Advertisement

apijiwa.id – Dunia bisnis seringkali dipenuhi oleh narasi tentang modal besar dan ijazah mentereng dari universitas ternama. Namun, kisah Nurul Atik menghancurkan stigma tersebut berkeping-keping. Ia yang awalnya hanya seorang pria yang memulai kariernya dengan memegang sapu, bergelut dengan aroma pembersih lantai, dan memeras kain pel sebagai cleaning service, kini berdiri tegak sebagai pemilik imperium bisnis dengan lebih dari 1.030 gerai yang tersebar hingga ke pelosok Nusantara.

Nurul Atik bukan lahir dengan sendok perak di mulutnya. Sebagai putra seorang buruh tani dan tukang batu, ia harus mengubur mimpinya untuk sekolah tinggi demi menyambung hidup keluarga. Namun, kegigihannya membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah tembok, melainkan kawah candradimuka. Ada sejumlah rahasia di balik kesuksesan fenomenal Rocket Chicken yang mampu mencatatkan omzet triliunan rupiah dari tangan dingin seorang mantan petugas kebersihan.

Perjalanan Nurul Atik dimulai pada tahun 1986 ketika ia diterima bekerja sebagai cleaning service di California Fried Chicken (CFC) Semarang. Saat itu, ia hanya mengantongi gaji Rp35.000 per bulan. Di tengah uap panas dapur dan aroma minyak goreng, ia harus memutar otak agar angka minim itu cukup untuk biaya kos, makan, dan transportasi.

Masa-masa ini membentuk mentalitas bajanya. Dedikasinya bukan sekadar kata-kata; demi menghemat uang transportasi, Nurul seringkali memilih untuk berjalan kaki menuju tempat kerja, membiarkan telapak kakinya menebal demi beberapa keping rupiah yang bisa disimpan.

Penghematan ekstrem dan disiplin diri yang ia pupuk di tengah kelelahan fisik inilah yang menjadi fondasi karakter wirausahanya: tidak manja, tahan banting, dan sangat menghargai setiap tetes keringat dalam bekerja.

Naik Kelas di “Universitas Lapangan”

Banyak orang merasa kariernya akan terhenti jika tidak memiliki gelar sarjana. Nurul Atik merasakan “langit-langit kaca” itu secara nyata. Selama 10 tahun berkarier di industri cepat saji, ia menunjukkan progres luar biasa: dari tukang cuci piring, tukang masak, kasir, supervisor, hingga manajer area. Namun, ia menyadari bahwa posisinya akan “mentok” karena pendidikan formalnya yang hanya lulusan SMA tidak memungkinkan dirinya naik menjadi Regional Manager.

Baginya, lapangan kerja adalah universitas terbaik. Ia tidak hanya bekerja, tetapi “mencuri” ilmu manajemen secara total. Ia mempelajari setiap detail Standard Operating Procedure (SOP) dari perspektif praktis—seorang yang tahu persis bagaimana rasanya mencuci piring kotor tentu akan menciptakan SOP dapur yang lebih efisien.

Keterbatasan ijazah justru memaksanya untuk menjadi lebih unggul dalam penguasaan teknis dan operasional restoran dibandingkan mereka yang hanya belajar dari buku teks.

Setelah mengundurkan diri dari posisi Direktur di Quick Chicken—tempat kerja Nurul Atik setelah dari CFC, karena perbedaan visi, Nurul tidak langsung melesat. Ia sempat melewati masa sulit selama dua tahun dengan berjualan gorengan, tahu sumedang, hingga pecel lele di pinggir jalanan Yogyakarta. Pengalaman “turun ke aspal” ini kembali menguji kerendahhatiannya.

Nama “Rocket Chicken” sendiri lahir dari sebuah perenungan sederhana di dalam bathtub kamar mandi. Sebelum nama ini muncul, ia sempat mengusulkan nama “Royal”, namun ditolak keponakannya karena berkonotasi negatif. Ia lalu mengusulkan “Riyal”, namun sang kakak menolak mentah-mentah karena terdengar seperti “rel” kereta api yang diinjak-injak orang.

Di tengah gemericik air, ia teringat pesan bahwa sebuah brand harus mudah diingat. Muncullah nama “Rocket” yang melambangkan kecepatan dan daya luncur ke atas.

“Rocket kalau bahan bakar enggak habis enggak akan turun, bahan bakarnya SDM sebanyak mungkin, ciptakan lapangan kerja, bikin teamwork yang baik insyaallah bisa berjalan.”

Integritas dan Menolak Tawaran Konglomerat

Satu hal yang membuat Nurul Atik seorang jenius strategi adalah keberaniannya untuk tidak beradu otot langsung dengan “para gajah” atau raksasa dunia seperti KFC atau McDonald’s. Ia sengaja menyasar kelas menengah ke bawah, mahasiswa, hingga pelosok desa yang diabaikan oleh waralaba besar. Ia mengisi celah (gap) yang ditinggalkan oleh para pemain global.

Ia menerapkan aturan ketat seperti jarak minimal 3 km antargerai untuk melindungi sesama mitra dan biaya investasi yang terjangkau—sekitar Rp300 juta di luar lokasi. Strategi harga yang murah namun tetap menjaga kualitas rasa terbukti sangat ampuh.

Hasilnya, hanya dalam setahun pertama (2010-2011), Rocket Chicken berhasil melakukan ekspansi hingga 100 cabang. Keberaniannya meninggalkan zona nyaman sebagai direktur dengan gaji Rp15 juta kala itu terbayar lunas oleh kemandirian bisnisnya.

Seiring dengan melejitnya Rocket Chicken, daya tariknya memikat para pemain besar. Merek ini bahkan pernah ditawar oleh konglomerat besar Antony Salim. Namun, dengan penuh integritas, Nurul Atik menolak tawaran tersebut. Ia tidak ingin melihat bisnisnya hanya dikuasai satu tangan besar; ia ingin bisnis ini dimiliki oleh banyak orang kecil melalui sistem kemitraan.

Visi kemanusiaannya jauh melampaui sekadar tumpukan angka. Ia ingin terus menciptakan lapangan kerja massal. Konsistensi ini membuahkan hasil fantastis. Hingga tahun 2025, Rocket Chicken mencatatkan omzet mencapai Rp1,2 triliun per tahun.

Yang paling membanggakan bagi Nurul bukanlah angka triliunannya, melainkan fakta bahwa ia kini mempekerjakan lebih dari 13.000 karyawan, yang mayoritas adalah lulusan SMA—memberikan mereka kesempatan yang sama seperti yang ia perjuangkan dulu.

Siapa Tekun Pasti Tekan

Kisah Nurul Atik adalah pengingat bahwa modal utama dalam membangun bisnis bukanlah tumpukan uang di bank, melainkan perpaduan antara mentalitas pemenang, penguasaan ilmu lapangan, dan tim yang solid. Ia memegang teguh prinsip “Siapa tekun pasti tekan”—sebuah pepatah Jawa yang berarti siapa yang tekun pasti akan sampai pada tujuannya.

Kisah perjalanan seorang petugas kebersihan yang dahulu berjalan kaki ke tempat kerja hingga berhasil menjadi triliuner membuktikan bahwa kesuksesan tidak mengenal batasan bagi siapa pun yang berani bermimpi dan bekerja ekstra keras. Keberhasilannya membangun imperium bisnis dengan lebih dari 1.000 gerai menjadi pengingat kuat bahwa tidak ada alasan lagi bagi siapa pun untuk menunda langkah dalam mengejar ambisi besar mereka.

Facebook Comments Box

Penulis: Badiatul Muchlisin AstiEditor: Badiatul Muchlisin Asti

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.