Advertisement

apijiwa.id – Setiap kali bulan September tiba, memori kolektif bangsa Indonesia secara otomatis memutar ulang salah satu babak paling kelam dalam sejarah modern kita; Gerakan 30 September (G30S/PKI). Narasi tentang kudeta, fitnah politik, gugurnya para jenderal, hingga keterlibatan Pasukan Pengawal Presiden (Cakrabirawa) menjadi pengingat pahit bahwa ancaman paling mematikan bagi sebuah negara seringkali bukan datang dari tentara asing, melainkan dari lingkaran dalam kekuasaan itu sendiri.

Tak jarang, guru-guru di sekolah mewajibkan atau secara khusus menayangkan film dokumenter pemberontakan tersebut—sebuah tradisi yang sering memicu perdebatan panjang. Namun, karena fokus dan ketertarikan saya lebih condong pada era klasik-transisi, saya tidak akan mengulas peristiwa G30S/PKI lebih jauh.

Sebab, intrik berdarah, manipulasi, dan makar dari orang-orang terdekat penguasa ternyata bukan monopoli sejarah modern. Ratusan tahun sebelum tragedi 1965, kemaharajaan Nusantara yang paling digdaya, Majapahit, nyaris runtuh berkali-kali akibat akar masalah yang sama; pengkhianatan dari dalam.

Pada masa pemerintahan Raja Jayanagara, kerajaan ini dihantam oleh berbagai pemberontakan besar. Meskipun tercatat ada dua pemberontakan utama pada era tersebut, yang paling populer dan meninggalkan jejak sejarah mendalam adalah tragedi Nambi dan kudeta Ra Kuti.

Siapakah Jayanagara?

Jayanagara (Bhatara Jayanagara) adalah raja kedua Kerajaan Majapahit yang berkuasa pada 1309–1328 M. Jayanagara juga memiliki nama lain, yaitu Kalagemet. Berdasarkan Kitab Desawarnana, Jayanagara dilantik menjadi penerus Dyah Wijaya pada tahun 1309 Masehi (1231 Saka).

Bukti sejarah tersebut dapat ditelusuri melalui dua saduran Kitab Desawarnana. Saduran pertama berasal dari Slamet Muljana:

Pada Pupuh 47–48 disebutkan tentang pelantikan Jayanagara: “Tersebut tahun Saka tujuh orang dan surya (1217 Saka) Baginda menobatkan puteranya di Kediri. Perwira, bijak, pandai, putera Indreswari. Bergelar Sang Raja Putera Jayanagara. Tahun Saka surya mengitari tiga bulan (1231 Saka) Sang Prabu mangkat, ditanam di dalam pura Antahpura, begitu nama makam beliau. Dan di makam Simping ditegakkan arca Siwa. Beliau meninggalkan Jayanagara sebagai raja Wilwatikta. Dan dua orang puteri keturunan Rajapatni, terlalu cantik. Bagai Dewi Ratih kembar, mengalahkan rupa semua bidadari. Yang sulung jadi rani di Jiwana, yang bungsu jadi rani di Daha.”

Jika kita mengecek saduran Mien Ahmad Rifai, hal ini dengan jelas dapat ditemukan pada silsilah Wangsa Rajasa:

“Pada tahun 1295 M, Sri Paduka (Dyah Wijaya) menobatkan Jayanagara, putra mahkota yang terlahir dari Putri Indreswari, sebagai raja muda di Kediri. Ketika mangkat pada tahun 1309 M, Sang Prabu (Dyah Wijaya) dimakamkan di Antahpura dalam lingkungan istana Majapahit. Selanjutnya, di Candi Simping beliau diarcakan sebagai Siwa yang menyatu dengan Wisnu. Sri Kertarajasa (Dyah Wijaya) meninggalkan Jayanagara sebagai penerusnya menjadi Raja Majapahit yang baru. Di samping itu, dua putrinya yang terlahir dari Rajapatni berturut-turut ditabalkan sebagai ratu yang disembah di Kahuripan dan Daha.”

Sri Jayanagara menurut Pararaton adalah gelar Raden Kalagemet setelah menjadi Raja Majapahit. Tetapi, menurut prasasti Kudadu, Sukamrta, Adan-adan, Balawai, dan Warunggahan, sejak kecil ia sudah bernama Sri Jayanagara.

Pararaton menyebut Sri Jayanagara adalah putra Dyah Wijaya yang lahir dari Dara Petak. Sementara itu, menurut prasasti Sukamrta, Adan-adan, Balawai, dan Warunggahan, ia lahir dari Dewi Tribhuwaneswari. Adapun menurut Desawarnana, ibu Jayanagara bernama Sri Indreswari. Di era Jayanagaralah berbagai pemberontakan besar terjadi, seperti pemberontakan Nambi dan Ra Kuti.

Pemberontakan Nambi (1316)

Dalam Pararaton, Kidung Panji Wijayakrama, maupun Kidung Sorandaka, dinyatakan bahwa Nambi adalah Patih Amangkubumi pertama. Menurut Pararaton dan Kidung Harsa Wijaya, Nambi adalah anak dari Arya Wiraraja. Namun, catatan Kidung Sorandaka menyebutkan bahwa Nambi adalah putra Pranaraja. Pranaraja merupakan pejabat yang sejak muda mengabdi di Tumapel hingga era Kertanagara. Setelah era Kertanagara berakhir dan Majapahit berdiri, Pranaraja mengabdi kepada raja pertama Majapahit, Dyah Wijaya. Dalam Prasasti Kudadu, nama Pranaraja tercantum sebagai Mantri ranamdhyariputrasakara paramasadhupapanna.

Perdebatan mengenai silsilah tokoh Majapahit ini bermula dari pandangan sejarawan Slamet Muljana, yang menyimpulkan bahwa ayah Nambi adalah Pranaraja Pu Sina berdasarkan Kidung Sorandaka dan Prasasti Sukamrta. Namun, pendapat ini dinilai janggal karena Rangga Lawe dan Nambi, yang saling bermusuhan, tidak mungkin memiliki garis pewaris wilayah Lumajang yang sama. Muncul dugaan bahwa keduanya bersaudara dari ayah yang sama, yakni Arya Wiraraja, meski dari ibu yang berbeda.

Teori Slamet Muljana akhirnya terpatahkan oleh Prasasti Adan-Adan (1301), yang menunjukkan bahwa Pu Sina masih hidup dan menjabat sebagai pejabat Majapahit ketika Nambi sudah tidak berada di sana. Dengan demikian, terbukti bahwa ayah Nambi yang wafat sekitar tahun 1300 adalah Arya Wiraraja—bukan Pu Sina—dan sepeninggalnya, wilayah Lumajang dipimpin oleh Nambi hingga tahun 1316.

Secara populer, pemberontakan Nambi (1316 M) merupakan tragedi politik akibat fitnah keji yang didalangi oleh seorang pejabat ambisius bernama Mahapati. Dalam narasi umum, Mahapati sering diidentifikasikan dengan Dyah Halayudha, meskipun terdapat pandangan lain bahwa Mahapati belum tentu merujuk kepada tokoh yang sama.

Peristiwa ini bermula ketika Mpu Nambi, yang saat itu menjabat sebagai Patih Amangkubumi Majapahit, meminta izin kepada Raja Jayanagara untuk meninggalkan ibu kota dan pulang ke Lumajang guna merawat ayahnya yang sakit keras hingga wafat. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Mahapati untuk menghasut raja dengan memfitnah bahwa Nambi enggan kembali ke ibu kota karena sedang menggalang kekuatan untuk membelot.

Termakan oleh hasutan tersebut, Jayanagara langsung mengirimkan pasukan besar Majapahit untuk menggempur Lumajang. Nambi yang terkejut dan tidak siap terpaksa mendirikan benteng pertahanan demi membela diri, namun ia beserta seluruh keluarganya akhirnya gugur dikeroyok pasukan kerajaan. Pasca-tragedi ini, Mahapati berhasil merebut jabatan patih yang ia incar, meskipun di kemudian hari kebohongannya terbongkar dan ia dieksekusi mati atas kelicikannya.

Rangkaian kisah tersebut juga dipertegas oleh penelitian Heru Effendy dalam buku Wijaya (2025). Disebutkan bahwa Mahapati—yang menginginkan posisi Nambi—mengadu domba antara Nambi dan Raja Jayanagara. Ketika Nambi sedang berkunjung ke tempat Arya Wiraraja di Lumajang, Mahapati menyebar kabar palsu di istana bahwa Nambi akan memberontak, sementara pihak Nambi dikabarkan bahwa Raja Jayanagara tidak berkenan lagi padanya dan berniat menghukumnya. Akibatnya, Nambi menyiapkan benteng dan pasukannya di Lumajang. Pasukan Nambi kalah, dan Nambi sekeluarga tewas dalam peristiwa tersebut pada tahun 1316 Masehi.

Selain dalam Kitab Pararaton, Mpu Prapanca juga mencatat kisah pemberontakan Nambi dalam Kitab Desawarnana pada tahun 1316 Masehi (1238 Saka). Dengan demikian, baik Pararaton maupun Desawarnana sama-sama mengisahkan gugurnya Nambi pada tahun yang sama. Meskipun begitu, terdapat perbedaan mengenai lokasi peristiwa.

Pararaton mengisahkan bahwa Nambi bertempur di Benteng Ganding, kemudian mundur ke selatan dan akhirnya gugur di Rabut Buhayabang. Sementara itu, Desawarnana menyebutkan Nambi bersama keluarganya gugur di Pajarakan (yang di era sekarang diduga menjadi bagian dari wilayah Kabupaten Lumajang).

Pemberontakan Ra Kuti (1319)

Pemberontakan Ra Kuti, atau yang dalam Pararaton sering disebut sebagai Peristiwa Badander, merupakan salah satu gejolak paling krusial di era pemerintahan Raja Jayanagara. Peristiwa yang juga dikenal sebagai Pemberontakan Dharmaputra ini disinyalir meletus akibat ketidakpuasan Ra Kuti terhadap gaya kepemimpinan sang raja. Ra Kuti sendiri adalah salah satu anggota Dharmaputra, sebuah kelompok elit beranggotakan tujuh orang—Ra Kuti, Ra Pangsa, Ra Wedeng, Ra Yuyu, Ra Tanca, Ra Banyak, dan Ra Semi—yang dikenal memiliki kedekatan khusus dengan Dyah Wijaya, pendiri Majapahit sekaligus ayah Jayanagara.

Benih-benih pergolakan dari kelompok Dharmaputra sebenarnya sudah terlihat sebelum Ra Kuti bertindak. Pararaton mencatat bahwa pada tahun 1318, Ra Semi sempat melancarkan pemberontakan terhadap Majapahit di daerah Lasem. Namun, pemberontakan berskala kecil itu berhasil ditumpas, dan Ra Semi dikisahkan tewas terbunuh di bawah pohon kapuk. Menariknya, catatan ini berbeda dengan naskah Kidung Sorandaka, yang menyebutkan bahwa Ra Semi justru tewas lebih dulu saat membela Nambi pada tahun 1316.

Terlepas dari perbedaan catatan tersebut, puncak ancaman terhadap Jayanagara benar-benar nyata pada tahun 1319. Ra Kuti bersama kelompoknya, yang memiliki jam terbang dan pengalaman tempur tinggi, secara mengejutkan berhasil menduduki istana Majapahit. Serangan ini begitu mematikan hingga Jayanagara terpaksa melarikan diri pada malam hari dengan menyamar. Heri Purwanto dalam bukunya Pararaton (2023) bahkan menyebut manuver Ra Kuti ini sebagai pemberontakan yang paling berbahaya sepanjang sejarah awal Majapahit, karena baru kali ini seorang raja sampai harus terbuang dari istananya sendiri.

Dalam pelarian yang mencekam itu, sejarah mencatat kemunculan pertama kali seorang tokoh besar Nusantara: Gajah Mada. Ia memimpin lima belas anggota Pasukan Bhayangkara untuk mengawal Jayanagara mengungsi ke sebuah desa bernama Badander. Lokasi pelarian ini cukup memakan waktu lama, dan kerahasiaannya dijaga dengan sangat ketat. Saking ketatnya, ketika ada seorang pengalasan (pejabat kerajaan) yang terus-menerus memaksa meminta izin pulang ke ibu kota Majapahit, Gajah Mada terpaksa membunuhnya demi mencegah bocornya tempat persembunyian sang raja.

Setelah menyusun berbagai siasat dan memastikan dukungan di ibu kota, Gajah Mada beserta pasukannya akhirnya berhasil membalikkan keadaan. Mereka menumpas habis pemberontakan Ra Kuti dan mengembalikan Jayanagara ke singgasana. Keberhasilan gemilang ini bukan sekadar mengakhiri krisis politik, melainkan menjadi batu loncatan penting yang kelak mengantarkan Gajah Mada pada jabatan Mahapatih—sosok yang akan membawa Majapahit menuju puncak masa keemasannya.

Hingga kini, letak pasti Desa Badander yang menjadi saksi bisu pelarian Jayanagara masih menjadi perdebatan. Terdapat beberapa dugaan lokasi, di antaranya Dusun Bedander di Desa Sumbergondang (Kabupaten Jombang); Desa Dander di Kecamatan Dander (Kabupaten Bojonegoro); atau Dusun Dander di Kelurahan Talun (Kabupaten Blitar).

Musuh dalam Selimut: Intrik Kekuasaan dari Majapahit hingga Indonesia

Ketidakstabilan internal Majapahit pada masa pemerintahan Raja Jayanagara—mulai dari fitnah Mahapati yang menewaskan Mpu Nambi (1316 M) hingga kudeta berdarah oleh Ra Kuti (1319 M)—membuktikan satu hukum besi sejarah: ancaman terbesar sebuah peradaban selalu lahir dari lingkaran kekuasaan terdekatnya, bukan dari kekuatan luar ataupun bayang-bayang intervensi asing.

Benang merah pengkhianatan ini terasa sangat relevan dengan situasi Indonesia hari ini. Di tengah dinamika transisi kepemimpinan, ancaman terhadap keutuhan bangsa seringkali bersumber dari praktik korupsi, politik adu domba, dan fitnah demi melanggengkan kekuasaan. Sebagaimana tabiat Mahapati di masa lalu, ambisi personal dan politik transaksional para elite modern terbukti secara konsisten merusak kepercayaan publik serta menggerogoti sendi-sendi utama negara.

Penulis: Ari Tri WinarnoEditor: Badiatul Muchlisin Asti

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.