apijiwa.id – Selain peninggalan sejarah bercorak Hindu yang tersimpan di Museum Glagah Wangi serta berbagai situs di daerah Demak—seperti situs Dudukan, situs Watu Kebo, situs Linggabodi Lor, hingga situs Mbah Kopek—pernah ditemukan pula peninggalan khas masyarakat Buddha yang diduga eksis di Kota Wali ini. Salah satu temuan penting bercorak Buddha tersebut berupa fragmen arca yang kini disimpan di Museum Glagah Wangi.
Pada tahun 2012, seorang warga menemukan sebuah arca batu berwarna putih di area persawahan Desa Tridonorejo, Kecamatan Bonang, Demak. Arca setinggi 60 cm tersebut ditemukan dalam kondisi tidak utuh dan terkubur cukup dangkal, yakni hanya sekitar 20 cm di bawah permukaan tanah.
Menariknya, lokasi penemuan ini hanya berjarak sekitar 300 meter dari situs bata merah Desa Jatirogo yang telah ditemukan sebelumnya, sehingga muncul dugaan kuat bahwa kedua temuan tersebut saling berkaitan. Selain arca, warga juga menemukan tatanan bata merah yang menyerupai fondasi bangunan kuno di lokasi yang sama. Temuan ini kemudian ditindaklanjuti oleh pihak berwenang hingga akhirnya arca tersebut kini terawat dengan baik di Museum Glagah Wangi Demak.
Meskipun arca yang ditemukan warga tersebut sudah tidak utuh, kuat dugaan bahwa objek ini bercorak Buddha. Kesimpulan ini diambil karena tidak ditemukannya ikonografi atau atribut khas Hindu, seperti camara (penghalau lalat), ular, ataupun sangkha (kerang bersayap). Oleh karena itu, fragmen tersebut diasumsikan sebagai arca pendeta Buddha, mengingat ketiadaan ciri dewa seperti mudra (posisi tangan) atau urna (titik di dahi).
Jika menilik catatan sejarah, jejak Buddhisme di Tridonorejo bukanlah hal baru. Dalam laporan Dinas Purbakala tahun 1914 (Rapporten van den Oudheidkundige Dienst), tercatat bahwa beberapa arca Buddha berbahan emas pernah ditemukan di wilayah tersebut pada tahun 1887. Berbagai temuan ini memperkuat bukti bahwa jauh sebelum masa Islam, wilayah pesisir Jawa merupakan pusat kegiatan keagamaan yang sangat aktif, khususnya bagi umat Hindu dan Buddha.
Spiritualitas masyarakat Nusantara, khususnya di Pulau Jawa, telah dipengaruhi oleh ajaran Buddha sejak awal masehi. Jejak pengaruh ini terpahat nyata pada berbagai peninggalan sejarah seperti naskah kuno, relief, dan arca. Keberadaan relief tersebut sangat beragam, mulai dari pahatan sederhana di dinding gua hingga rangkaian narasi yang kompleks pada candi megah seperti Borobudur.
Dalam mengidentifikasi arca yang bercorak Buddhisme, terdapat perbedaan ciri fisik yang khas pada setiap tokohnya. Arca Buddha (Tathagata) umumnya digambarkan mengenakan jubah dengan ciri fisik berupa tonjolan di kepala (usnisa), rambut ikal melingkar, serta daun telinga yang lebar.
Berbeda dengan itu, Arca Bodhisattva tampil dengan kesan yang lebih mewah melalui atribut pakaian kerajaan dan perhiasan yang lengkap. Sementara itu, Arca Pendeta atau Biksu digambarkan dengan cara yang lebih bersahaja dan sederhana, dengan ciri utama berupa kepala polos tanpa rambut.
Walaupun saat ini banyak dari arca tersebut ditemukan tidak lagi berada di lokasi aslinya, keberadaannya tetap menjadi instrumen krusial bagi kita untuk mendalami dinamika kehidupan sosial serta sistem keyakinan masyarakat di masa lampau.
Dalam mengidentifikasi arca yang diduga sebagai pendeta Buddha tersebut, kita perlu mencermati kembali perbedaan ikonografi antara arca pendeta dan arca Buddha itu sendiri. Rendy Aditya Putra Ertisia dan Galih Sekara Jati Nagari dalam Jurnal JANUS (2023) menjelaskan bahwa secara sederhana, arca pendeta Buddha memiliki tampilan yang kontras dengan arca Buddha (Tathagata). Jika arca Buddha digambarkan dengan ciri-ciri kesucian seperti sanggul di atas kepala (usnisa), tanda di dahi (urna), dan rambut ikal, arca pendeta justru dibuat lebih menyerupai manusia biasa dengan kepala polos tanpa rambut. Hal ini merepresentasikan posisi pendeta yang berada di tingkatan berbeda dengan Buddha, namun tetap dipandang istimewa karena keberhasilan mereka melepaskan diri dari belenggu keduniawian.
Meski asal-usul era arca ini masih menjadi misteri, keberadaan fragmen tersebut di Museum Glagah Wangi bukanlah sekadar pajangan batu tua. Ia adalah bukti autentik bahwa sejarah Demak jauh lebih berwarna dari yang kita bayangkan. Jauh sebelum dikenal sebagai pusat penyebaran Islam, pesisir Bonang telah menjadi saksi harmonisasi budaya Hindu dan Buddha. Temuan arca di Desa Tridonorejo yang tampak “manusiawi” tanpa sanggul suci ini memperkuat dugaan adanya sosok pendeta Buddha di masa lalu.
Relevansi temuan ini bagi kita hari ini sangatlah mendalam. Ia menjadi pengingat bahwa sikap inklusif dan toleransi telah menjadi “DNA” masyarakat Demak sejak masa klasik. Menghargai arca ini berarti kita tengah merawat akar budaya yang majemuk sekaligus belajar tentang nilai kesederhanaan batin di tengah dunia modern yang serba bising. Oleh karena itu, mengunjungi museum bukan sekadar melihat benda mati, melainkan upaya bercermin pada masa lalu demi menjaga keberagaman di masa depan.
Kehadiran fragmen arca ini seolah mematahkan anggapan bahwa sejarah sebuah wilayah hanya berjalan secara linear. Sebaliknya, sejarah menunjukkan perjalanan kultural yang dinamis. Temuan ini menegaskan adanya kesinambungan peradaban; bagaimana sebuah lokasi yang kini kental dengan nuansa religius Islam, dulunya merupakan pusat spiritualitas yang juga disakralkan oleh penganut Buddha dan Hindu. Rekam jejak ini dapat ditelusuri lebih lanjut melalui koleksi Museum Glagah Wangi serta berbagai situs klasik yang telah dipaparkan sebelumnya.













