Advertisement

apijiwa.id – Banyak yang berpendapat bahwa Kerajaan Mataram Kuno yang didirikan oleh Maharaja Sanjaya meninggalkan warisan percandian dengan nilai kultural yang luar biasa. Tak sedikit pula asumsi yang menyebutkan bahwa sebelum pusat kekuasaan pindah ke Jawa Timur, Jawa Tengah adalah pusat spiritualitas yang dibalut kemegahan bangunan suci, seperti Candi Plaosan, Prambanan, dan Borobudur.

Niken Wirasanti dalam bukunya Candi dan Lingkungan (2023) mencatat deretan candi peninggalan Mataram Kuno era Jawa Tengah. Dua di antaranya terletak di lereng Gunung Merapi, yaitu Candi Lumbung dan Candi Asu Sengi. Menariknya, tersiar kabar bahwa Candi Lumbung bisa “berpindah tempat” dari lokasi asalnya. Apakah ini berkaitan dengan kesaktian leluhur Jawa Kuno, ataukah candi ini telah diberi mantra gaib agar bisa bergeser?

Didorong rasa penasaran, pada akhir Maret 2026, saya bergegas ke Magelang. Saya ingin menelisik langsung kebenaran di balik kekuatan gaib Candi Lumbung tersebut, sekaligus mencari tahu mengapa ada candi yang menyandang nama hewan.

Candi Lumbung

Candi Lumbung sebenarnya merupakan bagian dari kompleks yang juga mencakup Candi Asu dan Candi Pendem. Namun, dalam catatan perjalanan kali ini, saya hanya akan fokus pada dua nama pertama: Candi Lumbung dan Candi Asu. Keduanya terletak di Dusun Candi Pos, Desa Sengi, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, tepatnya di lereng barat Gunung Merapi yang gagah.

Candi Lumbung berdiri di tengah area pertanian yang subur. Setelah menelisik data lebih dalam, misteri mengenai candi yang “berpindah tempat dengan kekuatan gaib” itu pun mulai terjawab. Secara historis, Candi Lumbung adalah peninggalan Kerajaan Mataram Kuno yang semula berdiri di tepi Sungai Apu, Dusun Tlatar.

Namun pada tahun 2010, Balai Pelestarian Cagar Budaya (kini Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X) mengambil langkah penyelamatan. Candi ini dipindahkan sementara ke tepi jalan menuju Ketep Pass, sekitar 500 meter dari lokasi awal. Alasan di baliknya sangat logis sekaligus mendebarkan: tanah tumpuannya hanya tersisa satu meter dari bibir tebing setinggi 7 meter yang terancam longsor. Jika dibiarkan, bangunan suci ini bisa runtuh dan batu-batunya tersapu aliran lahar dingin Merapi.

Penulis di depan Candi Lumbung. (Ari Tri Winarno)

Secara fisik, Candi Lumbung memiliki tinggi 7,2 meter dengan luas bangunan 64,6 meter persegi. Sayangnya, bagian puncaknya telah runtuh dan banyak batu aslinya yang hilang. Yang tersisa kini hanyalah bagian tengah dan dasar candi yang tak lagi utuh. Arca dan ornamen hiasannya pun banyak yang sudah tidak di tempat. Sisa-sisa batu candi kini tampak tertumpuk rapi di pelatarannya.

Dari lokasi transit di Dusun Tlatar, pihak berwenang akhirnya memindahkan kembali Candi Lumbung ke Dusun Candi Pos, Desa Sengi. Lokasi baru ini merupakan tanah milik Pemerintah Desa Sengi, berbeda dengan lokasi sebelumnya yang berstatus tanah sewa. Di sinilah akhirnya Candi Lumbung “bertetangga” dengan Candi Asu. Proses pemindahan besar-besaran ini dikerjakan oleh para juru pugar ahli dengan bantuan warga sekitar.

“Oalah… ternyata pindahnya karena memang dipindahkan secara fisik, bukan karena ilmu teleportasi atau melayang,” gumam saya dalam hati sambil tersenyum kecut.

Candi Lumbung memiliki karakteristik gaya Jawa Tengahan yang kental dengan penggunaan material batu andesit. Meski bagian atapnya kini tak lagi utuh, keunikan candi ini tetap terpancar dari detail ukirannya. Bagian alas yang bertingkat tiga dihiasi oleh motif bunga, tumbuhan, hingga burung yang tersusun dalam bentuk bulatan (medallion).

Sebagai candi beraliran Hindu Siwa, pengunjung dapat menjumpai pahatan Gana (pasukan Dewa Siwa) serta hiasan Makara—makhluk air mitologi—yang menjaga bagian tangga. Kehadiran simbol pohon Kalpataru dan guci harta memperkuat dugaan bahwa relung-relung candi yang kini kosong dulunya merupakan “rumah” bagi arca-arca penting seperti Durga, Ganesha, dan Agastya.

Di samping bangunan utama, saya juga melihat tumpukan bebatuan candi lainnya yang berserakan. Berdasarkan catatan dalam buku “Rapporten van den Oudheidkundigen Dienst in Nederlandsch-Indie” (1914), candi ini dulunya memiliki arca Ganesha dan dua buah lingga. Sayangnya, jejak arca dan lingga tersebut kini telah hilang dari kompleks Candi Lumbung.

Candi Asu

Hanya beberapa langkah dari Candi Lumbung, berdiri sebuah bangunan unik bernama Candi Asu atau Candi Asu Sengi. Ada kisah menarik yang beredar dalam tradisi lisan masyarakat setempat mengenai asal-usul namanya. Konon, dahulu ada seorang perempuan kaya raya bernama Dewi Ndani yang gemar berselingkuh. Akibat perbuatan asusilanya, ia dikutuk menjadi seekor anjing (asu dalam bahasa Jawa) di candi tersebut.

Memang, tradisi lisan bukanlah sumber primer sejarah, namun bagi saya, kisah semacam ini adalah “pemanis” yang membuat narasi sejarah tidak terasa kaku. Tentu ini pendapat pribadi saya—kalau pembaca punya pandangan berbeda, itu sah-sah saja.

Secara ilmiah, Edi Sedyawati dkk dalam buku Candi Indonesia Seri Jawa (2013) memaparkan alasan yang lebih logis. Sebutan “Asu” muncul karena saat pertama kali ditemukan, terdapat arca Nandi (lembu kendaraan Dewa Siwa) yang kondisinya sudah sangat aus dan rusak. Bentuknya yang tidak lagi jelas membuat warga mengiranya sebagai anjing dan kemudian mengaitkannya dengan legenda Dewi Ndani. Selain itu, ada pendapat lain yang lebih halus: nama tersebut mungkin berasal dari kata ngaso, yang berarti tempat beristirahat.

Candi Asu Sengi berdiri anggun di tengah lahan pertanian warga Desa Sengi, dikelilingi pagar alami yang tertata rapi. Bangunan Hindu berbentuk bujur sangkar dengan lebar sekitar 7,9 meter ini kini hanya menyisakan bagian kaki dan tubuhnya saja; atapnya telah runtuh dimakan usia.

Untuk mencapai bagian badan candi, kita harus menaiki tangga setinggi 2,5 meter yang dihiasi makara, meski pahatannya tampak belum selesai. Di dinding kakinya, terdapat aneka ornamen indah yang masih bisa dinikmati. Meski bagian atasnya tidak utuh, terdapat selasar selebar 69 cm yang mengelilingi tubuh candi.

Di sisi utara, masih terlihat jelas bekas relung yang dulunya merupakan tempat arca. Salah satu keunikan utama candi ini adalah keberadaan sumuran di bagian tengah dengan kedalaman mencapai 4 meter—lebih dalam daripada tinggi tubuh candinya sendiri yang hanya 3,35 meter.

Bebatuan di samping Candi Lumbung. (Ari Tri Winarno)

Kapan Candi Lumbung dan Candi Asu Dibangun?

Hingga kini, belum ada kepastian mutlak mengenai kapan tepatnya kompleks percandian Sengi ini dibangun. Namun, dugaan populer menyebutkan bahwa candi-candi ini didirikan pada era Mataram Kuno sekitar abad ke-9 Masehi.

Dugaan ini diperkuat oleh temuan prasasti di sekitar lokasi, seperti Prasasti Kurambitan (869 M) dan Prasasti Sri Manggala II (876 M). Kedua prasasti tersebut mencatat tentang tokoh bernama Mpu Apus yang menerima perintah raja untuk menetapkan wilayah Kurambitan dan Sri Manggala sebagai Sima—yakni tanah bebas pajak yang diperuntukkan bagi pembangunan tempat ibadah atau fasilitas umum.

Jika menilik angka tahunnya, pada periode tersebut Mataram Kuno sedang dipimpin oleh Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala, putra bungsu dari Rakai Pikatan Dyah Saladu. Mengutip buku Rahasia Nusantara (2024) karya Asisi Suhariyanto, tercatat bahwa Rakai Pikatan bertakhta pada tahun 847–855 M, sementara Rakai Kayuwangi memimpin pada 855–885 M. Dengan demikian, besar kemungkinan pembangunan kompleks candi ini dilakukan pada masa pemerintahan Rakai Kayuwangi.

Pesan dari Lereng Merapi

Perjalanan ke Candi Lumbung dan Candi Asu mengajarkan kita bahwa menjaga warisan berharga—baik itu bangunan suci maupun kehormatan diri—membutuhkan kesadaran dan aksi nyata. Fenomena Candi Lumbung yang “berpindah tempat” membuktikan bahwa sejarah tidak selamat karena keajaiban gaib semata, melainkan berkat kepedulian manusia yang memindahkannya demi menghindari ancaman lahar Merapi.

Pelajaran tentang menjaga diri juga tersirat kuat dalam tradisi lisan Dewi Ndani. Kisahnya menjadi pengingat agar kita selalu menjaga integritas dan tidak membiarkan nilai-nilai kebaikan dalam diri menjadi “aus”, layaknya arca Nandi yang rusak dimakan zaman.

Akhirnya, warisan Mataram Kuno di lereng gunung api ini berpesan agar kita tidak mudah menghakimi sesuatu hanya dari tampilan luar atau kabar burung. Teruslah berupaya menjadi pribadi yang bermanfaat dan jujur, agar jejak hidup kita tetap lestari bagi generasi mendatang.

Facebook Comments Box

Penulis: Ari Tri WinarnoEditor: Badiatul Muchlisin Asti

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.