan atau media tertentu.

Definisi ini menegaskan bahwa setiap media memiliki kedaulatan penuh untuk menentukan “hukum tata bahasa” internal mereka sendiri demi memperkuat identitas merek.

Tiga Pilar Utama Penentu Identitas Media

Gaya selingkung bukanlah sebuah entitas yang statis, melainkan sebuah sistem dinamis yang ditopang oleh tiga pilar utama. Interaksi yang harmonis di antara ketiga pilar ini nantinya akan membentuk anatomi media secara utuh, baik yang terlihat langsung oleh audiens secara visual maupun detail teknis yang bekerja di balik layar.

Pilar pertama adalah pola penulisan, yang berfungsi sebagai fondasi intelektual sebuah media. Pilar ini mengatur tata bahasa, standardisasi ejaan, serta kurasi diksi atau pilihan kata. Melalui pengelolaan pola penulisan yang konsisten, sebuah media dapat melahirkan dan merepresentasikan karakter serta “suara” khasnya kepada pembaca.

Selanjutnya, pilar kedua berfokus pada perwajahan dan format. Bagian ini merupakan arsitektur visual yang mencakup desain estetika, tata letak (layout), hingga presentasi fisik dari produk editorial tersebut. Aspek inilah yang pertama kali menyapa mata pembaca dan membangun impresi awal sebuah media.

Terakhir, pilar ketiga melibatkan kerincian penyajian yang mengatur standardisasi teknis operasional. Pilar ini mencakup penentuan kedalaman informasi, metodologi pengutipan yang valid, hingga kelengkapan data pendukung. Melalui pilar ini, sebuah media dapat menjaga akurasi, kredibilitas, dan kualitas konten yang disajikannya.

Ketiga pilar ini senantiasa bertransformasi untuk merespons dinamika industri dan preferensi audiens sebelum akhirnya mewujud dalam anatomi fisik media yang lebih kompleks.

Metafora Gunung Es: Lebih dari Sekadar Pilihan Kata

Dalam manajemen identitas visual, gaya selingkung seringkali disalahpahami hanya sebatas urusan ejaan semata. Padahal, jika menggunakan metafora gunung es, aspek kebahasaan hanyalah pucuk kecil yang tampak di permukaan visual. Fondasi utamanya justru tertanam jauh di bawah permukaan dalam bentuk detail-detail teknis yang struktural.

Pada bagian elemen yang terlihat di atas permukaan, fokus utama terletak pada aspek kebahasaan yang langsung berinteraksi dengan pembaca. Hal ini mencakup seleksi diksi strategis serta standardisasi ejaan kata—seperti konsistensi dalam memilih antara bentuk “Idulfitri” atau “Idul Fitri”. Meskipun tampak sederhana, elemen permukaan inilah yang menjadi garda depan dalam mencerminkan profesionalisme teks.

Sementara itu, elemen struktural yang berada di bawah permukaan menyimpan detail teknis yang jauh lebih kompleks namun penting bagi keutuhan media. Di sinilah aspek estetika dan fungsional bekerja bersama, yang meliputi:

  • Tata Letak Sampul. Gerbang visual utama yang menentukan impresi pertama pembaca.
  • Tipografi dan Sistem Penomoran. Pemilihan jenis serta ukuran huruf (font) yang menentukan tingkat keterbacaan (readability), didukung oleh sistem penomoran halaman sebagai navigasi kenyamanan.
  • Gaya Bahasa. Penentuan tone of voice yang secara konsisten merefleksikan kepribadian dan karakter khas media.
  • Jenis Kertas. Khusus untuk media cetak, spesifikasi material kertas menjadi bagian dari pengalaman sensorik yang membedakan produk premium dengan produk massa.

Melalui perpaduan kedua dimensi gunung es ini, gaya selingkung berhasil mengubah sekadar kumpulan tulisan menjadi sebuah identitas visual yang utuh, kuat, dan berkarakter.

Mengapa Media Menyimpang dari Aturan Baku?

Keputusan redaksi untuk melakukan deviasi atau simpangan dari aturan baku Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) bukanlah sebuah tindakan yang sembrono. Langkah ini merupakan bentuk adaptasi pragmatis yang diambil secara sadar demi menyesuaikan diri dengan target pasar atau audiens yang dituju. Ada alasan-alasan strategis di balik penyimpangan tersebut yang berfokus pada efektivitas komunikasi.

Faktor pendorong pertama berkaitan erat dengan kalangan dan usia pembaca. Redaksi perlu melakukan penyesuaian register bahasa agar konten yang disajikan tetap relevan dengan demografi spesifik yang disasar. Sebagai contoh, media akan tetap menggunakan bahasa formal yang rigid untuk kalangan profesional, namun akan beralih ke bahasa yang lebih santai dan populer ketika berkomunikasi dengan Gen-Z.

Selain faktor usia, kenyamanan berinteraksi juga menjadi pertimbangan penting. Dengan melonggarkan aturan baku, redaksi dapat mentransformasi nuansa teks yang awalnya kaku menjadi sebuah percakapan yang terasa lebih hangat. Pendekatan yang lebih cair ini terbukti lebih efektif dalam membangun kedekatan (engagement) dan ikatan emosional dengan pembaca.

Terakhir, deviasi ini seringkali didorong oleh kebiasaan masyarakat itu sendiri. Redaksi memilih untuk mengadopsi istilah-istilah yang sudah terlanjur berakar kuat dan familier di tengah publik, meskipun secara teknis istilah tersebut belum masuk dalam kategori kata baku. Langkah ini diambil demi menjaga kelancaran penyampaian pesan agar informasi dapat langsung diserap tanpa menciptakan jarak komunikasi.

Untuk memahami bagaimana gaya selingkung (house style) bekerja secara nyata, kita dapat meninjau perbandingan keputusan redaksional antara standar baku nasional dengan berbagai entitas media. Perbedaan ini biasanya terlihat jelas dalam tiga aspek utama, yaitu ejaan hari raya, format penulisan judul, dan pilihan kata negasi. Melalui ketiga aspek ini, setiap media menegaskan identitas dan pendekatan komunikasi mereka yang unik.

Sebagai acuan dasar, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menetapkan standar baku yang rigid. Dalam aturan resmi ini, penulisan hari raya yang benar adalah menggabungkannya menjadi “Idulfitri”. Untuk penulisan judul, standar baku mewajibkan penggunaan huruf kapital di setiap awal kata, sementara pilihan kata negasi yang diakui secara formal adalah kata “Tidak”.

Namun, dalam praktiknya, media mainstream seperti Tempo atau Kompas seringkali mengambil langkah kompromi yang disesuaikan dengan kebiasaan publik. Mereka memilih ejaan “Idul Fitri” yang dipisah, meskipun tetap mempertahankan format judul yang sesuai kaidah standar baku dan secara konsisten menggunakan kata negasi “Tidak” untuk menjaga wibawa serta formalitas berita.

Kebebasan dalam Batasan

Meskipun setiap media memiliki kedaulatan kreatif, kebebasan ini tidak boleh mengorbankan integritas kepenulisan. Kreativitas selingkung harus tetap berada dalam koridor logika dan kejelasan agar media tidak terlihat amatir. Dua syarat mutlak yang harus dipenuhi adalah:

Pertama; tidak merusak fondasi. Wajib mematuhi aturan dasar mutlak dan universal (seperti penggunaan tanda titik [.] untuk mengakhiri kalimat) agar fungsi komunikasi tidak terganggu.

Kedua; konsistensi internal. Ini adalah hukum tertinggi dalam penerbitan. Aturan apa pun yang telah dipilih wajib diterapkan secara seragam di seluruh kanal media tanpa kecuali.

Sebagai kesimpulan, gaya selingkung melampaui sekadar masalah teknis penulisan; ia adalah jejak identitas yang membedakan satu entitas media dengan pesaingnya. Selama diterapkan dengan konsistensi yang ketat, deviasi bahasa bukanlah sebuah kesalahan, melainkan: DNA EDITORIAL.

Ini adalah tanda tangan unik dari meja redaksi yang telah disepakati bersama. Berhentilah menyimpulkan bahwa perbedaan ejaan antar media adalah sebuah typo. Gaya selingkung adalah wajah profesionalisme yang memastikan setiap kata memiliki karakter dan setiap publikasi memiliki jiwa.

*Tulisan ini merupakan materi yang disampaikan penulis dalam acara Bimbingan Teknis Penulisan Konten Berbasis Budaya Lokal yang diadakan oleh Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah (Dinarpusda) Kabupaten Grobogan pada Selasa, 19 Februari 2026, di aula dinas setempat, yang diikuti 70 orang peserta.

Facebook Comments Box

Penulis: Badiatul Muchlisin AstiEditor: Redaksi Apijiwa.id

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.