Advertisement

apijiwa.id — Di era ketika segala hal bergerak serbacepat, layar gawai menyala tanpa henti, dan perhatian manusia terus terfragmentasi oleh notifikasi, keheningan telah menjelma menjadi kemewahan yang langka. Manusia modern kerap terjebak dalam pencarian kedamaian lahir dan batin. Namun, siapa sangka bahwa jawaban atas kegelisahan kontemporer ini telah diwariskan berabad-abad lalu oleh para leluhur tanah Jawa?

Jawabannya tidak ditemukan dalam aplikasi meditasi berbayar, apalagi kelas-kelas yang menawarkan sertifikasi. Jawaban itu justru tersimpan pada sebilah bambu yang melengkung bersahaja, seutas tali yang tegang, dan sebatang anak panah yang siap melesat. Itulah Jemparingan—seni panahan tradisional khas gaya Mataraman yang bukan sekadar olahraga fisik, melainkan sebuah laku batin untuk “mengolah rasa”.

Jemparingan dan Asal-usulnya

Secara resmi diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia, Jemparingan kini bukan lagi sekadar tradisi masa lalu yang berdebu di sudut keraton. Ia adalah manifestasi kebudayaan hidup yang berhasil melintasi batas waktu, menyapa generasi hari ini dengan relevansi nilai yang mengejutkan.

Jika panahan modern di ajang olimpiade menuntut atletnya berdiri tegak dengan perlengkapan futuristik dan membidik target menggunakan bantuan visir mekanis, Jemparingan justru menarik kita kembali pada kesederhanaan bumi.

Sebagai seni panahan tradisional khas Kerajaan Mataram Islam yang lahir sejak era Sri Sultan Hamengku Buwono I (1755–1792), Jemparingan awalnya didorong sebagai sarana membentuk watak kesatria bagi rakyat Yogyakarta. Hingga kini, tradisi ini terus lestari, tidak hanya di Yogyakarta dan Surakarta, tetapi juga merambah ke berbagai daerah lainnya.

Ada keunikan yang sangat kontras jika dibandingkan dengan panahan biasa. Jika umumnya memanah dilakukan sambil berdiri, Jemparingan justru dilakukan dalam posisi duduk bersila bagi pria atau bersimpuh bagi wanita, sambil mengenakan busana adat yang sarat nilai kultural. Posisi ini bukan tanpa makna, melainkan bagian dari laku batin untuk menyelaraskan raga dan pikiran.

Lebih dari sekadar olahraga, Sri Sultan Hamengku Buwono I mewariskan empat nilai luhur filosofis yang harus dipegang teguh oleh para pelakunya: Sawiji (berkonsentrasi penuh), Greget (memiliki semangat dan gairah), Sengguh (percaya diri tanpa sombong), serta Ora Mingkuh (memiliki tanggung jawab dan pantang lari dari tanggung jawab).

Dari Relief Candi hingga Epos Klasik

Sebelum tanah Jawa memasuki era Islam, teknik jemparing (memanah) sebenarnya sudah lama dikenal luas oleh masyarakat, terutama untuk keperluan berburu dan berperang. Jejak historis dan kultural ini terekam jelas dalam relief Candi Borobudur yang memvisualisasikan memanah sebagai sarana berburu.

Sementara itu, dalam epos Ramayana, Mahabharata, hingga teks-teks klasik seperti Kakawin Arjunawiwaha, panahan tidak sekadar diposisikan sebagai senjata perang, melainkan simbol kematangan spiritual seorang kesatria—menjadikannya sebuah analogi tertinggi dalam menempuh jalan batin.

Seiring bergulirnya waktu, ketika peradaban memasuki era Mataram Islam, teknik memanah tradisional ini mengalami penyempurnaan hingga dikenal sebagai jemparingan atau jemparingan Mataraman. Transformasi ini didorong oleh adanya upaya budaya yang disebut dengan Mataramisasi.

Salah satu ciri paling kentara dari Jemparingan gaya Mataraman adalah cara memegang busur (gendewa) secara horizontal atau mendatar. Teknik ini berbeda secara mendasar dari era Majapahit atau Mataram Kuno (Hindu-Buddha) yang memegang busur secara vertikal atau tegak lurus.

Seiring perkembangan zaman, Jemparingan gaya Mataram Ngayogyakarta terus hidup dan beradaptasi. Meskipun kini bermunculan berbagai variasi teknik dan bentuk sasaran, semuanya tetap berakar pada filosofi awal sebagai sarana latihan konsentrasi serta mempertahankan tradisi duduk bersila.

Bahkan, beberapa kelompok kini mengembangkan teknik membidik dengan bantuan mata, yang membuat posisi gendewa sedikit miring secara vertikal. Penyesuaian ini melahirkan bentuk gendewa baru yang dilengkapi lekukan (cengkolak) sebagai tempat menaruh anak panah, serta variasi pada bentuk bandulan (sasaran) seperti penambahan bagian hitam sepanjang satu sentimeter yang disebut bokong.

Di tengah berbagai dinamika modern tersebut, di lingkungan Keraton Yogyakarta sendiri, Jemparingan tetap rutin dilaksanakan sebagai warisan tradisi yang lestari hingga hari ini.

Nilai-Nilai Luhur dan Filosofi

Sehubungan dengan tujuan pembentukan watak sawiji tersebut, Jemparingan tampak sangat berbeda dengan cabang panahan modern yang berfokus pada kemampuan visual untuk membidik sasaran. Pemanah Jemparingan gaya Mataram tidak hanya memanah dalam posisi duduk bersila, tetapi juga tidak menggunakan mata untuk membidik. Busur diposisikan mendatar di hadapan perut, sehingga arah lesatan anak panah benar-benar disandarkan pada intuisi, rasa, dan kepekaan batin pelakunya.

Gaya memanah ini sejalan dengan filosofi utama Jemparingan; “Pamenthanging gandewa pamanthenging cipta”. Ungkapan ini bermakna bahwa membentangnya busur seirama dengan ketunggalan konsentrasi yang ditujukan pada sasaran.

Dalam ranah kehidupan sehari-hari, filosofi tersebut membawa pesan moral yang dalam—bahwa manusia yang memiliki cita-cita hendaknya mencurahkan fokus dan konsentrasi penuh agar tujuannya dapat terwujud.

Rif’an Muk’adzin dalam Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia (2024) mencatat bahwa selain berfungsi sebagai olahraga fisik, Jemparingan merupakan sarana olah rasa yang ampuh melatih ketenangan dan ketepatan. Karakter para pelakunya pun lazimnya terbangun menjadi pribadi yang lebih tenang, sabar, dan memiliki fokus yang tajam.

Secara lebih luas, latihan Jemparingan memberikan banyak sekali manfaat positif bagi fisik maupun mental. Dari aspek mental dan emosional, praktik ini ampuh meningkatkan rasa percaya diri, menambah keberanian, melatih kesabaran, meredam serta mengelola emosi, sekaligus membiasakan diri untuk selalu berpikir positif. Sementara itu, dari aspek kognitif, Jemparingan turut mengasah ketajaman daya tangkap, kecerdasan, dan melatih konsistensi diri. Tidak ketinggalan, manfaat kebugaran fisiknya juga terasa nyata—mulai dari menjaga kesehatan jantung, melenturkan otot-otot tangan, meningkatkan daya tahan tubuh, hingga melatih keseimbangan raga.

Melalui laku Jemparingan, seseorang tidak sekadar menguasai teknik fisik semata, melainkan merawat kesabaran dan keteguhan jiwa. Praktik ini berpadu selaras dengan pandangan hidup masyarakat Jawa yang senantiasa mengutamakan harmoni serta kedamaian batin.

Sebagai wujud pengakuan atas keluhuran nilainya, olahraga tradisional ini resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 21 Februari 2024. Lebih dari sekadar olahraga, Jemparingan telah bertransformasi menjadi ruang pembelajaran hidup yang merawat nilai-nilai adiluhung warisan leluhur.

Penulis: Ari Tri WinarnoEditor: Redaksi Apijiwa.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *